
Maaf yaa, author ngga up dua hari. Sibuk di dunia nyata wkwk..
Hari ini crazy up ya 5 eps tungguin aja kelanjutannya.. Happy reading dear :)
Jangan lupa likenya, author ngga menutup diri kalau ada saran yang mau disampaikan tulis aja di komentar yaa, author terima dengan senang hati :)
*-*-*-*-*-*-*-*-*
Kurang lebih 35 menit, Rega dan Titian sampai di gerbang komplek perumahan Titian.
"Sampe sini aja! " sergah Titian saat Rega hendak membelokkan sepedanya masuk ke gerbang komplek. Tapi Rega tidak menghiraukan Titian, dia tetap mengayuh sepedanya.
"Yang mana rumahmu?" tanya Rega saat melihat deretan rumah mewah berjejer rapi.
"Itu di depan, yang warna purple" jawab Titian.
Rega berhenti di depan sebuah rumah mewah bernuansa klasik dengan warna purple menghiasi temboknya.
"Masuk dulu" ucap Titian ragu.
"Boleh" sahut Rega datar seperti biasa.
Titian mengangguk dan berjalan terlebih dahulu, sampai di halaman rumah Titian melihat pintu rumahnya sedikit terbuka, ia mulai merasakan wajahnya memanas serta air mata yang mulai menggenang di pelupuk.
Dengan cepat Titian menghambur kedalam, air matanya tumpah ruah seketika saat melihat kedua orangtuanya tengah duduk di sofa dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Tian!" teriak Sindy kemudian berlari menghampiri anaknya.
"Ibu!"
Hiks hiks... Keduanya berpelukan sangat erat tanpa mau melepaskan.
"Sayang kamu darimana saja? Ibu sangat khawatir!" ucap Sindy dengan air mata yang berderai dipipi layaknya bendungan yang jebol.
"Ibu" Titian tak bisa berkata-kata saat pikirannya meningat kejadian hari itu, entah apa yang terjadi padanya tapi ia merasa bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja.
"Tian!" teriak Irpan yang tak kalah syok dari Sindy.
"Ayah"...hiks hiks..
Titian kemudian mengurai pelukan pada keduanya, menumpahkan segala kekhawatiran di benaknya lewat air mata.
"Apa yang terjadi nak?" tanya Irpan..
"Kamu apakan anak saya hah?"...
Bariton keras Irpan memenuhi seisi rumah, memekakkan telinga Rega yang berada tepat di depannya. Irpan mengangkat kerah baju Rega dengan emosi sampai sang empunya berjinjit untuk menahan agar tidak tercekik.
"Saya-saya..." Rega tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya mengantarkan Titian pulang tidak lebih.
"Yah hentikan, turunkan dia!" kata Titian menarik-narik tangan ayahnya.
"Jawab!" pekik Irpan kemudian tanpa menghiraukan Titian.
__ADS_1
"Sa-"..
"Ayah. Dia tidak bersalah, dia hanya mengantarku pulang! "...
Dengan sorot mata yang masih menunjukkan kemarahan, Irpan melepaskan tangannya dari baju Rega dengan kasar.
"Siapa yang membuatmu jadi seperti ini nak? Apa anak kurang ajar itu? Kenapa kau masih berhubungan dengannya? Bukankah sudah ayah bilang dia tidak pantas untukmu! " rentetan pertanyaan yang dikeluarkan Irpan membuat Titian semakin menangis, dia sendiripun tidak menyangka Andri akan melakukan ini padanya.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, sekeras apapun Titian menangisi nasibnya. Ia tidak akan bisa kembali seperti dulu.
"Ayo kita duduk dulu" ucap Sindy, suara lembutnya menenangkan semua pihak yang tengah dilanda perasaan campur aduk disana. Termasuk Rega.
"Ayo nak, kamu juga duduk. Kemarilah" ajak Sindy.
Rega menghela nafas kemudian membenarkan bajunya yang sedikit berantakan tadi dan segera menyusul Titian dan keluarganya yang berjalan lebih dulu menuju ruang keluarga.
"Tutup pintunya!" teriak Irpan..
Rega yang baru saja berjalan beberapa langkah, dengan sedikit berat hati memutar kembali badannya untuk menutup pintu.
Apa salahku. Kenapa ayahnya begitu marah padaku. Pikir Rega.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.