
"Aaaaa... "
Ratu menyuapkan sesendok nasi beserta lauk pauk ke mulut Titian dan disambut hangat oleh Titian.
Ratupun menyuap makanannya sendiri dengan sendok bekas Titian tanpa rasa ragu sedikitpun.
Terus saja begitu sampai Ratu mengeluarkan suaranya dan kembali mengelus perut Titian.
"Kesayangan aunti harus makan yang banyak yaa. Biar mamanya sehat dan ponakan aunti juga tumbuh dengan baik" ucap Ratu gemas dengan perut Titian yang mulai membuncit.
"Makasih ya" ucap Titian pelan, dengan tatapan lekat pada Ratu.
Pandangan teduh itu, mengingatkan Ratu pada sosok Titian yang dulu periang, jarang menangis dan sangat senang bergaul. Kini semuanya tak nampak lagi, hanya ingatan yang merekam semuanya.
"Makasih buat?" tanya Ratu dan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Makasih buat semuanya, lo selalu ada disaat gue lagi kesusahan. Disaat semua orang menghujam gue dengan kata-katanya, lo ngga surut dan terus nyemangatin gue. Sorry juga buat beberapa bulan yang lalu, gue pernah nyalahin lo"
"Tian, santai aja kali kayak orang lain aja. Yang di kantin? Lagian gue ngga merasa disalahin. Waktu itu gue cuma takut Andri bosen terus ninggalin lo sama cewe lain. Karena gue pernah liat Andri sama cewe lain di luar sekolah. Kalo gue tau Andri temennya Galih udah gue suruh putus lo sama dia daridulu" kata Ratu kesal dan kembali menyuapi Titian dengan porsi besar "Aaa.. " ucap Ratu.
"Yaudah ngga usah bahas ******** itu lagi. Ngga penting juga dia sama siapa. Lagian sekarang dia entah kemana, gue harap dia udah ditelan bumi. Ayah gue udah nyari dia kemana-mana tapi sampe sekarang belum ketemu juga" kata Titian. Kemudian dia tertunduk dan beralih menatap perut rata Ratu.
"Bukannya lo udah sering ngelakuin hubungan intim sama Galih, ko bisa ngga hamil?" tanya Titian heran dan meraba perut Ratu sambil membandingkan dengan perutnya.
__ADS_1
"Gue minum pil kontrasepsi sebulan sekali. Gue ngga mau nanggung resiko kalau harus hamil saat gue bahkan belum lulus SMA. Apalagi gue ngga tau Galih bakalan tanggung jawab sama gue dan anak-anak gue atau ngga" kata Ratu lirih, ada sedikit kekecewaan yang tersirat di wajah cantiknya. Tapi buru-buru dia mengembangkan senyum saat Titian mulai terlihat iba padanya.
"Apaan sih, ko jadi ngebahas gue, sekarang yang penting lo dan dede bayi dalam kandungan lo ini sehat" ucap Ratu sambil tersenyum "Ngga kurus krempeng gini, nanti ngga dapet ayah ganteng ya de" sambungnya seraya seakan bermain mengobrol dengan bayi dalam kandungan Titian.
"Iya aunti bawel" ujar Titian menirukan suara anak kecil, yang sukses membuat keduanya tergelak bersamaan.
*-*-*-*-*-*-*
Disisi lain
"Hemm hemm hem hem hemm..... "
Mario terus mengalunkan sebuah nada yang hanya berbunyi hemm hemm sambil melenggang masuk ke rumahnya. Sampai saat kakinya menginjak anak tangga kelima, suara keras milik seorang perempuan memekakkan telinganya.
"Mario!!" teriak wanita paruh baya yang sepertinya baru selesai mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar.
Lussi. Perempuan yang diketahui adalah mamanya Mario itu menghampiri Mario dengan wajah kesal, dia berkacak pinggang dan rahangnya meninggi.
"Darimana saja kamu anak nakal?!" pekiknya seraya menjewer telinga Mario dengan tangan kanan sampai Mario meringis kesakitan.
"Aaah ahahah sakit maah" rengek Mario dan memegangi tangan mamanya yang sedang menjewer telinganya.
"Kenapa kamu pergi dari sekolah hah?" tanya Lussi tanpa melepaskan jewerannya.
__ADS_1
"Ampun ma ampun. Aku bisa jelasin" rengek Mario lagi, kali ini lebih drama.
"Apa yang mau kamu jelasin?" tanya Lussi.
"Tante mohon, jangan bilang ini sama siapapun ya"
Tiba-tiba Mario teringat amanah Sinta agar tak mengatakan tentang keluarganya.
Kalau gue bilang, gue pergi karena Rega ketemu kaka tirinya, mama pasti makin kepo. Batin Mario.
Karena tak kunjung ada jawaban dari Mario, Lussi mengeraskan jewerannya sampai memutar telinga Mario.
"Aaaah iya iya mama, makanya lepasin dulu. Sakit" rengek Mario, lagi.
Lussi melepaskan tangannya dari Mario dan kembali menatap lekat putra semata wayangnya itu. Kemudian Mario hendak melarikan diri dari Lussi dengan kaki yang sudah menapaki anak tangga ke enam, tapi gerakan tangan Lussi lebih cepat menahan tas Mario yang otomatis membuat Mario terhenti dan tidak bisa melarikan diri.
"Mau kemana kamu? Kamu masih hutang penjelasan sama mama" ucap Lussi penuh penekanan.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.