
Untuk beberapa saat dia memang mengikutiku di belakang, tapi selang berapa lama dia sudah mensejajariku bahkan mendahuluiku, tanpa menghiraukan perempuan yang sedang berjalan tengah malam sendirian, dia terus melangkah di depanku dan tidak menoleh sekalipun.
Aku celingukan melihat sekeliling, kenapa suasananya jadi semakin mencekam begini. Aku bergidik merasakan hawa dingin yang menerpa tubuhku, apalagi dengan pakaian yang sedikit terbuka membuat bulu kudukku berdiri.
"Tunggu!" dengan cepat aku berlari mengejar pria itu dan mensejajarinya. Seolah dia menganggap aku hanya angin lalu, dia tidak bicara atau bahkan menoleh sedikit saja padaku.
"Kenalin gue Titian"
Aku menyapanya sambil mengulurkan tangan agar tidak terasa canggung diantara kami. Dia hanya menatap tanganku sekilas tapi tidak menjabatnya dan kembali menatap lurus ke depan.
"Oh, yaudah kalo ga-"
"Rega" katanya memotong ucapanku dengan datar.
Aku tersenyum lalu mengangguk pelan "em" lirihku. "Lo sekolah dimana? "
"BIMA SAKTI" jawabnya, datar seperti tadi.
Setelah itu hanya keheningan yang menyapa diantara kami. Tapi saat langkah kami memasuki area bebas kendaraan dia mulai mengeluarkan suaranya
"Seorang perempuan dengan pakaian terbuka diluar malam-malam begini apa yang dia lakukan"
"Hah? Lo bilang sesuatu?" aku mendongak menatapnya yang lebih tinggi dariku, karena suaranya tidak jelas aku mencoba memastikan apakah dia mengatakan sesuatu tadi.
__ADS_1
"Apa yang dilakukan perempuan tengah malam sendirian dengan pakaian sepertimu?" katanya.
Jleb. Pertanyaannya seolah menghujam jantungku, aku tidak mengira kalau dia akan berpikir begitu. Dia pasti berpikir aku sudah berbuat mesum kemudian ditinggalkan hanya karena pakaianku yang sedikit terbuka.
"Lo jangan mikir yang aneh-aneh ya. Kejadiannya ngga kek gitu" sergahku dengan sedikit kesal.
"Gue ngga mikir apa-apa. Lo nya aja yang negatif thinking"
Aku terperangah mendengar jawabannya, baru kali ini ada lelaki modelannya kek dia, bukannya secara tidak langsung dia juga berpikiran negatif tentangku tadi.
"Tapi secara ngga langsung lo juga mikir negatif tentang gue tadi. Kalo ngga kenapa pertanyaan lo sensitif banget? "
"Otak lu tuh yang sensitif" katanya, kemudian berjalan lebih cepat mendahuluiku.
----
Rega pov.
Aku menggeliat merasakan sinar matahari pagi yang menelusup melalui ventilasi kamarku yang bernuansa putih abu. Sesekali aku mengerjapkan mataku dan terduduk diranjang mengumpulkan sisa tenaga yang kupunya.
Aku melirik jam weker motif mobil sport yang pernah dibelikan ayah waktu aku masih kelas 5 SD. Bayangan dimana ayah mengusirku dan ibu dari mansion demi perempuan lain dimasalalunya meninggalkan luka yang membekas terlalu dalam dihidupku. Jam berputar dengan cepat, rasanya aku baru tidur sekitar 4 jam semalam sekarang sudah pukul 07.24. Aku menghela nafas kasar, turun dari ranjang dan menghirup udara segar dari balkon kamarku.
Ini hari libur, hari ini aku bisa mendapatkan uang lebih dari kerja part timeku, lumayanlah sekedar untuk kebutuhanku sehari-hari. Meski tidak dipungkiri ibu selalu memberiku uang jajan setiap bulan, tapi aku juga harus belajar mandiri.
__ADS_1
Ibu memiliki cafe yang sudah terbagi menjadi 4 cabang di empat kota yang berbeda. Ibuku bernama Sinta Fauziah, beliau sosok perempuan paling baik dihidupku, orang yang selalu membelaku saat semua orang dirumah ayah memakiku, dan orang paling berjasa dalam menghidupiku. Aku sangat menyayangi beliau lebih dari diriku sendiri.
"Bu, aku berangkat dulu ya" ucapku seraya menyalami ibu yang masih duduk di meja makan.
"Sayang, kamu ngga mau pertimbangkan dulu ucapan ibu yang kemaren, kalo kamu ngga mau ngurus cabang yang di Medan, kamu bisa ngurus cabang yang di Surabaya atau Bandung. Daripada harus kerja sampe larut malem tiap hari" kata ibu dengan tatapan penuh iba.
"Aku pikir-pikir dulu ya bu, kalaupun mau mungkin nanti setelah lulus sekolah"
Ibu tersenyum mendengar jawabanku. Senyum itu yang selalu membuatku semangat untuk menjalani hari-hariku.
"Yaudah. Ibu terima apapun keputusan kamu" katanya dan mengelus puncak kepalaku pelan.
"Yaudah, aku berangkat dulu"
Aku berlalu meninggalkan rumah menggunakan sepeda, karena jarak dari rumah ke tempat kerjaku lumayan jauh. Biasanya aku pergi dari sekolah ke tempat kerja pukul 15.45 sepulang sekolah, dan pulang ke rumah pukul 21.00
-
-
-
-
__ADS_1
tbc.