
#Beberapa bulan kemudian
Di belahan kota lainnya, di sebuah rumah sakit besar seorang ibu tengah berjuang melahirkan bayinya..
"Tarik nafas, buang"
"Tarik nafas, buang"
"Huhh huhh.. Eenghh"
"Bagus bu, terus!"
Dengan sabar seorang dokter kandungan menuntun Titian yang akan melahirkan bayinya. Ya, sudah saatnya bayi dalam kandungan Titian untuk melihat dunia.
"Eenghh"
"Sedikit lagi bu, ayo tarik nafas, buang"
"Eengghh aah"
"Eak eak eak" (anggap aja suara bayi :D)
Titian menatap ibu dan ayahnya sekilas yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan wajah cemas. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya, terutama wajah dan tangannya.
"Sayang, kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang" kata Sindy dengan haru.
"Selamat ya pak bu, bayinya laki-laki" ucap dokter yang membantu persalinan Titian
---------
Senyum bahagia terpancar dari wajah ketiganya saat seorang bayi laki-laki mungil yang baru selesai dibersihkan dibawa oleh seorang suster.
Sindy segera mengambil bayi mungil itu dari suster. Dan menimangnya dengan penuh cinta.
"Lihat, dia sangat tampan". Sindy memberikan bayi mungil itu pada Titian, senyumnya mengembang menampakkan deretan gigi putih dan rapih miliknya.
Seketika air mata Titian menetes membasahi pipi, saat melihat bayi kecilnya sangat mirip dengan Andri.
"Ibu kenapa dia harus mirip ******** itu?"
"Sayang, apa yang bisa ibu lakukan. Ini sudah kehendak yang maha kuasa. Sudahlah, lupakan dia. Kamu harus mendidik anakmu agar perilakunya tidak seperti ayahnya"..
"Ibu tapi aku tidak bisa jika harus dihantui bayang-bayang Andri setiap kali melihat anakku"
__ADS_1
"Tian, jangan bicara begitu nak. Dia anakmu, kau sudah susah payah mengandung dan melahirkannya. Jangan samakan dia dengan masalalumu, dia adalah masakini dan masa depanmu, ibu yakin dia akan menjadi kebanggaanmu nantinya"..
Titian menghela nafas kasar dan menatap bayi mungil dipangkuannya dengan seksama.
*-*-*-*-*-*-*-*
Sementara di Bandung, di sebuah kampus ternama disana, para murid tengah sibuk membicarakan Rega, murid baru yang terkenal karena ketampanannya namun juga keacuhannya pada oranglain.
Saat Rega berjalan menuju kampusnya dengan memakai hoodie hitam dan earphone yang menempel di telinganya melewati beberapa mahasiswa yang juga akan masuk ke area kampus, semua mata tertuju padanya tapi Rega tak menghiraukan itu.
"Hai" kata seorang perempuan dengan rambut bergelombang dan memakai kacamata, dia berdiri di depan Rega, hingga Rega terpaksa menghentikan langkahnya "Kenalin gue Alice" katanya sambil menyodorkan tangan di hadapan Rega.
Rega tak menggubris gadis itu, hanya menatap datar tangannya sekilas, kemudian berlalu tanpa kata.
Alice menaikkan kacamatanya keatas kepala dan menyunggingkan senyum tipis dibibirnya sambil menatap kepergian Rega "Misterius" bisiknya.
Alice Nourin, gadis cantik yang juga jadi sorotan di kumpulan mahasiswa baru dan senior. Gayanya yang modis membuatnya semakin menarik dimata para pria, kecuali Rega. Sepertinya Rega sudah menjatuhkan hatinya pada orang lain.
Kini Rega sudah duduk di kelasnya, kelas ekonomi bisnis. Sebenarnya ini bukan jurusan yang ia mau, tapi karena ia mengedepankan ibunya ia terpaksa mengambil jurusan ini.
Rega duduk di bangku barisan ketiga dari depan, i melepas earphonenya dan mengambil sebuah buku dari tasnya tanpa suara.
"Dia sangat tampan"...
"Aku ingin nomor telponnya"...
"Jangan terlalu keras, nanti dia dengar"...
"Dengar-dengar dia sangat sombong"...
"Iya, mungkin karena dia terlalu tampan"...
"Tampanan juga gue". Tiba-tiba Mario datang dan membuyarkan percakapan para gadis yang memuja Rega.
Ketiganya mendongak menatap bariton siapa yang mengganggu mereka.
"Wah" kata seorang gadis lain yang tidak terlalu tertarik pada Rega tapi masih satu kerumunan dengan gadis-gadis tadi.
Gadis itu memakai kacamata minus dan rambutnya diikat ke belakang serta berponi.
Manisnya... Batin gadis itu. Dia terpukau dengan Mario yang memang sangat manis, dibalut dengan kemeja pendek dan dalaman warna putih membuatnya sangat kontras.
__ADS_1
"Lo ngga denger, semua cewe tergila-gila sama lo" kata Mario yang sudah ada di samping Rega.
"Gue ngga tertarik"
"Yaelah, lo harus cobain. Gimana rasanya ada yang merhatiin lo, nyuapin lo, ngingetin lo kalau lo salah, masakin lo, dan masih banyak lagi yang bakal lo alamin kalo punya doi"
"Kan ada ibu"
"Kalo itu beda bro"
"Bedanya apa?"
"Bedanya, lo ngga bisa gini-gini sama ibu lo". Mario memperagakan gerakan telunjuk dan telunjuk disatukan, dan Rega hanya melihatnya malas kemudian kembali membaca buku.
"Yang ada di otak lu ngga ada yang lain?"
"Gitu doang boleh lah, udah gede juga"
Rega tidak menanggapi ocehan Mario yang menurutnya tidak penting.
"Emang lo nyari cewe yang gimana sih?"
Deg...
Entah kenapa pertanyaan itu membuat Rega termenung dan menghentikan bacaannya, tatapannya seolah mengingat kejadian yang sudah berlalu. Dan saat itu, dia teringat akan Titian, dia ingat semuanya mulai dari ibunya membawa Titian ke cafe sampai dia menyaksikan kemalangan gadis itu.
Rega melamun, tidak terbayang sedikitpun olehnya bagaimana Titian menjalani kehidupan saat ini. Tapi jauh dilubuk hatinya, dia ingin bertemu dengan Titian, walaupun hanya melihatnya dari kejauhan Rega rela.
"Titian" kata Rega pelan.
"What?!". Mario memekik sangat keras sampai Rega menutup telinganya.
"Lo bilang apa tadi?" kata Rega lagi dengan tatapan menyelidik.
"Bukan apa-apa" balas Rega, lalu kembali fokus dengan bukunya.
"Cih"...
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.