
Sekian menit diperjalanan, Rega memeriksa kembali beberapa berkas yang tadi ditinggalkannya. Tatapannya nanar memandangi map yang dia pegang, tidak ada seangat lagi didirinya saat pikirannya terus saja melayang mengingat Titian.
Tangan Rega merogoh ponsel disaku hoodienya, menelpon nomor ibunya yang terkasih.
"Hallo bu" sapa Rega.
"Iya sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Sinta.
"Aku baik. Ibu bagaimana?"
"Ibu baik-baik saja ko sayang. Apa kamu sudah makan?"
"Sudah bu. Bu aku mau pindah kuliah ke Surabaya"
"Kenapa sayang?"
"Ngga papa bu. Aku hanya ingin kuliah disana saja"
"Yasudah gimana kamu aja sayang. Yang penting di manapun, kamu harus belajar dengan giat dan tetap baik pada orang lain"
"Iya"
"Ibu ngantuk. Telpon lagi nanti ya"
"Iya. Ibu baik-baik disana ya. Jaga kesehatan, jangan telat makan. Dan kabari aku jika ibu bertemu ayah atau keluarganya"
"Iya sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik"
Beberapa detik setelah itu, Rega menaruh ponselnya diatas meja, menyandarkan bahunya di sandaran kursi. Pikirannya menerawang mengingat bayi mungil di gendongan Titian, banyak spekulasi berkecamuk di otaknya 'apa Titian sudah menikah' itulah salah satu pertanyaan diotaknya yang sangat membutuhkan jawaban.
Ingin sekali dirinya berbicara empat mata dengan Titian, tapi sisi lain dirinya berkata 'apa itu pantas? apa Titian akan menjawab semua pertanyaan yang Rega lontarkan?'. Mengingat Titian mengalami kejadian seburuk itu rasanya tidak akan mudah lagi baginya percaya pada laki-laki.
__ADS_1
Bingung dengan perasaannya sendiri Rega memilih membaringkan tubuhnya di tempat tidur, Mario yang sudah sejak tadi pergi ke alam mimpi tidak memperdulikan Rega yang sedang gundah.
*-*-*-*-*-*-*
Hujan lebat pagi itu membuat semua orang enggan beranjak dari tempat tidurnya. Teman ternyaman saat hujan adalah kasur dan selimut yang menempel sejak semalam. Diatas ranjang berukuran king size sebuah mansion besar bernuansa merah bata dan putih seorang pemuda berusia 25 tahun menarik kembali selimutnya sampai sebatas leher, merasakan setiap kehangatan yang diberikan teman setia setiap malamnya itu.
Matanya yang tertutup rapat harus berkompromi dengan keadaan saat jam weker di atas nakasnya mengeluarkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
Dilihatnya sebentar jam itu sudah menunjukkan pukul 7.25 dan hujan masih turun dengan lebatnya disertai petir bergemuruh.
Tok tok...
"Sayang bangunlah ini sudah jam berapa. Kamu akan terlambat" teriak seorang wanita dibalik pintu kamar Hito.
"Enghh.." Hito hanya bergumam tidak jelas, karena merasakan kantuk yang tak kunjung mereda. Setelah mematikan jam wekernya, ia kembali memejamkan mata sebentar.
"Hito!" wantita dibalik pintu kembali berteriak.
"Cepat mandi dan turun. Kita akan sarapan" tutupnya.
Dengan langkah gontai Hito membawa langkahnya turun menuju lantai pertama. Tampangnya sungguh sangat karismatik dengan wajah yang menuruni ayahnya. Ia menarik kursi di samping ibunya dan langsung mengambil sepiring nasi beserta lauk pauknya.
"Apa kau sudah menemukan adikmu di Medan?" tanya Harris, ayahnya sekaligus ayah Rega.
"Belum" jawab Rega.
"Mungkin mereka sudah pergi dari Medan sayang. Kalau tidak, Hito pasti sudah menemukan mereka dalam waktu 3 tahun ini" ucap Andin menyela.
"Ibu benar ayah, mungkin mereka sudah hidup bahagia sekarang" Hito berucap sambil memakan makanannya.
__ADS_1
"Itu masih kemungkinan. Bagaimana jika mereka hidup menderita diluaran sana?" tanya Harris pada kedua anak dan ibu yang kini saling bertukar pandang.
"Kalau aku menemukan mereka, apa yang akan ayah lakukan?"
"Ayah harus memastikan mereka memiliki kehidupan yang layak. Sinta itu yatim piatu dan keluarganya tidak tahu ada dimana. Dan, Rega juga anak ayah. Ayah punya tanggung jawab padanya, setidaknya ayah harus memastikan agar mereka tidak kekurangan apapun dalam menjalani kehidupannya" tutur Harris panjang lebar.
"Apa ayah pikir setelah apa yang ayah lakukan pada mereka, mereka akan menerima bantuan ayah?"
Andin tersedak mendengar pertanyaan putra sulungnya, yang menurutnya keterlaluan.
"Apa yang kamu bicarakan Hito?! Jangan membuat ayahmu semakin merasa bersalah begitu" kata Andin.
"Bukankah apa yang aku katakan itu benar? Kalau aku menjadi Rega aku pun tidak akan pernah memaafkan ayah"
"Hito!". Teriakan Andin di meja makan menggema mengisi ruangan, membuat Harris menekuk wajahnya.
Rasa bersalah atas apa yang dilakukannya dulu semakin mencuat, tatkala anak pertamanya juga ikut menyalahkan dirinya.
"Aku memang bersalah". Harris berucap lirih pelan dengan wajah muram.
"Aku tidak berselera lagi"...
Sepersekian detik, Hito sudah menghilang dibalik pintu keluar, hanya menyisakan dua orang paruh baya yang terduduk dengan ekspresi berbeda masing-masing di samping meja makan.
.
.
.
.
__ADS_1
tbc.