Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 7


__ADS_3

Mentari sudah terbit dari ufuk timur, burung-burung berkicau riang menyambut pagi, cuaca cerah memberi kehangatan ditengah dinginnya seorang perempuan yang tidak memakai pakaian sehelai benang pun diatas ranjang.


Titian mengerjapkan matanya, menelisik setiap sisi ruangan yang ia tempati saat ini "ini dimana? bukannya semalem gue pulang kerumah" ucapnya pelan. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya serasa remuk. Kemudian Titian memutar bola matanya ke arah lain, matanya terbelalak dengan mulut menganga ketika mendapati bajunya teronggok berserakan dilantai beserta pakaian dalam yang ia kenakan semalam. Kemudian Titian membuka selimut putih yang menutupi tubuhnya sampai leher, betapa syoknya dia saat melihat tubuhnya tidak berbalut kain sehelaipun kemudian segera menaikkan kembali selimut itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil "apa yang terjadi padaku, kenapa aku bisa ada disini? ". Titian mengingat ingat kembali apa yang terjadi padanya semalam.


Flashback on


Aku melangkah keluar dari tempat terkutuk itu dengan wajah kesal dan takut bercampur. Masabodo pada Andri, dia laki-laki pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Benar kata perempuan itu, aku harus berhati-hati disini.


Baru satu meter aku berjalan meninggalkan tempat itu, seseorang membungkamku dengan kain dari belakang. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi.


Flashback off.


Berarti yang semalam hanya mimpi. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku. Lirih Titian di dalam sebuah kamar.


Cairan bening sudah mengalir deras dipipi Titian, saat dia melihat tubuhnya tidak bebalut apapun. Pikirannya kalut membayangkan apa yang terjadi padanya semalam. Tangisnya pecah dan histeris di atas ranjang orang lain itu, dia merutuki dirinya sendiri serta memukul-mukul perutnya yang datar.


 


Beberapa menit kemudian, Titian hendak beranjak dari ranjang dan mengambil pakaiannya, "aww" pekiknya, dia merasakan sakit di area ************ dan sangat perih. Karena tidak kuat akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk berjalan, tangisannya kembali menggema diruangan itu, Titian tau betul pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya semalam.


Belum selesai sampai disitu, kesedihannya bertambah saat membayangkan bagaimana kalau dirinya hamil tanpa suami, bagaimana sekolahnya, bagaimana kedua orang tuanya. Disaat Titian meratapi nasibnya, tiba -tiba pintu dibuka dengan kasar sampai Titian terlonjak kaget, dan seorang perempuan terhuyung ke tepi ranjang yang Titian duduki karena di dorong kuat dari luar.

__ADS_1


Nampaklah perempuan lemah yang rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh lebam, bajunya sedikit robek, dan tanganya diikat kencang oleh tali.


"Ratu!" suara Titian memekakkan telinga.


Tidak peduli rasa sakit diarea sensitifnya, Titian langsung memakai semua pakaiannya yang berserakan dengan cepat kemudian segera membopong Ratu untuk duduk di ranjang.


"Apa yang terjadi? " tanya Titian sambil membuka ikatan di tangan Ratu yang membuat temannya meringis kesakitan karena tangannya lecet dan perih.


Setelah terlepas, keduanya berpelukan sangat erat, sama-sama menangis dengan derasnya sampai menggema di kamar itu.


"Maafin gue Yan" kata Ratu "Maafin gue" lanjutnya.


Titian melepaskan pelukannya, dengan memegang bahu Ratu, Titian menatap lekat manik mata temannya yang basah sama dengan miliknya.


"Maafin gue karena gue ngga bisa nolongin lo" kata Ratu dengan tangis yang semakin meradang.


"Semalem".....


Flashback on


"Ratuku, sedang apa kamu disini sayang. Inikan dingin" kata seorang lelaki bernama Galih pada Ratu yang sedang duduk di luar bar tempat Titian dan Andri masuk tadi.

__ADS_1


Galih mengecup singkat ceruk leher Ratu yang sedang meminum segelas jus jeruk, seolah sudah dirasuki gairah seksual, Galih terus-terusan menciumi leher Ratu, kemudian berpindah ke pipi dan hampir ke bibir mungil Ratu. Tapi Ratu menepisnya.


"Lepasin" kata Ratu kesal.


Saat Ratu berdiri dan berbalik arah, Ratu melihat Titian keluar dari bar dengan wajah kesal, Ratu tidak tau kalau Titian ada disini, kalau tau dia akan menyuruh Titian untuk pulang saja darisini.


Tak lama kemudian ada seorang laki-laki bertubuh proporsional, kira-kira tingginya sekitar 173 cm. membungkam Titian dari belakang,


"Ti-" emmmpphhh.. Saat Ratu akan berteriak, Galih menutup rapat mulut Ratu dari belakang dengan tangannya. Ratu mencoba melawan kungkungan Galih tapi tenaganya tidak cukup kuat.


Pria itu membawa Titian yang sudah pingsan menggunakan sebuah mobil fortuner berwarna hitam, dari samping Ratu bisa melihat jelas siapa orang itu. Andri, kekasih Titian sendiri.


Saat mobil sudah melaju dengan cepat membelah keheningan jalan, Galih melepaskan tangannya dari Ratu, Ratu berusaha mengejar mobil yang membawa Titian, tapi nihil larinya tidak lebih cepat dari mobil "Brengsek" pekik Ratu dengan keras.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2