Kucinta Kau Apa Adanya

Kucinta Kau Apa Adanya
Chapter 14


__ADS_3

Rega menghela nafas "Lo ngga perlu takut, gue ngga bakalan ngapa-ngapain ko"


"Kalo lo ngga inget, gue cowo culun yang tiap hari papasan sama lo dijalan kalo mau ke sekolah" lanjut Rega.


Sinta tersenyum "iya nak, yaudah saya tinggal dulu ya. Kamu pulang sama Rega ya"..


"Ibu hati-hati yah" ucap Rega.


"Iya sayang, kamu anterin dia sampe rumahnya yah"..


Rega mengangguk pelan dan menatap kepergian ibunya.


Titian tidak bisa mencegah Sinta untuk pergi darisana, dia hanya bisa memandang kepergian Sinta dengan perasaan takut.


"Ayo pulang" ajak Rega pada Titian yang masih memandangi Sinta yang mulai lenyap dari pandangan.


Rega memarkirkan sepedanya dan menepuk jok belakang yang kosong "ayo" ajaknya lagi.


Titian masih mematung di tempatnya memperhatikan jok belakang sepeda Rega dengan ragu.


"Ya ampun" Rega menarik paksa tangan Titian agar duduk di sepedanya "Lo ngga kasian sama orang tua lo, mereka pasti nyariin lo sekarang" jelas Rega.


Tanpa suara Titian mulai naik ke sepeda Rega dan duduk di belakang, awalnya Titian enggan berpegangan, tapi setelah Rega mengayuh sepedanya terpaksa Titian harus berpegangan pada baju Rega agar seimbang dan tidak jatuh.


 


Sepanjang perjalanan baik Rega maupun Titian tidak mengeluarkan sepatah kata pun, sampai pada setengah jalan perut Titian berbunyi nyaring, lapar. Itulah yang dirasakan Titian sekarang, wajahnya pucat dan tubuhnya lemas.


Bruk..


Rega menyadari Titian tidak memegang bajunya lagi, dan sepedanya terasa ringan. Rega menoleh ke belakang menemukan Titian tergeletak di tengah jalan, untung saja disana adalah area bebas kendaraan.


Rega bergegas menghentikan sepedanya dan menghampiri Titian yang pingsan.


"Tian!" teriak Rega.

__ADS_1


Rega menatap wajah Titian yang sangat pucat, serta kakinya yang luka membuat hatinya merasa iba pada gadis malang itu.


"Apa yang terjadi padanya" kata Rega kemudian menggendong Titian ala bridal style.


Tanpa menghiraukan sepedanya, Rega segera membawa Titian ke tempat yang nyaman, ia menidurkan Titian di sebuah kursi panjang yang ada di pinggir jalan dan mencoba memijat tangan Titian agar cepat bangun.


 


Setelah sekitar 30 menit Titian pingsan, akhirnya ia mulai mengerjapkan matanya merasakan angin yang menghembus menusuk ke tulangnya, membuatnya merasa tidak nyaman karena sangat dingin.


Saat Titian membuka mata orang yang pertama dia lihat adalah Rega yang masih menggenggam tangannya. Titian yang menyadari itu segera menarik tangannya dari genggaman Rega dan terduduk.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama lo?" tanya Rega lembut.


Kruyuk kruyuk..


Wajah Titian tiba-tiba bersemu merah karena malu, Rega tersenyum "lo laper?", Titian mengangguk.


"Kenapa ngga bilang dari tadi pas di cafe"..


"Tunggu disini, gue ambil sepeda dulu"..


Tak berapa lama Rega kembali dengan sepedanya dan membawa Titian ke tempat makan terdekat.


Titian dengan antusias memilih banyak makanan tanpa rasa malu, sedangkan Rega hanya memesan satu minuman saja. Rega yang melihat ekspresi senang Titian merasakan kelegaan dalam hatinya, ia ikut senang melihat Titian tersenyum.


Mata Rega terbelalak melihat makanan yang di pesan Titian sampai memenuhi meja di hadapan mereka, Rega sampai harus minum dengan mengangkat gelasnya karena tidak kebagian tempat.


"Lo yakin bisa ngabisin ini semua?" tanya Rega sambil mengernyitkan dahinya.


Titian mengangguk cepat, dan segera meraup makanannya dengan lahap.


 


Ahhh...

__ADS_1


Titian pov


Setelah menghabiskan kurang lebih 7 piring makanan, aku mengusap mulutku dengan punggung tangan. Kenyang.


Saking kenyangnya aku menyandarkan bahu di sandaran kursi dengan enaknya, tanpa sadar kalau Rega memperhatikanku dari tadi.


"Apa kau tidak punya uang?" tanyaku pada Rega, karena melihat raut wajahnya yang tidak bisa diartikan.


"Kalau aku tidak punya uang, apa kau akan membayarnya?" balasnya padaku.


Aku mana ada uang, jangankan untuk makan segini banyak, untuk beli aqua saja tidak ada. Pikirku.


"Kenapa kau membawaku kesini kalau tidak punya uang?".. Aku memasang wajah merasa bersalahku di hadapannya, karena memang aku merasa bersalah saat ini.


"Kalau aku tidak punya uang, mana mungkin aku membawamu kesini?".. Aku lega mendengarnya mengatakan itu, aku kira dia benar-benar tidak punya uang.


"Mau nambah lagi?" tanya Rega.


Aku menggelang keras, dan memegang perutku "sudah cukup" jawabku sembari senyum.


"Kalau sudah, ayo pulang"..


"Terimakasih" kata ku.


Rega hanya membalasku dengan anggukan dan berlalu untuk membayar makananku. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan malam kami.


.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2