
Di kediaman Titian seluhur keluarganya sedang panik, ibunya tidak berhenti menangis dari semalam sampai matanya sembab. Ayah Titian, Irpan sudah berulang kali menghubungi anaknya tapi poselnya tidak aktif, dia juga berusaha menghubungi Andri yang dia ketahui adalah kekasih Titian dan yang membawa anaknya pergi kemarin malam tapi tidak ada jawaban dari Andri, malah sekarang ponselnya juga tidak aktif.
"Yah, kita lapor polisi aja" kata Sindy, ibunya Titian dengan nada khawatir.
"Ngga bisa bu ini belum 2×24 jam" jawab Irpan.
"Tapi yah, ibu khawatir Tian kenapa-kenapa"
"Ayah juga khawatir bu. Apa ibu sudah coba tanya ke Rere?"
"Sudah yah, Rere bilang dia ngga tau, dia juga kaget pas denger Tian ngga pulang dari semalem"...
"Aku akan membunuh Andri jika terjadi sesuatu pada putriku!" kata Irpan dengan sorot mata marah.
Sindy membanting pantatnya keatas sofa diruang tamu, pandangannya terus tertuju pada pintu masuk yang sedikit terbuka.
Air mata di pipinya tidak bisa dibendung lagi, seakan tak ada habisnya terus mengalir, mengalir dan mengalir.
Irpan yang tidak tega melihat keadaan istrinya seperti itu, segera menghampiri Sindy dan duduk disampingnya, kemudian membawa istri tercintanya kedalam dekapan.
"Tenanglah, putri kita pasti pulang. Aku yakin" katanya lembut sembari mengelus pundak Sindy.
"Tiaan"..
Lirih Sindy pelan dalam dekapan suaminya sambil terus terisak sampai baju Irpan basah dibuatnya.
"Tian yah Tian".. katanya lagi sembari menarik pelan baju suaminya.
"Iya aku tahu, Tian pasti pulang malam ini. Kalau tidak kita akan lapor polisi secepatnya" balas Irpan mencoba menenangkan.
Hiks.. hiks.. Keduanya akhirnya hanya bisa menunggu di sofa dengan pandangan lurus kearah pintu.
*-*-*-*-*-*-*-*
Ciiit...
Suara mobil berhenti di depan cafe Mario terdengar jelas oleh dua pemuda yang ada didalam cafe.
Tak lama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik yaitu ibunya Rega, Sinta. Masuk bersama seorang perempuan yang terlihat berantakan dan pakaian yang kedodoran, dia uga tidak memakai alas kaki karena itu kakinya sedikit lecet.
"Ibu"..
"Tante"..
__ADS_1
Kata Rega dan Mario bersamaan saat melihat Sinta datang dan menghampiri mereka.
"Sayang" balas Sinta dengan senyum manis.
"Mario apa kabar nak?" Sinta juga menyapa Mario yang terkejut dengan kehadiran Sinta yang tiba-tiba.
"Baik tante, bagaimana dengan tante?" jawab Mario sopan.
"Seperti yang kamu lihat, tante baik-baik saja"..
"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini tan?"
"Tante sudah bilang pada Rega, apa dia tidak memberitahumu?"
Mario dan Sinta menatap Rega bersamaan dengan tatapan heran.
"Dia memang selalu seperti itu, kalau bukan aku yang bertanya dia tidak akan memberitahu apapun" ujar Mario kemudian memalingkan muka karena sedikit kesal tapi Rega tidak memperdulikannya.
Sinta tersenyum dan memperkenalkan Titian pada Rega dan Mario.
"Oh iya, kenalkan ini Titian".. kata Sinta sambil membawa tangan Titian agar lebih dekat dengan mereka.
Rega dan Mario menatap Titian dari atas sampai bawah, memperhatikan penampilan Titian yang berantakan dan tubuh yang lengket karena belum mandi dari semalam.
Inikan perempuan yang sering berpapasan denganku dijalan, pantas aku seperti tidak asing dengan namanya. Batin Rega.
Tapi Titian tidak menjabatnya, dia merasa takut pada Mario, dia takut Mario melakukan sesuatu padanya walaupun sebenarnya Mario tidak berniat jahat.
Titian malah bersembunyi di belakang Sinta sambil memegang pundak Sinta. Sinta tersenyum, dia paham Titian pasti merasa takut pada laki-laki setelah kejadian yang menimpanya.
"Tidak usah takut, mereka anak baik-baik. Mereka tidak akan melakukan apapun padamu" ucap Sinta menenangkan dan mengelus tangan Titian yang berada di pundaknya.
Titian menggeleng keras, dan tidak mau beranjak dari belakang Sinta "Tenanglah, kemari".
Sinta menuntun tangan Titian agar mensejajarinya dan Tian mengikutinya.
Apa yang terjadi padanya, sepertinya dia sangat ketakutan. Batin Rega berucap.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Rega datar.
"Dia baru saja mengalami hal terburuk dalam hidup wanita lajang. Ibu pikir dia mungkin akan mengalami trauma berkepanjangan"..
"Maksud ibu?"
__ADS_1
Titian menggeleng keras dengan mata sayu pada Sinta dan mengatupkan kedua tangannya didada agar Sinta tidak menceritakan kejadian detailnya.
Sinta menatap Titian dengan tatapan keibuan "baiklah, aku tidak akan mengatakannya" ucap Sinta.
Lalu..
"Mario apa Rega boleh pulang sekarang? Dia harus segera mengantarkan Titian ke rumahnya, orangtuanya pasti sangat khawatir"
"Tentu saja tante, Rega boleh pulang sekarang" jawab Mario.
"Kamu tidak apa-apa sendirian?"
"Tidak, tante tidak usah khawatir. Aku akan menutup cafe lebih sore"
"Baiklah. Terimakasih Mario, kalau begitu tante dan Rega pergi dulu ya, sampaikan salam tante pada orang tuamu"
"Iya tan, nanti Mario sampaikan"...
"Gue balik dulu. Jangan lupa kunci pintu" tutup Rega sebelum pergi.
Mario mengangguk dan hanya menatap punggung ketiganya yang berjalan keluar.
"Tian, kamu diantar sama Rega yah, saya harus keluar kota sekarang"
Melihat reaksi Titian yang selalu menjaga jarak dengan Rega, Sinta sadar kalau Titian takut pada laki-laki.
"Tidak usah takut, dia anak saya namanya Rega"
Rega? Rega! pria yang kutemui di mimpi itu? Apa ini dia. Apa ini wujud aslinya?.. Batin Titian sembari memelototkan matanya menatap Rega.
Kenapa aku baru sadar, bukankah tadi tante Sinta beberapa kali menyebut nama Rega. Tapi kenapa aku bisa memimpikannya. Lanjutnya.
"Kau tidak mengenalku?" tanya Rega datar seperti biasa.
Titian menggeleng, entah kenapa dia tetap merasa takut pada Rega, lagipula darimana dia bisa tau kalau Rega tidak akan melakukan sesuatu padanya, dia saja baru kali ini saling menyapa. Dan dia tidak tahu kenapa Rega bisa masuk ke mimpinya dan mengantarkan dia pulang, yang sekarang menjadi kenyataan.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc.