
Cerita ini tidak mengulas tentang pribadi, hanya mengusung tentang peran pemuda untuk kemajuan bangsa, negara dan agama.
...----------------...
Teringat akan pidato bung Karno sebagai presiden pertama Indonesia dalam orasi yang membakar jiwa para pemuda dalam masa perjuangan, perkta berkata "Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku guncangkan dunia".
Pemuda tonggak masa depan. Keluarga, agama, dan bangsa. Pemuda mempunyai peran yang sangat penting, pondasi yang fundamental
******
Di salah satu daerah Banten, sebelah baratnya ibukota Jakarta, terpilihlah kepala desa muda yang masih bersinar, energinya masih fit, fresh dan menyenangkan.
"Pemimpin muda, merakyat lagi". Terdengar suara ibu-ibu yang bangga dengan kepala desanya.
"Ramah dan sopan", menimpali ibu berbaju daster warna hijau yang duduk bersebelahan.
"Emang kudu begitu, pemimpin mah". Sahut menyahut ibu-ibu berjejer di salah satu rumah warga, selepas pekerjaan rumahnya beres. Sambil mengasuh anak-anak mereka terus saja membanggakan sang kepala desa.
Remaja- remaja pun turut menggandrungi ikut serta antusias.
Kebetulan hari Minggu, suasana rumah Bu Kokom ramai. Bu Kokom berjualan makanan siap saji yang nikmat, rasanya terkenal. Warung nasinya selalu penuh pengunjung. Antrian panjang para pengunjung menjadi tontonan setiap hari.
Mang Ijul salah satu pelanggan setia bu Kokom, " Masakannya enak, tukang warungnya juga ramah".
Perubahan yang drastis, renovasi struktural, pembangunan desa, pemerataan tunjangan, setiap lini kebutuhan masyarakat terayomi.
"Sembilan tahun jabatan kepala desa sudah di syahkan pemerintah, boleh ikut dua kali kontestasi pemilihan berikutnya". Berita yang beredar di sambut hangat warga yang peka dengan berita.
"Sembilan tahun cukup waktunya untuk bisa melaksanakan amanah". Mang Usup selaku yang di anggap sesepuh desa memberikan wejangan dan nasehat.
Mang Usup sebagai sesepuh desa memberikan saran yang positif untuk aparatur desa.
"Aman, tentram rakyat bahagia". Mang Usup mengacungkan jempol di teras balai desa, sambil bergegas kembali beraktifitas.
Sebagai petani yang sudah lama, mang Usup memberikan contoh dan semangat kerja atau etos kerja yang tinggi, usia sudah tua, tenaga sudah berkurang, namun jangan berpangku tangan.
Kepada anak muda generasi bangsa mang Usup memberikan contoh nyata bahwa hidup bukan sekedar numpang makan dan minum. Harus giat bekerja.
******
Jangan lemah, tiada berdaya, imajinasi sukses, berkhayal yang tinggi, tidak di barengi dengan kerja nyata dan attitude itu hanya mimpi belaka.
*****
__ADS_1
Dari hasil jerih payahnya, mang Usup bisa menghasilkan hasil tani berton-ton, tidak di jual. " Piraku petani beli beas, jual gabah, aneh".
(terjemah: Masa petani beli beras, jual gabah, Aneh rasanya".) Mang Usup hidup sederhana, bahagia bersama istri, anak dan cucu.
Di kala panen tidak memenuhi target, mang Usup selalu bijaksana menghadapi, tidak menghujat, dan mencari-cari kesalahan, air, hujan, alam raya. Bukan karena air yang sudah mengering, bukan karena hujan yang mengguyur, bukan karena hama yang sedang mengamuk.
Semuanya di kembalikan kepada Allah sebagai Raja di Raja kehidupan, yang telah mengatur semuanya. Mungkin panen kali ini berkurang, tetapi rizeqi kesehatan istri, anak, cucu.
Mang Usup tidak mengeluh, menerima tanpa lelah bekerja. Bekerja yang halal untuk anak istri, " Halalan wa tyoyyiban. Halal dan baik". Begitu ucapnya.
******
Senyum sumringah kepala desa, karena kehadirannya membawa energi positif untuk desanya, yang sudah hampir tidak bernyawa.
Wujudu ka'adamihi.. ada tapi wujudnya tidak ada, dalam artian, ada tapi seolah-olah tidak ada pemberdayaan di desa, balai desa kumuh, sepi, tanpa WiFi, cat pudar, tanpa toilet, kursi sofa sudah bolong di setiap sudutnya.
Balai desa hanya di jadikan tempat administrasi saja, bukan tempat untuk bekerja yang nyaman dan asri.
"Permisi pak".
"Ya, mangga". Bapak kepala desa mempersilahkan salah satu warganya untuk masuk ke ruangannya.
"Kie Pak lurah, Bade ngobrol bae iyeumah, jalan ka rumah abdi iraha di endahkeun, rusak, komo pami usim hujan, Ledok sareng kotor".
"Begini pak, mau ngobrol-ngobrol saja pak, jalan ke rumah kami kapan yah di perbaiki, rusak, kalau musim hujan becek dan kotor".
Bapak kepala desa memberikan penjelasan
"Kin pami Atos Aya anggaranana ti pemerintah, pasti di alokasikeun".
"Ya, nanti kalau sudah ada anggarannya dari pemerintah, pasti di alokasikan".
Bapak kepala desa memberikan penjelasan yang diplomatis tanpa menggurui dengan bahasa yang tidak meninggi, mempuni sebagai warga desa suku Sunda.
Toh meski panjang lebar pun di jelaskan, pasti tidak akan faham semua.
Kini, balai desa sudah menjadi tempat yang nyaman sebagai kantor kepala desa, fasilitas lengkap, nyaman bagi pegawai desa, nyaman untuk warga berkunjung atau membutuhkan bantuan kepala desa.
***
Profesi kepala desa muda ini juga pebisnis yang handal. Dua mobil pengeruk tanah ia miliki, Beko kami mengenalnya.
Yang lapang menjadi luas, yang jurang menjadi rata.
__ADS_1
Pekerja keras, dan ulet. Tidak kenal lelah. Jiwa bisnis nya tinggi. Meski kekayaannya sudah melimpah ruah, namun usaha nya terus berjalan.
Ia tekuni dengan semangat tinggi.
Yang namanya kerja di desa, ajuan, keinginan, kebutuhan masyarakat seolah-olah ingin di penuhi oleh kepala desa.
Yang mengadu tidak dapat bantuan dari pemerintah atau desa datang bertubi-tubi.
"Kenapa harus dia yang dapat bantuan, bukan saya, rumah mau roboh, janda, bla... Bla... "
Banyak sekali yang mengeluh. Terkadang di buat pusing sendiri.
******
Harus di sadari dan di imani, hanya satu desa saja keinginan manusia beragam, apalagi Se- Indonesia, Se-dunia. Pasti banyak hasrat pada tiap-tiap insan yang bernyawa yang bernama manusia.
Keyakinan akan tumbuh bahwa Allah mampu mewujudkan semuanya, meski ada yang langsung, ada yang tertunda bahkan ada yang kelak di nikmati di Syurga.
Maka, berhati-hatilah dengan jabatan. Pasti akan di mintai tanggung jawab.
Semoga bapak kepala desa muda ada dalam lindungan Allah, sehat dan bahagia dunia akhirat bersama keluarga tercintanya. Aamiin.
Kesuksesan suami karena ada sosok isteri yang selalu mendukung dan mendoakan.
"Tiada kebahagiaan selain keluarga" itulah kata-kata bijak untuk tetap sederhana, tidak jumawa dengan pujian dan sanjungan.
Ketika di atas puncak kejayaan dan kesuksesan keluarga adalah penopang yang utama.
"Muliakan tiga wanita dalam hidup, ibu, isteri dan mertua". Insyaallah selamat di dunia maupun di akhirat". Petuah Kyai ketika bapak kepala desa menghadiri pengajian rutin desa yang di adakan sebulan sekali.
Para hadirin sangat setuju dengan anggukan kepala mereka manggut-manggut.
"Jika mau berkah dalam rumah tangga, jangan main rahasia dari isteri."
"Percayakan semua, istri harus menjadi bagian dalam setiap aktifitas, bukan main belakang".
Sorak Sorai jamaah mengeruak, mesjid menjadi riuh. Kaum hawa serasa di atas angin.
Karena kenyataannya berbalik terbalik tak sebanding dengan isi materi yang di sampaikan pak Kyai.
*****
"Nahkoda yang goyah akan tetap tegar berdiri jika memuliakan keluarga."
__ADS_1