Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Secangkir Kopi dan Senyum Manis


__ADS_3

Getir rasanya kopi yang baru saja di tegukan dua kali tumpah di depan mata, sederhana saja tersenggol jari kelingking yang berusaha mengusir lalat.


"Saddi.......s rasanya seperti cinta yang tertolak," Bathin Mitha. Cinta deritanya tiada akhir, wejangan patkey dalam serial film sun go kong. Itu pun kalau tidak salah, film petualangan mencari kitab suci yang penuh dengan lika-liku, penderitaan dan kebahagiaan di rasakan bersama-sama. Sang guru menjadi penenang di setiap keadaan.


Kopi hitam idaman Mitha, awalnya hanya ikutan nimbrung kopi buatan teteh kesayangannya, lama-lama menular juga kopi hitam menjadi kebiasaan.


Pagi, siang, sore terkadang malam di kala rasa suntuk melanda. "Hmmmm nikmat sekali, tak mesti mewah mencari kebahagiaan".


"Guk,guk,guk, dalam tiga tegukan. Gorengan khas BI Ijah menemani secawan kopi hitam di sore sepulang Mitha kerja.


Mitha kuliah semester jurusan seni pilihannya, meski tak seperti seniman, namun hasil karya ibarat seniman-seniman handal. Seni rupa,musik, tari, drama ia kuasai dengan handal. Pandai berlakon, ia bisa menjelma menjadi tokoh sesuai skenario, piawai dan ciamik berperan, mampu keluar dari dirinya, jiwa dan raga membaur menjadi tokoh dalam lakon yang harus di embannya.


Ia pernah jatuh cinta, tapi langsung patah hati... Cowok yang dia taksir memilih temannya yang cantik, kalem dan pintar, sedang ia gadis urakan, sembrono dan tak kemayu seperti remaja pada umumnya. Untuk menghapus jejak lendir di hidungnya aja (ingus) masih memakai ujung sisi kerudungnya. Tak memakai tissue, tak bermake-up, sendal jepit dan celana jeans favoritnya.


Jangankan skin care, bedak padat aja ia tidak punya. "Lelaki mana yang suka sama perempuan kayak aku", celotehnya.


Kopi hitam banyak memberikan inspirasi, dan hikayat kehidupan. Di sambi obrolan-obrolan panjang dengan teman seniman. Terkadang jika jiwa kerohaniannya timbul, Mitha akan mendatangi pesantren salaf yang bisa menerima santrinya dengan suka rela. Pesantren ini menjadi penyejuk, obat penenang yang mampu mendamaikan fikiran dan rasa gundah gulana.


Kyai sebagai pimpinan pesantren tahu betul gelagat Mitha, dan selalu memberikan tempat untuk Mitha singgah di pesantrennya.


"Mengaji dan sholat jangan di tinggalkan, benteng kehidupan". Ujar pak Kyai pada santri dan tentu Mitha mendengarkan dengan seksama. "Masuk menusuk kalbu", sederhana namun penuh arti, pak Kyai menerangkan tanpa mencela, dan menghujat. Sabar dan selalu baik terhadap santri-santrinya.


***


Kopi hitam kali ini tidak tumpah tumpah, habis segelas. "Dunia serasa milik sendiri, yang lain numpang, hehehe... ". Mitha berusaha menghibur diri, karena patah hati belum terobati.


Dunia terang benderang, cahaya cerah. Segelas kopi hitam menambah kenikmatan hidup di dunia, dunia yang akan membuat kita terlena, jika kita lalai.

__ADS_1


Sang pujangga hati bersemayam di hati, rasanya ingin di raih dalam dekapan, tak terlepas selamanya bersama. Mitha berhayal.


"Sadar akan diri Doong, Mitha. hayalanmu terlalu tinggi".


Sosok yang di puja sudah memilih tambatan hati. Sakit merenggut Sukma, apalah daya kenyataan cinta bertepuk sebelah tangan, bagai gayung tak bersambut.


"But live must go on"... Mitha memperingati dirinya untuk bangkit, dan tidak menyerah akan kesucian cinta.


Meski tidak tahu kemana arah ini akan berlabuh.


Perasaan Mitha tak dalam keadaan baik-baik saja.


Susah jatuh cinta susah juga melupakannya...


"Angin, bulan, matahari, gumpalan aku menderita, cinta ini membuat ku gila". Teriak Mitha pada alam ia menggugat tentang rasa yang tak terbalas.


****


"Tamu laki-laki di larang masuk".


"Kekhawatiran terjadi sesuatu yang di inginkan, celoteh temen-temen kostku". Padahal kalau di telaah peringatan itu adalah tanda kasih sayang ibu kost agar terhindar dari perbuatan yang haram, sangat bermanfaat bagi penghuni kost-kostan.


****


"Jangan ajak istrimu ke kondangan, istrimu jelek, Kumal, dekil dan memalukkan", dialog ibu mertua yang julid. Anisa seolah-olah menjadi ibu mertua yang jahat dan kejam, ia praktekkan kata-kata itu setelah ia menyaksikan televisi tetangga yang rutin menyaksikan sinetron yang senang menyuguhkan lakon istri yang tersakiti, mertua julid, anak durhaka, perselingkuhan, anak tiri yang kejam, ibu yang tega membunuh anak demi harta. Sajian setiap hari, bait lagu ku menangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu, yang di nyanyikan Rossa terdengar lumrah di telinga.


"Aneh tapi nyata, emang bener ada yah kisah-kisah itu?". Anisa tidak percaya.

__ADS_1


"Mana ku tahu". Ketus Mitha.


"Ayolah kita jalan, suntuk di dalam kamar kost-an aja". Mitha memaksa Anisa.


"Sekalian cari makan, lapar nih".


****"


Kampus tujuan Mitha hari ini, dengan jadwal yang padat. Kuliah, duduk manis mendengarkan dosen dengan manis, menyajikan makalah bersama, setelah itu ke basc camp. Rapat kali ini tentang pementasan teater penyambutan calon mahasiswa/mahasiswi baru. Malam inagurasi biasa di pentaskan sebagai penutup rangkaian acara.


****


Warung kopi langganan Mitha hari ini libur. "Mudik mba ke kampung, anaknya mau nikah", warung sebelah memberitahukan kenapa warung kopi langganannya hari ini tutup. "Nikahan gak mungkin sehari, semingu atau dua Minggu kali baru ke sini lagi".


Gontai langkah Mitha tak tahu arah, hanya berjalan mengikuti langkah kaki. Di halte bus ia berhenti trayek Malioboro ia naiki.


"Mungkin di sana nanti ada tempat kongkow-kongkow dan inspirasi buat pementasan selanjutnya". Mitha mencari tempat duduk di pojok sebelah kanan.


Malioboro sudah di depan mata, pasar Bringharjo di lewati, pasar tradisional yang melejit dengan keramah tambahan pedagangnya.


Sekelebat bayangan menerjang mata, sssstttt mata tertuju ke satu arah, darah mengalir dengan deras, kopi hitam panas berubah menjadi dingin sedingin salju, senyum simpul dengan gigi gingsul dan lesung pipi mendarat di mata Mitha yang tak sengaja menatap. "Kakang prabu", tak sengaja bibir Mitha mengucap, serasa jantung berhenti Mitha balik menatap sosok laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta dan terluka oleh cinta.


Bak film India, bernyanyi-nyanyi di lapangan luas, rumput hijau, pepohonan yang rindang. Bernyanyi gembira menemukan kembali tambatan hati.


Senja di Malioboro, langit menguning menemani Mitha menikmati secangkir kopi hitam dan senyuman di ujung jalan.


Syahdu terasa. Rasa dahaga dan lapar sirna, namun selepas itupun senyuman itu hilang, bak di telan bumi. "Hanya sebentar saja kekasihku hadir, sekejap saja, duhai jagad raya mengapa aku harus mengalami ini. Kasih ini tak sampai".

__ADS_1


"Egois rasanya jika hanya itu yang kau nampakkan, duhai kekasih hati". Mitha mengerang dalam kesepian dan kesedihan.


Hanya kopi hitam yang memberikan keabadian, mengajarkan hidup penuh dengan rasa pahit dan manis.


__ADS_2