Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
CERPEN 35 NAY!!! TERUSLAH MENULIS


__ADS_3


Ini seperti ketika menyusun skripsi sebagai syarat untuk lulus menjadi sarjana dengan bentuk karya ilmiah. Dan ketika penyusunan skripsi ini dibutuhkan mental baca, yang kuat ketika dosen pembimbing satu dengan pembimbing kedua berbeda teori maupun penerapan nya. Emosi yang tidak stabil akan menjadikan mahasiswa yang menyusun skripsi ini menjadi patah semangat dan akhirnya menjadi malas untuk memperjuangkan karya yang telah dibuatnya. Sebenarnya buat saja sampai akhirnya entah nilainya berapa itu adalah putusan final dari dosen penguji dan lain-lain nya. Mereka lah yang memiliki pandangan dalam menilai karya kita dari beberapa sudut pandang. Harus legowo dari semua hasil yang diperoleh.


Inilah perjuangan dalam menciptakan karya nyata melalui tulisan. Apresiasi seseorang dalam menilai karya seseorang masing-masing berbeda. Semua harus obyektif tanpa melihat siapa pencipta karya itu sendiri. Namun terlepas dari semuanya. Terkadang memang subyektivitas itu berpengaruh terhadap karya cipta seseorang. Penulis yang sudah dikenal di masyarakat, ketika telah membuat karya cipta baru ikut populer. Ini tidak bisa dipungkiri. Ke senioritas juga lebih diutamakan dalam mendapatkan hasilnya.


*******


" Yey! Nay, ada foto dan tulisan kamu di surat kabar!" teriak Hani sambil menunjukkan surat kabar pagi hari itu kepada Nayla. Nayla yang sedang membuat nasi goreng pagi itu sejenak mematikan kompornya lalu menghampiri Hani.


Nayla sesaat melihat tulisan dan foto dirinya dengan setengah badan itu nongol di atas kolom surat kabar itu. Nayla antara percaya dan tidak melihat semua nya. Itu adalah tulisan Nayla pertama kalinya muncul di surat kabar itu dengan tema kritik sosial. Nayla tersenyum dengan tulisannya sendiri.


" Ayo, Nayla! Benarkan? Kamu punya bakat dan potensi untuk membuat tulisan. Aku yakin itu. Makanya teruslah menulis dan buktikan kamu bisa berbuat dan berkarya lebih dari ini. Suatu hari nanti, kamu akan menjadi penulis yang hebat." ucap Hani dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


" Ah Hani! Kamu ini aneh sekali. Aku yang seharusnya senang karena tulisanku dimuat di surat kabar. Tetapi kamu lebih senang dengan semua ini?" sahut Nayla sambil memeluk Hani dengan tulus.


Nayla begitu bahagia memiliki sahabat yang selalu mendukung dan memotivasi dirinya. Bukan hasilnya namun buktikan dulu kwalitas dan kuantitas dalam menulis. Suatu saat keterampilan menulis itu semakin berkembang dan akan lebih berbobot nilainya.


" Kamu tahu, Nay! Aku suka jika kamu berhasil menjadi penulis. Karena bakat kamu disini. Aku sangat tahu itu. Wawasan dan paradigma kamu luas, itu sudah cukup untuk bekal kamu membuat tulisan. Baik itu cerita fiktif, atau karya ilmiah maupun artikel kritik sosial. Namun aku gak mau kalau kamu lebih tertarik di kritik sosial mengenai politik. Kadang kamu terlewat batas jika mengkritisi soal politik di negeri ini." kata Hani penuh semangat.


" Aku harus bagaimana?" sahut Nayla minta pendapat Hani.


" Aku lebih suka kamu bikin cerpen, novel gitu. Kamu tipe halu yang cukup tinggi. Aku yakin itu. Pelan- pelan kamu akan menjadi penulis cerpenis dan novelis yang dikenal di negeri ini." kata Hani semangat.


" Tentu!! Kalau begitu bagaimana kalau kita nikmati honor menulis kamu ini." ucap Hani sambil memainkan matanya.


" Hah?" sahut Nayla membulat matanya.

__ADS_1


" Ayolah!" rengek Hani.


" Baiklah! Tapi aku belum tahu di kasih honor berapa dari tulisanku ini. Aku hubungi redaksi dulu yah." kata Nayla akhirnya.


" Hahaha, aku bercanda sayang!" sahut Hani akhirnya.


" Eh? Bukannya aku tadi bikin nasi goreng? Ayo kita makan dulu yuk!" ucap Nayla semangat sambil menuju ke dapur kembali.


Nayla dan Hani saat ini adalah satu kost dan satu jurusan di kampus yang sama. Entah kenapa mereka seperti saudara. Hani dan Nayla selalu jalan bersama baik ke kampus, ataupun sekedar main bersama.


Dalam hal ini kebahagiaan yang indah ketika kita menemukan seorang sahabat yang saling mendukung, memotivasi supaya kita lebih maju, sukses dalam mencapai harapan dan cita- cita kita. Berani memberikan kritik yang membangun untuk kemajuan sahabat nya. Tidak saling menjerumuskan, itu nyang lebih penting.


" Nay! Ayo teruslah menulis!" kata Hani sambil mengunyah nasi goreng yang dibuat oleh Nayla.

__ADS_1


Nayla tersenyum kepada Hani. Betapa tulusnya sahabat nya itu selalu mendukung semua hobi dari Nayla itu.


(Jambi, 15 Januari 2022)


__ADS_2