Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Bahagia setalah Lara


__ADS_3

Anita berjalan menyusuri lorong jalanan sempit, yang mulai ramai. Kampung ku mulai sempit, sampah di mana mana. Bau semerbak sampah yang tidak bertuan menyeruak menganggu penciuman. Aroma tidak sedap bertebaran.


Dulu kampung Anita sangat asri, hijau dengan pepohonan yang rindang, suasana nya menyejukkan dan membawa ketenangan.


"Anita sini". Ibu nya memanggil dari arah pintu.


"Iya Bu". Anita bergegas mendatangi ibunya.


"Ibu punya kue, kue cucur namanya, tadi ibu ke pasar jual hasil panen kita, panen kacang panjang kita kali ini banyak, makanya ibu jual ke pasar".


Menikmati kue cucur di temani dengan kopi manis, desiran angin sepoi-sepoi menerjang rambut Anita yang tergerai panjang.


Kue cucur enak rasanya manis, namanya juga lucu kue cucur. Acapkali ke pasar ibu pasti menyempatkan membeli kue cucur di langganannya. Tidak banyak yang ibu beli lima Rina atau sepuluh ribu saja.


Ibu merasa senang dengan sikap Anita, anak yang ramah, sayang terhadap keluarga, mandiri dan selalu meringankan beban pekerjaan rumah.


Setelah ibu pulang dari ladang sore hari, rumah sudah dalam keadaan rapih dan beres. Nasi dan lauk pauk swadaya juga sudah tersedia di atas meja yang sudah mulai usang di makan waktu.


Mereka tidak mempunyai meja makan, tetapi makanan selalu mereka miliki untuk di makan. Tidak lupa teh hangat atau kopi manis kesukaan ibu sudah tersedia di meja.


Bahagia sekali perasaan ibu terobati setelah lelah bekerja di ladang. Ibu terkadang menanam apa yang bisa di tanam, tidak mesti padi, sayur-mayur juga ibu tanam.


Kalau panen sayur mayur nya tidak banyak, cukup di jual di sekitar rumah saja, tetangga juga banyak yang beli. "Segar katanya baru dapat metik". Ibu Aminah suka memborong kacang panjang hasil panen ibu. Buat stok simpen di kulkas juga awet. "Kalau saya mah buat lalaban Bu" ujar Bu Salimah.


Semua membeli, dan hasil penjualannya nanti buat beli bibit lagi. "Ibu lelah sini Anita pijitin". Tak menunggu lama lagi punggung ibu sudah di hadapkan ke Anita.


"Iya, terimakasih sebelumnya yah An". Kata ibu.


"Iya Bu, sama-sama".


Anita kelas empat sekolah dasar, anaknya pintar dan atuh terhadap semua guru. Teman-teman nya banyak yang menyukai dengan sifat dan kebaikan yang di miliki Anita.


Selepas pulang Anita berganti pakaian, makan seadanya lalu membereskan rumah, jika tidak tidur siang biasanya Anita pergi ke ladang.


Hanya bermain ilalang atau tanah sambil bernyanyi riang di antara tanaman sayuran ibu. Kicauan burung menyambut kedatangan Anita.


Pada ilalang Anita bercerita ingin menjadi orang yang sukses, dan bahagia.

__ADS_1


"Bu," Anita tiba di belakang ibu.


"Sudah pulang sekolah".


"Iya Bu, karena kesal Anita ke sini, tapi pulangnya duluan yah, nanti siapa yang masak kalau pulangnya sore". Ujar Anita.


"Iya, nanti siapa yang nyiapin teh hangat atau kopi buat ibu kalau pulangnya sore". Ibu tersenyum.


Menyadari betul kebaikan Anita dan tidak pernah malas membantu semua pekerjaan rumah.


Ibu terkadang merasa kasihan. "Masih kecil sudah mengerjakan pekerjaan orang tua, tapi Anita tetap kelihatan bahagia". Ibu begitu bangga terhadap Anita, di sela istirihatnya setelah menyemprot padi atau tanaman sayur-sayuran nya ibu mengobrol dengan Bi Inah di saung.


Bi Inah juga sama nasibnya tidak jauh berbeda dengan Anita dan ibunya. Hanya seorang petani dan menjadi janda karena suaminya telah memilih istri keduanya, mungkin ke tiga atau ke empat, bahkan mungkin ke lima.


Tabiat suami mereka sama, ringan tangan, pemalas, dan mau enak sendiri.


Keinginan mereka ingin menjadi orang kaya, tetapi pekerjaannya hanya main perempuan, marah-marah dan menghabiskan malam bersama teman-teman nya yang malas. Setiap malam begadang bermain catur di pos kamling.


Bangun siang, ngopi sarapan terus keluyuran entah kemana.


Belum juga membahagiakan ayah Anita membuat sakit dan luka derita pada ibu. Anita tergores hatinya karena perbuatan ayahnya.


Hingga pada suatu hari ayah bermain hati dan memilih hati orang lain selain hati ibu.


Ibu memilih bercerai dan menyandang status janda yang baik, tidak binal dan ******.


Menjaga nama baik dan martabat sebagai wanita baik-baik.


********


"Iya, Anita anak yang baik, beruntung punya anak sebaik Anita, banyak anak yang seusia Anita tidak peduli dengan kesusahan yang di alami ibunya". Ucap bi Inah di kala sore arah pulang menuju rumah masing-masing


Kadang panen ibu tidak berfihak padanya, lelahnya tak terbayarkan dengan panen yang melimpah. Karena hama atau ibu tidak mampu membeli pupuk yang harganya selangit.


Jika keadaan seperti itu. Makanan di meja makan hanya nasi di temani garam dan beberapa biji cabe yang di petik ibu di ladang.


Ketika itu bukan soal sehat, tetapi kenyang dan perut tidak mengamuk meronta minta di isi.

__ADS_1


Sering keadaan ini menimpa Anita dan ibu. Bahkan beras untuk di masak juga tidak ada. Meja makan yang mejanya mulai lapuk tak lagi berwana coklat tetapi hitam tak ada isi. Hanya tudung saji berwarna merah menamani dan mengisi meja.


Ke sekolah Anita tidak membawa uang jajan. Suara perutnya terkadang berbunyi di kala belajar.


Rita selalu memberikan kue bekal atau jajan kepada Anita. Anita menerimanya dengan senang hati.


Karena tidak semua teman sebaik Rita. Malah ada teman sekelasnya terkadang mencemooh dan menghina Anita. Sepatu bolong, baju dekil, hitam dan hinaan lainnya.


"Jangan sedih Nit, biarkan saja mereka mau ngomong apa". Rita membujuk Anita dan mengajaknya duduk kembali ke kelas. Dan menunggu guru di kelas.


"Kamu anak baik, pintar". Mereka bisa mengejek, mencela tetapi enggak bisa membantu.


Tertawa di atas penderitaan orang, belum merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain.


*******


Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Anita kini sudah dewasa. Kesedihannya yang dulu ia rasakan telah berlalu.


Tidak lagi mencuci piring, baju, mengepel dan susah payah ke ladang untuk bermain ilalang dan tanah, tanah yang basah.


Anita sudah menjadi wanita karir tajir melintir, tak perlu lagi susah. Ibunya yang telah tiada karena sakit sudah tenang di alam Syurga.


Pondok pesantren, panti jompo, wakaf tanah dan amal jariyah sering di lakukan Anita atas nama ibunya.


Jariyah yang di lakukan oleh Anita atas nama ibunya sama mengalirnya.


"Ibu, Anita sayang ibu. Andai ibu masih ada, kita main ke Mall bahkan ke kota-kota yang ibu ingin kunjungi". Anita membayangkan ibu masih ada di sampingnya menemani kesuksesan yang telah di raih.


"Semua ibu yang mengajari, ibu, alam, padi, tanaman sayuran ibu, kicauan burung, bi Inah adalah guru. Mengajari kesabaran, ketekunan, syukur dan menerima kenyataan hidup yang susah".


Anita tak jumawa dengan semua kekayaan yang di miliki. Malah menjadi insan yang membumi.


"Tak mesti di banggakan" ucapnya. Semuanya hanya titipan. Hanya ku bersyukur setelah kesedihan semuanya ku lewati, sekarang kebahagiaan ku raih.


Hidup tak mesti menderita terus menerus, bahagia milik kita yang berdoa dan berusaha.


Sakit hati bisa menjadi obat untuk bertahan hidup.

__ADS_1


__ADS_2