
“Yes besok libur!” kata seorang anak laki-laki yang mengenakan pakaian kaos berwarna putih dengan celana santai bergambar Doriamon.
Michael yang pada saat itu libur sekolah, hanya beristirahat di kamarnya. Ia hampir saja tertidur. Namun, rasa kantuknya buyar ketika mendengar bibinya berteriak. Michael yang mendengar itu segera menuju ke dapur. Saat Ia menuruni tangga, tiba-tiba Ia terpeleset dan terjatuh ke lantai.
Ia membuka matanya, tampak seseorang dengan jubah hitam menghadap kearah bibinya, wajah bibinya terlihat sangat ketakutan, Michael ingin berlari kearah bibinya. Namun, Ia tidak bisa menggerakkan kakinya, lantas Ia melihat kearah kakinya. Seketika Matanya terbelalak, Michael kesakitan, Michael takut, Ia melihat kakinya terpelintir kearah yang tidak seharusnya. Ia berusaha menahan rasa sakitnya, Ia berusaha menyeret tubuhnya kearah bibinya yang ketakutan. Namun takdir berkata lain, Michael juga melihat tangan kanannya patah, Ia ingin berteriak, tetapi Ia takut orang itu akan melihatnya.
Akhirnya, Ia hanya bisa melihat bibinya yang ketakutan, bibinya berteriak terus-menerus, Michael ingin menolongnya, tetapi, Ia tidak bisa bergerak, tak lama kemudian, Ia melihat orang yang tadinya berhadapan dengan bibinya menggigit leher bibinya, darah berceceran dimana-mana, di lantai, di jendela, di meja makan, dan termasuk, di wajah Michael. Mata Michael terbelalak, Michael tidak dapat berkata apa-apa, lalu orang itu melompat keluar lewat jendela.
“Cepat antarkan dia ke UGD!”
“Tidak! Jangan! Langsung saja dioperasi!
“Kalau begitu, kita ….”
Itulah hal terakhir yang Michael dengar. Setelah itu, Ia kembali tak sadarkan diri.
…
Samar-samar, Ia melihat cahaya, Ia pun membuka matanya.
“Dimana aku? Apa yang terjadi?”
“Kau sedang dirumah sakit, beberapa hari lagi kau boleh pulang… sekarang saya akan pergi dahulu, jika ada apa-apa, tekan tombol itu.” Kata dokter itu sembari menunjuk sebuah tombol yang berada tak jauh dari tempat tidur Michael.
“Iya terima kasih dokter.”
“Sama-sama.”
Beberapa hari kemudian, Michael sudah siap untuk pulang. “Sudah siap? Ayo kita pulang.” Kata sopir yang sudah siap untuk mengantar Michael pulang. Tak lama kemudian, Michael sudah sampai di rumah bibinya. “Huh? Kok kosong? Ini benar rumah bibikan? Alamatnya sih benar, mungkin bibi sedang keluar kota….” Gumam Michael.
Keesokan harinya, Michael mulai bersekolah kembali. Namun anehnya, banyak orang yang kini membicarakannya.
“Loh, dia masih bersekolah disini? Kukira dia sudah keluar….”
“Kata orang-orang dia terlibat suatu kasus….”
“Hah? Yang benar? Kasus yang barusan itu?”
Michael tetap tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, Namun, yang pasti murid-murid disekolah tersebut semakin menjauhi Michael, Bahkan dapat terlihat jelas oleh Michael wajah-wajah murid yang takut terhadap Michael. Kini Ia sendiri, Ia juga sudah mencoba berkali-kali menghubungi bibinya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
Suatu hari, pada saat istirahat, monster mengerikan muncul, matanya berwarna merah darah, warna kulitnya pucat pasi, dan gigi taringnya lebih panjang dari ukuran normal, Ia terlihat seperti makhluk yang haus akan darah. Semua orang yang berada di sekolah tersebut diam tak berkutik.
Monster itu berlari kearah Rei. Begitu juga dengan Michael yang berusaha menyelamakan Rei. CRAT!! Terdengar suara gigi yang menancap di kulit seseorang. Monster itu lalu menghisap darah Rei, kemudian dia berkata “darah apa ini?! Kenapa rasanya sangat buruk? Cih!” Seketika, terpisahlah kepala Rei dari tubuhnya, darah yang menyembur dari leher Rei mengenai wajah Michael. “Tidak…. Tidak…. ” gumam Michael saat ia telah gagal menyelamatkan Rei. Michael jatuh terduduk, tubuhnya bergetar hebat.
Kemudian, monster menoleh kearah Lisa. Seketika, monster itu berada di depan Lisa. Terlihat wajah Lisa yang sangat ketakutan. Di dalam benak Michael, Ia berkata, “Tidak.. kejadian ini.. apa ini?” Mata Michael terbelalak, seketika Ia teringat kembali kejadian tentang bibinya itu. Wajah, pakaian, darah, bahkan semua yang terjadi saat itu. Michael merinding, Ia tidak ingin melihat kejadian itu terulang lagi.
BUAKK!! Terdengar suara pukulan yang sangat keras.
“Siapa yang berani menggangguku?!” Teriak monster itu, tampak wajahnya yang sangat marah. Itu pertama kalinya Michael memukul seseora- tidak, pertama kalinya Ia memukul monster. Seketika Michael merasa kakinya lemas, Ia takut, disatu sisi, Ia ingin menyelamatkan temannya. Namun, di sisi lain, Ia takut akan mati.
“Ja… jangan sentuh temanku! Bakemono!(monster)” Teriak Michael dengan nada bergetar.
“Hah…. Kau ini, sudah takut, masih saja melawan…. Dasar bodoh!! Lihatlah teman-temanmu yang disana! Mereka hanya diam saja! Mereka pintar! Tidak menggangguku! Mereka tahu jika mereka melawan, pada akhirnya mereka juga mati! Hahaha! Dasar bodoh!”
“Orang yang sudah tahu temannya dalam kesulitan, tetapi tetap diam saja dan tidak melakukan apapun, LEBIH RENDAH DARI SAMPAH!” Teriak Michael.
“Ck! Kau ini! Mengganggu saja!”
Gigi monster itu kini menancap dileher Michael.
“Heh… dari pada tidak dapat makanan, lebih baik aku hisap saja darahmu hingga tak tersisa setetespun!” Monster itu menghisap darah Michael. Michael kesakitan, Ia meronta-ronta. Tetapi, tiba-tiba monster itu menjauh darinya.
“Khh!! Kenapa… kenapa kau menolong mereka… padahal… mereka menjauhimu, mereka menyebutmu sebagai pembunuh…. Namun, mengapa kau masih ingin melindungi mereka?” Tanya monster itu. “Heh.. ternyata kau bisa melihat ingatanku ya, yah… jawabannya sederhana sih… karena sesama spesies, kita harus saling menolong bukan? Bukankah peraturan itu juga berlaku di duniamu?” Tanya Michael sambil menekan lehernya yang terus mengeluarkan darah tersebut.
“Tidak! Aku tidak akan hidup bersama monster sepertimu!” Teriak Michael dengan tegas. Darah terus keluar dari lehernya, tetapi Ia tidak menghiraukannya, yang saat ini Ia pikirkan hanya teman-temannya. “Heh… siapa yang menawarimu? Aku memaksamu, bodoh! Hahahaha!” Kata monster itu. Lalu monster itu berlari kearah Michael dan dan menyentuhnya, lalu mereka menghilang. Sejak saat itu, tidak ada yang melihat batang hidung Michael dan monster itu lagi.
….
“Kau kembali, Jordan.” Sambut makhluk yang bertubuh kecil itu. “Ya, dan lihat, aku membawa seseorang yang mungkin dapat memimpin kita.” Monster itu membalas perkataan Ken, sahabatnya dengan terkekeh pelan. “Apa yang kau lakukan!? Aku berada dimana? Dan siapa sebenarnya… ka..lian..?” BRUK! Michael jatuh. “Hei, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia? Pingsan?” tanya Jordan. “Bodoh! Dia mati kehabisan darah!” teriak Ken.
“Loh? Tadi aku hanya menghisap darahnya sedikit kok… masa begitu saja mati?”
“Ya iyalah! Dia manusia! Bukan monster sepertimu! Mana ada manusia bisa beregenerasi dengan cepat? Kita membutuhkan organ baru untuknya! Kalau tidak dia akan mati!”
“Kalau begitu ambil saja organku! Aku yang menghisap darahnya, aku yang membuatnya mati! Aku harus tanggung jawab!”
“Kau yakin?”
“Sangat yakin! Lagipula, satu-satunya monster terkuat disini kan aku…. Jika dia ditakdirkan menjadi pemimpin, maka Ia harus kuat”
__ADS_1
“ Baiklah, jika itu maumu.”
…..
“Hah!! Apa yang terjadi?! Siapa kau? Kenapa kau begitu kecil?!” Teriak Michael ketakutan. “Tenanglah.. monster yang membawamu kesini menolongmu.” Tukas Ken. “Lalu, dimana dia sekarang?” Tanya Michael. “Dia.. menukarkan organnya dengan organmu.. sekarang dia berada diruang sebelah, dia sedang sekarat….” Kata Rei sedih. “Apa?!Bodoh!Aku harus segera menemuinya!” Michael langsung berlari menuju ke ruangan yang Ken maksud. Tanpa bilang apa-apa, dia langsung membuka pintu dengan keras.
BRAK! “Monster bodoh!! Apa yang kau lakukan?!”
“Kau, mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar, aku menculikmu karena aku butuh, dunia tempatku lahir, mulai runtuh…. Aku membutuhkan orang sepertimu untuk menyelamatkan duniaku.. Maukah kau memimpin dunia ini?” Tanya Jordan dengan suara lemas.
“Aku berhutang nyawa padamu! Aku akan ….” Michael berhenti sejenak lalu berkata “Aku akan… memimpin dunia ini dengan segenap jiwa dan ragaku, aku tidak akan pernah merasa puas untuk melunasi hutang nyawa ini.” “heheh…padahal aku sudah membunuh bibimu dan mengambil nyawa temanmu.. tapi kau masih peduli padaku…. Kenapa..? mata Jordan mulai meredup, hingga pada akhirnya matanya tertutup. Tampak ekspresi damai terbentuk pada wajah Jordan.
“Kau tahu? Tidak ada untungnya aku menaruh rasa dendam. Apalagi, pada orang yang telah menyelamatkanku…. Yah… meskipun kau membunuh orang-orang yang aku sayangi…. Aku tidak peduli…. Karena kini, aku sepertimu….” Kata Michael dengan lirih. Kemudian Ia pergi dari ruangan itu.
….
Bertahun-tahun kemudian… dunia yang dipimpin oleh Michael merupakan dunia yang adil, damai, dan tenteram. Tetapi, kedamaian itu tidak berlangsung lama, sebuah pesawat asing jatuh ke dunia mereka. Para monsterpun bersembunyi. Michael dan Ken menghampiri pesawat itu. Tiba-tiba pintu pesawat itu terbuka.
Dibalik orang-orang tersebut, terlihat Diego dan Lisa yang terikat diseret turun dari pesawat. Michael tersentak kaget ketika melihat Diego dan Lisa babak belur seperti habis di siksa. “Apa yang terjadi? Mengapa Diego dan Lisa bisa sampai kesini? Siapa mereka?” Banyak darah disekujur tubuh Diego dan Lisa. Melihat hal itu, Michael tidak tahan karena bau darah yang ada di tubuh Diego dan Lisa. Michael mencoba menahan nafsunya tersebut dengan menahan nafasnya. Michael membawa Lisa dan Diego ke tempat ruang bawah tanah milik Michael, disana banyak makanan dan pakaian yang baik. Seperti ruangan persembunyian yang lengkap dengan bahan kebutuhan mereka.
Michael dan para monster berkumpul di depan kerajaan mereka. Tak jauh dari sana, para penjahat juga berkumpul. Seolah-olah mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.
Peperanganpun dimulai, para monster yang memiliki kekuatan untuk bertahan mencoba menangkal peluru yang ditembakkan dari musuh, tetapi ada yang tidak dapat menahannya sehingga pertahanan para monster pecah.
“Michael!” Michael menghadap ke belakang. Disana terlihat Diego dan Lisa yang menangis memohon agar jangan melakukan peperangan. Michael tersenyum, “Terima kasih karena telah menganggap monster ini sebagai teman kalian….” ZRAAT! Pemimpin tersebut menusuk Michael tepat pada jantungnya. Michael menatap Diego dan Lisa dengan tersenyum. BRUUK! Michael jatuh tertelungkup.
Diego dan Lisa melihat kejadian itu, seketika iris mata Diego dan Lisa berwarna Merah. Diego dan Lisa mematahkan kaki musuh tersebut, lalu menghancurkan kepalanya. Pemimpin musuh pun mati. Semua telah berakhir, para musuh berhasil dikalahkan.
Diego dan Lisa segera menuju ke arah Michael. “MICHAEL!!!”
“Ukh! Ka.. kau.. membunuh pemimpinnya…. Tidak sia-sia aku… uhuk! mengubahmu menjadi sepertiku saat aku membawamu ke ruang bawah tanah…. Untuk selanjutnya, tolong.. pimpin mereka…. Aku titipkan duniaku… pada kalian berdua… terima kasih….” Michael pun mati menjadi serpihan-serpihan bunga berwarna merah. Diego berdiri dan memeluk Lisa. Mereka dan para monster pun berduka.
Beberapa tahun kemudian….
“Lisa….”
“Ya diego?”
“Sudah lama kita tidak mengunjungi Michael, kita kunjungi dia yuk….” Ajak Diego. “Baiklah, kita akan ke makamnya…. Aku akan membeli bunga dulu untuknya” Balas Lisa.
__ADS_1
Lisa dan Diego menuju ke makam Michael. “Michael… sudah lama kita tidak berjumpa.... Bagaimana kabarmu? Kami disini baik-baik saja…. Dunia yang kau titipkan pada kami…. Sejak saat itu, tidak ada lagi peperangan… kau telah mengakhiri semuanya.... Oh! Dan lihatlah… kami membawakanmu bunga merah… Kau pasti suka kan? Baiklah… sudah waktunya untuk melanjutkan pekerjaanku…. Hah… kau seenaknya menitipkan dunia yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu…. Aku dan Lisa menjadi sangat sibuk sekarang…. Andai saja… andai saja….” Air mata mulai mengalir dari kedua mata Diego. “Andai saja kau masih disini bersama kami…. Kami tidak akan sesibuk ini, Aku tidak tahu bagaimana caramu mengatur dunia ini sendirian…. Kami berdua saja sudah terombang-ambing oleh pekerjaan ini…. Aku… merindukanmu…. Wahai Michael, sahabatku.”
Tamat…