Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
BAB 52


__ADS_3



Maura diarahkan oleh ayahnya untuk belajar bela diri. Pelatih utama di sanggar bela diri tempatnya berlatih adalah Andro. Namun sebenarnya Maura lebih nyaman jika dilatih oleh asisten pelatih Andro, yakni Malik. Setiap kali latihan, Maura selalu dibuat kesal oleh Andro.


Bagaimana kisah lengkapnya? Ikuti ceritanya dalam novel berjudul "Pelatih Galak Calon Suamiku".


⭐⭐⭐⭐⭐


"Kau ini mau latihan bela diri atau mau latihan menari sih? Lembek sekali! Kuda-kuda yang kuat. Lemah!" ucap Andro. Dia mengomentari Maura yang baru mulai latihan bela diri hari ini. Maura menatap tajam Andro dengan berani. Hal itu membuat Andro semakin emosi.


"Kau ini mau dilatih tidak? Kondisikan matamu! Ingat, aku adalah pelatihmu! Mana mungkin seorang siswa belajar dengan mudah dan menerima ilmu jika berani melawan gurunya?" ucap Andro dengan tegas. Maura melengos dan enggan melihat Andro.


"Push up seratus kali! Kalau tidak, aku tidak mau melatihmu lagi," kata Andro seraya meninggalkan Maura yang masih memposisikan dirinya membentuk kuda-kuda awal. Andro mendatangi Malik yang sedang melatih beberapa siswa di lapangan.


"Malik, latih saja siswa baru itu! Biar saya yang melatih mereka," perintah Andro.


"Siap, bang!" sahut Malik. Saat di lapangan dan berlatih seperti ini, semua mengacu pada tingkatan sabuk. Sehingga yunior tetap harus menghormati seniornya. Demikian juga murid tidak dibenarkan melawan guru atau pelatih, apalagi saat sedang berlatih.


"Sudah berapa kali push up-nya?" tanya Malik dengan suara sedikit lembut. Berbeda jauh dengan Andro yang langsung keras saat melatih Maura. Padahal ini hari pertama Maura berlatih bela diri. Kalau bukan ayahnya yang memaksa, Maura sangat malas mengikuti kegiatan bela diri seperti ini.

__ADS_1


"Delapan puluh satu, delapan puluh dua..." Maura menghitungnya dengan suara keras. Malik dengan sabar menunggu Maura menyelesaikan hukumannya sementara Andro mengambil alih melatih anak-anak seusia Maura di lapangan.


"Sudah cukup!" kata Malik. Maura mengatur nafasnya yang terlihat ngos-ngosan. Malik menyodorkan air mineral pada Maura. Maura menerimanya tanpa berucap. Dari kejauhan, Andro melihat Malik memberikan air minum pada Maura dan tampak tidak senang.


"Terima kasih, bang!" ucap Maura seraya menyerahkan botol minuman itu kembali pada Malik.


"Letakkan di sana!" perintah Malik sambil menunjuk pada batu besar tidak jauh dari Maura.


"Sekarang kita mulai lagi latihannya ya!" kata Malik penuh kelembutan. Maura mengangguk setuju.


"Karena kamu baru hari ini latihan, aku akan sedikit mengenalkan dasar-dasarnya dulu," kata Malik. Malik mulai mencontohkan gerakan pada Maura. Maura mencoba mengikuti.


"Berikan tenagamu dan keluarkan suaramu. Jangan diam seperti menahan kentut," ucap Malik.


"Aid us hah aid us hah!" suara Maura mulai keluar karena Malik memberikan contoh dan memacu Maura agar tidak malu dalam berlatih.


"Mulai sedikit benar! Yang penting benar dulu. Walaupun belum ada power-nya. Tidak apa-apa. Semangat lagi latihannya," ucap Malik memberi semangat pada Maura.


Maura adalah gadis remaja yang masih duduk di bangku kuliah semester satu. Dia baru masuk di perguruan tinggi negeri di kotanya. Karena maraknya tingkat kejahatan, ayahnya memaksa Maura untuk belajar bela diri. Syukur-syukur Maura bisa berprestasi di bidang olahraga bela diri.


"Lain kali kalau melatih jangan terlalu lembek. Jangan suka memanjakan siswa. Payah kamu ini!" ucap Andro saat selesai latihan. Dan Maura sudah pulang dari sanggar bela diri itu.

__ADS_1


"Baiklah, bang! Gadis itu baru pertama kali latihan, bang! Bisa kaget jika kita latih dengan keras," sahut Malik.


"Kita latihan bela diri, guys! Bukan mengajari gadis itu menari. Ingat itu, Malik! Sebagai pelatih senior, kita harus benar-benar keras pada siswa kita. Semua demi kepentingan mereka juga. Semakin keras kita melatih mereka, semakin kuat mental siswa kita," kata Andro.


"Siap, bang!" sahut Malik.


"Baiklah! Mau langsung pulang atau gimana?" tanya Andro sambil menepuk punggung Malik.


"Langsung pulang saja, bang!" jawab Malik.


"Kalau begitu, maukah kau ngopi bersama dulu? Rileks dulu sambil nongkrong di kafe," ajak Andro.


"Siapa yang berani menolak ajakan abang? Ayo kita pergi, bang!" sahut Malik akhirnya.


⭐⭐⭐⭐⭐


"Maura, bagaimana latihan bela dirimu?" tanya ayahnya, Pak Nandi.


"Pelatihnya galak banget, Yah! Baru latihan langsung kena hukuman push up seratus kali. Benar-benar tidak manusiawi pelatihnya," omel Maura. Pak Nandi terkekeh mendengar cerita putrinya itu.


"Jangan salah, Nak! Justru pelatih bela diri yang galak seperti itu, siswanya banyak yang berhasil menjadi atlit berprestasi. Belajar yang giat ya! Jangan pantang menyerah karena pelatihmu galak. Bela diri akan meningkatkan percaya diri. Oke?" kata Pak Nandi. Maura hanya bisa cemberut mendengar ucapan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2