
Prapto sudah bosan hidup susah dan miskin. Dia selalu dipandang sebelah mata oleh keluarga besar istrinya, Mariyati karena tidak bisa memberikan kemewahan dan kebahagiaan. Setiap hari Prapto hanya bekerja sebagai buruh yang gajinya cukup untuk makan sederhana. Sampai akhirnya dia ketemu dengan teman lamanya yang mengajaknya ke desa pleret untuk menjumpai orang pintar. Di mana orang pintar itu bisa menghubungkan dengan makhluk gaib untuk mendapatkan pesugihan.
Prapto memilih pesugihan kandang bubrah yang baginya tidak memiliki banyak resiko. Namun Prapto tidak bakal tahu bahwa setiap upaya bergantung dengan iblis atau selain Tuhan beresiko. Termasuk menyiapkan tumbal selain setiap tahun harus merenovasi rumah yang ditempatinya supaya segala usahanya lancar. Dan itu akan mendatangkan rejeki dari mana pun asalnya.
Prapto mulai menjalankan usaha kecil-kecilan hingga cepat sukses dan kaya raya. Dia benar-benar sudah memuja setan dan memiliki pesugihan kandang bubrah. Ikuti ceritanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Prapto sudah bosan hidup susah dan miskin. Dia selalu dipandang sebelah mata oleh keluarga besar istrinya, Mariyati karena tidak bisa memberikan kemewahan dan kebahagiaan. Setiap hari Prapto hanya bekerja sebagai buruh yang gajinya cukup untuk makan sederhana. Sampai akhirnya dia ketemu dengan teman lamanya yang mengajaknya ke desa pleret untuk menjumpai orang pintar. Di mana orang pintar itu bisa menghubungkan dengan makhluk gaib untuk mendapatkan pesugihan.
Prapto memilih pesugihan kandang bubrah yang baginya tidak memiliki banyak resiko. Namun Prapto tidak bakal tahu bahwa setiap upaya bergantung dengan iblis atau selain Tuhan beresiko. Termasuk menyiapkan tumbal selain setiap tahun harus merenovasi rumah yang ditempatinya supaya segala usahanya lancar. Dan itu akan mendatangkan rejeki dari mana pun asalnya.
Prapto mulai menjalankan usaha kecil-kecilan hingga cepat sukses dan kaya raya. Dia benar-benar sudah memuja setan dan memiliki pesugihan kandang bubrah. Ikuti ceritanya dalam novel KANDANG BUBRAH
⭐⭐⭐⭐⭐
"Punya suami kok kere! Kamu itu dulu pasti kena pelet oleh si Prapto. Sampai kamu tidak bisa membedakan laki-laki yang pantas untuk kamu pilih menjadi suami. Sudah bagus kamu dilamar oleh si Doni. Eh, malah milih Prapto yang miskin dan pekerjaan nya sebagai buruh saja," omel ibu Mariyati. Dia adalah bu Sumi.
Prapto yang ada di ruangan yang sama tentu bisa mendengar nya dengan jelas. Mariyati tentu saja merasa tidak enak karena suaminya di hina seperti itu. Mariyati mendekati Prapto dan mengajaknya pulang ke rumah. Prapto hanya bisa diam tanpa mampu meluapkan kekesalannya.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Suami istri itu tidak ada obrolan. Tentu saja Prapto tersinggung dengan ucapan orang tua Mariyati khususnya ibu nya Mariyati.
"Mas Prapto! Aku minta maaf soal ibu tadi. Kamu jangan diambil hati yah mas, ucapan ibuku tadi," kata Mariyati.
Prapto mengusap puncak istrinya. Walaupun bagaimana pun, dirinya juga menyadari kalau dia benar-benar miskin dan bekerja sebagai buruh yang pendapatan nya sedikit. Untuk membelikan perhiasan kalung, cincin, gelang emas saja tidak mampu. Makanan yang dimakan setiap hari oleh istri dan dua anak-anak nya pun terbilang sangat sederhana.
"Maafkan aku, Mariyati! Memang benar semua yang dikatakan oleh ibu kamu. Aku ini miskin dan tidak mampu membahagiakan kamu dan anak-anak. Maafkan aku, Mariyati!" ucap Prapto. Mariyati berkaca-kaca matanya. Benar saja. Suaminya sangat tersinggung dengan ucapan ibunya. Namun Mariyati juga tidak bisa membungkam mulut tajam orang tuanya yang selalu saja menghina suaminya.
"Mas Prapto! Maafkan ibuku, mas!" sahut Mariyati. Prapto tersenyum lebar walaupun hatinya sangat panas mendapatkan cacian dari orang tua Mariyati.
"Tapi aku berjanji kepada kamu dan anak-anak. Setelah ini aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Aku ingin kamu dan anak-anak kita mendapatkan kemewahan hidup dan semua kebutuhan tercukupi. Aku juga ingin melihat istriku yang cantik ini memakai perhiasan emas, gelang, kalung, cincin. Dan anak-anak ku bisa memiliki sepeda seperti teman-temannya yang lain," ucap Prapto penuh harapan dan angan-angan. Mariyati justru menangis karena terharu dengan ucapan suaminya.
"Aku sudah merasa bahagia dengan hidup seperti ini, mas! Demi Tuhan aku bahagia. Karena kita sekeluarga dalam keadaan sehat. Walaupun kita hidup pas-pasan dan sederhana. Namun aku merasa bahagia," sahut Mariyati.
"Tapi, aku sebagai seorang suami merasa gagal. Karena aku tidak bisa memberikan kamu kemewahan hidup seperti ibu-ibu yang lainnya," kata Prapto.
Mariyati hanya bisa memeluk suaminya karena dia tidak mampu menahan tangis karena terharu dengan tekad suaminya yang ingin merubah kehidupannya menjadi lebih baik lagi.
"Sudah yah, jangan menangis! Mulai besok aku akan mencari kerjaan yang lebih baik lagi. Hapus air mata kamu. Jangan sampai anak-anak kita melihat kamu menangis," kata Prapto akhirnya.
Mariyati menghapus air mata yang sudah jatuh di pipinya. Dia memaksakan dirinya tersenyum menatap suaminya yang penuh kasih dan perhatian. Walaupun hidupnya tidak seperti ibu-ibu tetangganya, Mariyati terlihat damai dan tenang karena dia merasa cukup bisa rukun bersama suami dan anak-anak nya.
Memang setiap kali mereka pergi ke rumah orang tua Mariyati, orang tua Mariyati suka membandingkan Prapto dengan menantunya lain yang lebih kaya dan mapan. Prapto dan Mariyati jadi malas jika harus mengunjungi orang tua Mariyati atau mertua Prapto. Namun karena siang tadi ada arisan keluarga yang mengharuskan mereka datang, akhirnya Prapto dan Mariyati kembali mendengar ocehan orang tuanya yang merendahkan rumah tangga Prapto dan Mariyati.
"Kalau begitu, aku siapkan makan malam untuk kamu dan anak-anak yah mas! Aku akan buat nasi goreng dengan kerupuknya," ucap Mariyati yang berusaha selalu semangat menjadi ibu dan istri yang baik.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Bagaimana kabar kamu, To?" tanya Duan saat ketemu Prapto saat berada di pasar sedang mengangkat barang-barang milik orang.
"Yah, seperti yang kamu lihat, Wan!" sahut Prapto.
Duan memperhatikan penampilan Prapto yang kacau dan asal. Mungkin saja Prapto sudah tidak memperdulikan lagi gaya hidup dan penampilan nya.
"Kamu sedang mengalami kesulitan ekonomi yah?" tebak Duan. Prapto mengangguk cepat. Duan tersenyum seraya memperhatikan tubuh ideal Prapto yang maco.
"Aku bisa membantu kamu, To. Tapi itu jika kamu mau," sahut Duan. Prapto melebar bola matanya mendengar sahabat nya mau membantu kesulitannya.
__ADS_1
"Tentu saja aku mau, Wan. Sekarang ini aku benar-benar sudah buntu. Keluarga istriku selalu saja merendahkan aku yang tidak becus mencari uang untuk memenuhi keluargaku," jelas Prapto.
Duan mulai prihatin dengan masalah yang dihadapi temannya itu. Masalah Prapto sudah pernah ia alami saat dirinya belum menjadi sekarang ini yang sukses dengan segala usaha dan sudah terbilang mapan.
"Baik, kalau begitu besok pagi ikut aku yah. Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat. Tapi tempat nya ini diluar kota. Kira-kira dua puluh empat jam lebih untuk bisa tiba di tempat itu," jelas Duan. Prapto mulai tertarik dengan ajakan Duan.
"Tidak apa, Wan! Aku harus merubah nasib aku. Aku sudah lelah hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Apalagi ditambah dihina oleh orang-orang dan mertua," keluh Prapto.
"Ya ya, aku mengerti, To! Masalah seperti itu sudah pernah aku alami dulu," kata Duan seraya menepuk puncak Prapto, teman nya sewaktu sekolah dulu.
"Jangan lupa, besok pagi aku akan ke rumah kamu. Siapkan pakaian ganti juga karena kita akan melakukan perjalanan cukup jauh. Sekalian juga aku ada kepentingan di sana. Selain mengantarkan kamu untuk merubah nasib, aku juga memang ada urusan pribadi di sana," kata Duan.
"Syukur kalau begitu! Jadi aku tidak terlalu merepotkan kamu kan?" sahut Prapto.
"Tentu saja tidak! Oke, besok pagi aku ke rumah kamu yah! Aku harus pulang dulu," kata Duan seraya menjabat tangan Prapto.
Duan berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya dia parkirkan. Prapto menatap Duan dengan tatapan yang kagum terhadap perubahan yang terjadi pada nasib Duan.
"Semoga saja ini usaha yang terakhir untuk merubah nasibku. Semoga di sana nanti aku bisa cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan oleh Duan. Walaupun jauh dengan istri dan anak-anak ku. Tapi ini demi mereka juga," gumam Prapto.
Setibanya di rumah Prapto membicarakan soal keberangkatan nya keluar kota untuk merubah nasib. Tentu saja Mariyati merasa keberatan jika Prapto harus bekerja di luar kota yang akan jauh dari istri dan anak-anaknya.
"Tapi, mas! Tapi pekerjaan apa yang ditawarkan oleh Duan? Kalau bisa kamu bekerja di sini saja mas. Aku dan anak-anak lebih suka jika kita kumpul bersama di sini. Walaupun kita hidup dalam kesederhanaan tapi aku dan anak-anak sangat senang jika kamu tidak jauh dari kami," ucap Mariyati.
"Kita lihat nanti saja, Mar! Doakan aku bisa bekerja di sini dan tidak meninggalkan kamu dan anak-anak demi sebuah pekerjaan. Walaupun pekerjaan dan keluarga juga sama-sama penting," kata Prapto.
"Iya, mas! Semoga apa yang kamu inginkan terkabulkan," sahut Mariyati.
"Keinginan adalah bisa merubah nasib keluarga kita. Aku sudah lelah mendapatkan hinaan dari orang-orang. Dan juga orang tua kita karena kita miskin," ucap Prapto. Ucapan Prapto membuat Maryati menangis. Semua karena orang tuanya yang selalu menghina suaminya. Selain itu mungkin saja Prapto akan cuek jika orang menghina dirinya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Dari beberapa pilihan untuk mendapatkan kekayaan dengan cara instan, Duan memilih pesugihan menjual dirinya pada jin. Di mana Duan harus melakukan ritual menikah dengan jin wanita. Sehingga Duan mengorbankan tubuh nya untuk melakukan senggama dengan istri gaib nya. Jika Duan tidak bisa memenuhi keinginan jin itu, taruhan nya adalah nyawanya sendiri.
Dalam perjalanan ke desa pleret, Duan menceritakan kisahnya saat memuja iblis. Dirinya telah menjadi budak setan sekaligus melayani nafsu bejat sang ratu iblis. Walaupun begitu, Duan sudah terbiasa dan menikmati persetubuhan beda dunia itu. Duan mendapatkan uang yang berlimpah ruah entah datang dari mana. Setelah menunaikan tugasnya melayani istrinya yang tidak lain adalah ratu iblis itu, Duan menerima banyak emas dan permata. Dari sanalah, Duan menjualnya sedikit demi sedikit di kota untuk memperoleh uang yang diinginkan.
Di dalam mobil itu, Duan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sambil bercerita tentang kehidupan dan kisahnya, Duan tetap membelah jalanan yang sepi karena guyuran hujan deras tidak juga reda.
"Bagaimana kamu bisa mengorbankan tubuhmu untuk melakukan senggama dengan istri gaib mu, Wan? Apakah kamu benar-benar sudah menyukai istri gaib kamu?" tanya Prapto penasaran.
Duan menyipitkan bola matanya mendengar pertanyaan konyol dari sahabatnya.
"Gila kamu, To! Semua aku lakukan demi mendapatkan banyak emas dan permata. Setelah melakukan senggama, di pagi harinya setelah ayam berkokok di kamar yang khusus aku pakai untuk ritual dengan istri gaib ku, di sana aku dapati banyak emas permata. Awalnya aku pikir itu hanyalah mimpi, ternyata apa yang aku lihat benar-benar asli. Hingga aku bergegas pergi ke kota untuk menjual emas permata itu," cerita Duan.
Prapto mendengar cerita sahabatnya dengan serius. Dia menjadi bingung. Sepertinya pesugihan menjual diri dan sebagai budak nafsu ratu iblis sangat mudah dan gampang. Bahkan bisa membuat enak yang bersangkutan.
"Duan, kalau boleh bertanya. Saat melakukan senggama dengan ratu iblis itu, apakah kamu merasakan enak? Maaf Duan! Aku hanya penasaran," ucap Prapto ragu-ragu untuk bertanya masalah itu.
"Hehehehe, awalnya aku merasakan jijik, To! Sampai aku memejamkan mata saat melakukan senggama itu. Hingga lama kelamaan aku mendapatkan enaknya. Tapi itu pun tidak berlangsung lama.Ternyata ratu iblis memiliki nafsu yang melebihi ekspetasi kita. Dimana ratu iblis tidak pernah puas hanya dengan melakukan satu kali kegiatan berhubungan intim," terang Duan. Prapto yang mendengar mengerutkan dahinya.
"Lalu berapa kali, kamu melayani ratu iblis itu, Wan?" sahut Prapto.
"Sampai ayam jantan berkokok. Jelas-jelas aku terkuras stamina ku, To. Daya tahan tubuh ku semakin lama semakin habis dengan hubungan itu. Namun aku harus melakukan itu demi emas permata," kata Duan. Prapto tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Duan yang mesum.
"Jadi apa perlu kamu minum obat kuat kalau hendak melakukan ritual dengan ratu iblis, istri gaib kamu itu, Wan?" tanya Prapto.
"Hahaha tentu saja! Akhirnya aku harus mengkonsumsi obat itu setiap harus melayani istri gaib ku. Kalau tidak? Ratu iblis akan marah dengan ku karena aku, tidak bisa memenuhi keinginan nya," sahut Duan dengan tersenyum lebar.
"Haha," Prapto mentertawakan kehidupan Duan yang kini telah menjadi budak nafsu bagi ratu iblis. Duan telah menjual tubuh nya pada ratu iblis demi mendapatkan emas permata sebagai imbalannya.
__ADS_1
"Apakah kamu tertarik dengan pesugihan menjual diri seperti ku?" tanya Duan.
"Lihat saja nanti, Wan! Yang pasti aku sudah lelah hidup dalam penghinaan orang-orang karena aku tidak punya apa-apa. Terutama mertuaku yang selalu memandang rendah aku, membandingkan aku dengan menantu nya yang kaya dan sukses tidak seperti aku," kata Prapto akhirnya. Duan hanya manggut-manggut saja mendengar keluhan sahabatnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Kamu kenapa membawa temanmu kemari, nak? Jelas-jelas kamu tahu kalau kamu mengajak, menganjurkan ketempat ini, itu artinya kamu mengajak teman kamu ke jalan sesat," ucap pria tua yang dikenal dengan nama Ki Ageng Praja. Dia adalah sesepuh di desa Pleret.
⭐⭐⭐⭐⭐
Jalan pintas pesugihan Kandang Bubrah adalah cara yang disebut cepat mendatangkan kekayaan.
Hingga sekarang banyak yang melakukan praktik pesugihan Kandang Bubrah karena disebut-sebut tanpa tumbal.
Kisah nyata pesugihan ini dialami Ibu A, pengusaha kuliner asal Jawa Timur yang tidak menyangka sama sekali perbuatannya akan berbuah tragis.
Menurutnya, keberhasilan para pelaku pesugihan yang bersekutu dengan Jin akan datang secara tiba-tiba. Bisa lewat usaha dagangan yang laris, order ramai, hingga mendapat pesanan yang tidak pernah disangka-sangka.
Ibu A melakukan ritual ke sebuah gua di Jawa Tengah dengan bantuan seorang ahli spiritual.
Pelaku nekat melakukan pesugihan karena yakin dengan ucapan dukun yang menyebut jika kandang bubrah tidak membutuhkan tumbal nyawa.Tragis! Kisah Nyata Akibat Melakukan Pesugihan Kandang Bubrah yang Disebut Tanpa Tumbal.
Untuk memperoleh kekayaan, Ibu A dan suami hanya perlu menggelar sesajen dan berperilaku seperti yang diperintahkan ahli spiritual.
Di keheningan malam saat ritual berlangsung, Ibu A mendengar sesuatu yang terjatuh dan mengagetkan mereka.
Dukun ilmu hitam tersebut memberikan isyarat jika permohonannya telah terkabul. Mereka kemudian memakan buah yang sebelumnya telah jatuh dari pohon.
Di akhir perpisahannya, ahli spiritual berpesan untuk datang kembali ke tempat pesugihan dan melakukan ritual yang sama tiap tahunnya.
Pesan terakhir dari sang dukun membuatnya heran, mereka tak boleh sering-sering membersihkan rumah dan harus melakukan renovasi setiap tahun.
Selain itu seluruh keramik yang terpasang harus dihilangkan dan diganti dengan tanah saja.
Singkat cerita, segala yang menjadi keinginan mereka terkabul. Usaha yang dijalani mudah sekali didatangi pelanggan dan berkembang pesat hingga sekarang.
Semua pesan yang diberikan pelaku spiritual tidak berani dilanggarnya. Ibu A tidak lupa untuk melakukan renovasi rumah beberapa kali dalam setahun walaupun membuat rumah terlihat tidak asri.
Akibat jarang membersihkan rumah, anak mereka satu-satunya berinisiatif membersihkan rumah, tetapi mereka melarangnya dengan berbagai alasan dan menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan lain.
Beberapa tetangga sedikit heran dan terganggu dengan keberadaan keluarga ini yang terlihat tidak apik dan jorok tersebut.
Sebagian maklum karena kesibukan pengusaha kuliner ini membuatnya sulit untuk membersihkan rumah.
Semua seperti biasa-biasa saja, kehidupan mewah dan usaha yang dijalani berkembang pesat dari hari ke hari.
Hingga suatu waktu, anak semata wayang mereka tiba-tiba mengalami kecelakaan dan membuat nyawanya tidak tertolong lagi.
Mereka sangat terpukul dengan peristiwa ini. Ibu A memang memiliki segalanya, tetapi kejadian yang menimpa putra tercintanya adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.
Setelah kehilangan putra tercintanya, mereka seperti tersadar bahwa selama ini ada sesuatu yang hilang dalam diri mereka yaitu ingatan kepada Tuhan.
Walaupun hidup bergelimang harta, hidup mereka benar-benar merasa hampa. Ibu A tidak tahu pasti apakah putra semata wayang mereka tewas karena ajal atau dijadikan tumbal pesugihan.
__ADS_1