Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Balas Dendam Istri yang Teraniaya


__ADS_3

Nia gadis cantik terpaksa nikah muda, usianya baru 16 tahun. Saudagar kaya raya tetangga kampungnya meminang Nia dengan limpahan mahar yang super mewah, mobil ternama berwarna silver bertengger di depan rumahnya yang hampir roboh. Nia terlahir dari orang tua yang tak mampu, miskin orang-orang mengatakannya.


"Aku tidak mau nikah muda". Kepada Sarah teman kecilnya Nia mengutarakan.


Sebelum pernikahan berlangsung Nia menjumpai Rafa, kekasih hatinya di temani Sarah dan Raka.


"Rafa, bawa kabur aku". Sambil menangis Nia meminta pertolongan pacarnya agar bersedia membawanya pergi jauh.


"Tidak baik Nia, nanti orang tua mu mencarimu, ibu mu nanti sakit". Rafa berusaha menenangkan Nia.


"Apa kau tak cinta kepadaku"?


"Cintaku dalam, teramat sangat mencintai, maka aku menjagamu dengan mengikhlaskan dirimu, agar keluargamu selamat dan bahagia".


"Kau berbohong Rafa, kau tak mencintaiku".


"Seandainya ku mampu, ku ingin membawamu ke rumah dan meminta izin untuk menikahimu terlebih dahulu dari pada tuan kaya itu. Namun apakah ayah ibumu akan merestui hubungan antara kita".


"Rafa aku mau mati saja". Nia beranjak dari duduknya.


"Itu perbuatan nista, Nia". Rafa mencegah Nia dengan kasih sayangnya.


Setelah hari itu tidak ada lagi pertemuan antara Nia dan Rafa, Sarah dan Raka menjadi saksi cinta tak mampu berbuat apapun.


Pernikahan berlangsung meriah, sumringah kedua orangtua Nia, bangga dengan pernikahan anaknya, rumah yang dulu reot dan hampir roboh, kini sudah megah bak istana. Juragan kaya raya membangunkan istana untuk calon mertuanya, dengan isi perabotan rumah yang mewah dan lengkap, tidak ada yang kurang sofa tebal dengan harganya yang fantastis, empuk saat di duduki, warna coklat susu, tak lupa bantal kursi dengan warna yang senada pula. lemari pendingin pintu dua warna silver bergaris hitam bertengger di dapur berdekatan dengan kursi makan. Rumah lantai dua warna putih dengan pintu pagar nampak mewah dengan isi garasi mobil keluaran terbaru warna hitam. Mempercantik tatanan rumah minimalis bergaya modern.


"Sekarang rumah pak Dullah bagus, gak kebocoran lagi". Gosip tetangga mulai marak.


Rangkaian akad nikah berjalan dengan khidmat, dari kamar pengantin Nia matanya sembab meski sudah di hiasi dengan dandanan pengantin yang mahal harganya, pak Dullah dan Bu Dullah berkali-kali masuk mengingatkan Nia "Awas kalau matamu masih menangis, ibu bapak malu sama warga, masa pengantin wanitanya sedih di hari pernikahannya". Cerocos ibu Dullah dengan menggunakan kebaya dan kipas di tangannya, ia memastikan keadaan aman dan tentram sebelum Nia masuk ke pelaminan.


"Sar, aku gak kuat"


Sarah yang setia menemani Nia memegang bahu Nia dan mengelusnya memberikan semangat.


"Nia, kamu harus sabar, liat ibu bapak, iringan pengantin, hantaran yang begitu mewah". Ucap Sarah.


Duduk di pelaminan bersama juragan membuat Nia tak nyaman, ucapan selamat dari para kolega teman bisnis, tetangga, karib kerabat menghampiri.


Nia tidak mau makan, setelah acara selesai sampe sore hari. Undangan bersifat terbuka, makanan begitu banyak, para undangan di berikan souvenir cantik, semua senang, hanya Nia yang menderita.


Rafa tak jua datang, tak memberikan restu dan doa untuk Nia. Entah kemana Rafa......


Nia di boyong juragan ke istananya dengan Isak tangis Nia tidak mau berpisah dengan ibu dan bapaknya.


"Sudah, kamu sekarang udah menjadi istri juragan, pergilah". Ibu yang sudah terlalu bahagia dengan pernikahan Nia tidak merasakan sama sekali kesedihan yang di alami Nia. Malah seolah-olah gerakan tubuhnya mengatakan segera pergi dari sini.

__ADS_1


Langkah berat Nia melangkah, di dampingi juragan yang berperawakan tinggi dan perutnya yang buncit. Sudah tidak muda, namun masih terawat dengan baik.


Perjalanan di mulai, mobil mewah juragan perlahan tapi pasti meninggalkan rumah pak Dullah yang masih berantakan sehabis acara pesta pernikahan.


*****


"Sekarang kamu sudah jadi istriku, boleh melakukan apa saja, belanja di mall mana yang kamu mau, beli apa yang kamu sukai, tidur seharian di rumah tidak jadi masalah, hanya dua syarat ku." tangan juragan memberikan isyarat dua jarinya di angkat.


"Pertama jangan kau hubungi Rafa kekasihmu itu, yang kedua Sarah kawan masa kecilmu, Selebihnya kau boleh melakukan apa saja, tidak akan ku larang, bi Jum akan melayani segala kebutuhanmu, dan mang Sardi supir pribadi yang akan siap mengantar kemana pun dan kapanpun.


Ibarat pisau mengiris, dua syarat berat sekali. Rafa dan Sarah dua insan yang ada dalam kehidupannya kini harus sirna karena juragan tidak menyukai. Baru sehari saja menjadi istri juragan rasanya seperti se abad lamanya. "Bagaimana ini?". Getir Nia.


******


1,2,3 bulan lalu menjadi satu tahun. Nia akhirnya tahu tabiat asli dan buruk juragan, mulai terlihat. Kata-katanya kasar, urakan, sombong, suka main perempuan, joged dangdutan di setiap kesempatan. Nia tidak begitu peduli awalnya, dengan tabiatnya tapi lama kelamaan sifat buruk juragan tidak membuatnya nyaman, merasa tidak di hargai perasaannya, tidak di hormati kedudukannya sebagai istri Syah.


"Untungnya aku gak punya keturunan, andai aku punya anak, malu rasanya tabiat bapknya di luar sana". Nia berusaha menghibur diri.


"Uang tak selamanya memberikan kebahagiaan, meski mampu membeli tas segudang, emas permata, tapi kalau kasih sayang suami tidak ada percuma saja".


"Kekurangan uang juga bisa menjadi sumber masalah", Bi Jum menimpali nyonya mudanya yang tahu perasaannya. Istri mana yang mau diperlakukan begitu, kalau suaminya hanya menikahinya sekedar status.


****


Badan Nia mulai kurus, yang dulu montok dan gemoy kini tidak lagi, pipi mulai tirus. Nampak tidak bahagia dengan perlakuan juragan, "Tidak adil". Ujarnya.


****


"Kamu cukup makan, jajan, rumah mewah, belanja". Hardik juragan. Sederhana saja Nia hanya ingin bermanja dengan suaminya.


Namun itu hanya isapan jempol saja, juragan tidak menggubris keinginan Nia dan menggap angin lalu.


*****


Rasa jenuh, bosan melihat perlakuan juragan, datang dari pekerjaannya main telepon genggamnya, haha hihi, telpon dengan wanita di luar sana, lama sekali. Bisa berjam-jam menelpon kesana kemari, sibuk mencari kontak di handphone nya yang tidak boleh tersentuh oleh Nia, handphone ibarat jimat melebihi apapun.


Ibarat luka yang sudah mengering, Nia membalikkan keadaan, dia sudah tidak perduli dan bertanya lagi. Kemana, dimana, sama siapa? Semuanya terserah. "Punya hati gak pake jantung, seenaknya sendiri, enak di kamu gak enak di aku".


Nia sudah tidak merespon dengan baik, ucapan kasar di balas kasar, sikap dingin di lakukan Nia karena sakit hati.


Kesepian dan rasa sakit yang di alami membuat nekad, ia mencari tahu di mana Rafa, Sarah dan teman-teman lainnya.


Telpon genggam Nia berbunyi, panggilan masuk nomor yang tidak di kenal.


"Assalamualaikum," di ujung telpon.

__ADS_1


"Nia, gimana kabarnya".


Suaranya yang tidak asing, suara yang di nanti. Suara yang dulu pernah memberikan ada dan harapan. Kini terdengar kembali, bagai suara alam yang membahana mendetakkan jantung yang sudah lama tak berdetak.


Wanita tahu cara mengobati sakit dan lukanya. Tenang saja pembalasan akan lebih kejam.


Tak selamanya sedih menjadi milik kita yang abadi, kebahagiaan pun akan di raih dengan cara nya sendiri.


"Mau kemana hari ini?, Cantik sekali". Tumben suami nya bertanya.


"Tumben nanya, biasanya gak perduli". Nia tidak memperdulikan.


Ia sibuk merias wajahnya dan memilih pakaian, tak lupa tas dan sepatu sendal pun ia perhatikan supaya sepadan. Tidak norak, sederhana tetapi berkelas.


Nia meninggalkan suaminya di dalam kamar sendirian.


Berjam-jam menanti, juragan tak juga menemukan batang hidung Nia, "Kenapa Nia berubah"?. Gadis yang lugu, manut dan patuh kini berbeda. Juragan heran dan kaget dengan perubahan sikap Nia.


"Mang sadi gak tahu istriku pergi". Juragan mengintrogasi mang Sadi yang di percaya melayani nyonya muda kepada pun langkahnya.


"Tidak Tuan, saya di pos satpam, melihat nyonya Nia pergi memakai mobil online".


"Memesan ojek online". Juragan mengegeleng-gelengkan kepala. "Aneh, kemana dia pergi, sama siapa?".


Larut malam Nia tiba dengan roman bahagia, sempat kaget melihat suaminya ada di rumah.


Belum sempat berganti pakaian. "Dari mana kamu? Baru pulang selarut ini? Sama siapa? Kenapa tidak dengan mang Sadi? Pertanyaan juragan seperti peluru menembak musuh, bertubi-tubi.


"Hanya jalan-jalan" Nia menjawab dengan nada datar. Sudah tidak ada ketakutan dalam hatinya.


"Handphone mu mati, berkali-kali ku telpon tidak aktif".


"Kenapa meneleponku?, Ada yang kau perlukan dariku". Sadis jawaban Nia, menambah juragan blingsatan bagaimana semua bisa terjadi pada Nia, Nia yang di anggap hanya anak kecil ingusan, manis dan cantik telah berbeda.


"Sudahlah mas, kalau Memeng mau menyakiti perasaanku, dan sibuk mencari perempuan-perempuan lain hanya demi kebahagiaan, kita akhiri saja hubungan ini, aku tidak butuh harta bendamu, harta yang tidak akan di bawa mati, semuanya semu".


Hatiku sudah retak, berkeping-keping, kemana saja selama ini kamu baru peduli sama istrimu yang kau anggap anak ingusan yang tidak tahu dunia". Mata Nia membelalak memencarkan kebencian yang selama ini ia pendam.


Dooooor, peluru menembus jantung juragan, terkulai lemah dan bersimbah darah.


"Ceraikan aku, dan kembalikan Rafa padaku".


Permintaan Nia untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan istana megah milik juragan.


*******

__ADS_1


Pak Dullah dan Bu Dullah tidak tahu gelagat jelek menantu kesayangannya, karena semua sudah tertutup dengan limpahan materi. Mereka tidak menyadari anak semata wayangnya menderita, di siksa bathinnya.


__ADS_2