
Ia susupkan wajah mungilnya di balik jendela, bibir nya yang mungil komat kamit berbicara sendiri, di tangannya ada sehelai uang 2000 kertas pemberian kakaknya sebelum pergi bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Anna tinggal berdua dengan kakak perempuannya Seila. Kedua orangtuanya meninggal di usia muda. Karena kecelakaan mobil umum yang di mereka tumpangi menabrak pembatas lintasan kereta api.
Sheila dan Anna hidup dalam keadaan sederhana, tinggal di rumah gubug, serba kekurangan, terkadang bantuan dr lingkungan sekitar datang yang begitu peduli dengan keduanya.
"Bu Dinah, Anna itu anak pinter yah, enggak cengeng di usianya yang masih kecil, baru berusia lima tahun lhooo...", Mamah Zaki mengucap kagum kepada Anna.
"Iya, kalau anak saya masih merengek nangis, manja". Bu Dinah menimpali.
Sebelum Sheila berangkat bekerja, sebagai penjaga toko mainan dekat rumahnya, milik Bu Hasna, Anna kadang ikut kadang tidak, bagaimana keadaan dan kondisi.
Biasanya Anna akan memeluk Sheila sambil berucap " Anna sayang kakak", memeluk erat Sheila. Lalu Sheila pamit dan meninggalkan anak bermain dengan anak-anak lainnya di temani Bu Dinah atau mamah Zaki.
Keduanya baik mau mengasuh Anna, mengajak Anna main di rumahnya yang bagus. "Mainan Zaki boleh di pake". Memperbolehkan Anna memakai permainan Zaki yang banyak dan macam-macam. Ada kuda-kudaan, Vespa kecil, mobil-mobilan yang biasanya nongkrong di mall-mall besar.
Anna tentu tidak punya, di kamarnya hanya ada boneka Mickey mouse ukuran kecil warna merah, di belikan ayah sebagai oleh-oleh dari Jakarta, ayah Anna tiga bulan pernah mencoba peruntungan kerja di ibukota. Tetapi kerja di Jakarta tidak semudah dengan harapan, bukan salah ibukota hanya saja ayah Anna hanya luulusan Sekolah Dasar. Meski siang malam bekerja tidak terkumpul juga. Hanya menyambung nyawa saja.
Gaji sebulan sebagai tukang kebersihan tidak mencukupi untuk kontrakan dan makan.
Kembali ke kampung sebagai petani sayuran di jalani dengan sabar, sampai waktu nya untuk meninggalkan dunia hanya dalam sekejap saja.
"Anna tunggu di rumah yah, ayah sama ibu mau jual sayuran hasil panen kali ini, angkotnya sudah menunggu di depan rumah".
"Nanti ibu belikan oleh-oleh kesukaan Anna dan kakak Sheila, ibu mengelus halus lembut pipi Anna, mencium dan memeluk dengan erat, seolah-olah tidak mau lepas".
"Ayo... Ibu, angkotnya udah menunggu tuuuh". Sambil menggandeng ibu ayah mengecup kening kedua putrinya, belahan jiwa dan penyemangat hidupnya di dunia. Supir angkot menyalakan suara klakson berkali-kali.
Sore sudah tiba, ayah dan ibu belum juga datang. Sheila resah.
"Biasanya ibu sama ayah sudah tiba di rumah". Sheila menggendong Anna keluar rumah sambil menengok kanan kiri, mencari ayah ibunya yang belum datang dari pasar.
__ADS_1
Tidak lama berselang ambulance melaju dengan kencang, sirine bersuara dan berhenti tepat di rumah Sheila dan Anna.
Ternyata pagi itu ayah dan ibu pamit. Sheila menangis histeris melihat dua jasad ayah ibunya.
Anna tidak mengerti, hanya melihat dan menyaksikan banyak orang yang berkunjung ke rumahnya.
Setelah itu Anna hanya duduk di balik jendela kamarnya yang kecil di tutupi gorden berwarna biru muda.
******
"Kak, Anna pengen beli baju bagus kayak Putri di televisi, tadi Anna lihat di televisinya Bu Dinah. Cantik sekali, aku juga kalau pake baju kayak putri itu cantik kali yaah kak?".
"Itu kan di televisi Anna". Sheila menghela nafas sambil berfikir dari mana dapat uang untuk membeli baju, makan saja masih kekurangan.
"Yaahh kakak.. ". Anna merajuk memasuk ke kamar dan bersembunyi jendela di balik tirai warna biru.
"Sabar yaah Anna... ". Sheila membuka tirai gorden dan menatap mata Anna yang mendung, sedih.
"Hey,". Tata mengejutkan lamunan Sheila.
"Hhhh...., Itu tadi sebelum berangkat kerja Anna minta di beliin gaun, pas maen ke rumah Bu Dinah nonton televisi lihat putri cantik.
"Padahal sudah di bilangin itu kan di televisi, Anna malah menangis masuk kamar bersembunyi di jendela di balik tirai".
"Sedih lihatnya". Sheila menundukkan kepala. Tata melihat Sheila. "Berapa besar kasih sayang Sheila untuk Anna". Dalam kalbu tata berucap.
"Biasa kalau anak kecil Sheil, Memang begitu, enggak sabar dan enggak mengerti keadaan kita". Tata berusaha menenangkan pikiran Sheila yang memikirkan keinginan Anna.
******
Minggu berganti Minggu uang yang terkumpul belum cukup untuk membeli baju idaman Anna, sisa dari gajih harian Sheila simpen, setelah cukup membeli makan.
__ADS_1
Bu Dinah sebagai tetangga yang baik hati, tidak pernah segan menginjakkan kakinya di rumah Sheila dan memberikan nasi yang bisa di makan, atau kue-kue sisa makanan anak-anaknya yang masih layak di makan.
"Sheila sini", ujar Bu Hasna pemilik toko.
"Iya Bu". Sheila bergegas menuju Bu Hasna, sebagai anak buah yang baik harus segera menghadap Bu bos, apalagi bosnya sebaik Bu Hasna.
"Ini ada titipan buat kamu dari anak ibu yang bekerja di Amerika. Ibu Hasna menyerahkan amplop berwarna coklat panjang. Agak tebal dalamnya. Tapi Sheila belum bisa berani membuka isi amplopnya.
"Neng Dian anak ibu yang ke dua katanya lagi ada rezeki banyak, jadi semua pegawai di kasih sebagai rasa syukur". Bu Hasna memegang tangan Sheila yang tahu betul beban hidup yang harus di jalani Sheila.
Uang yang di kasihkan kepada Sheila tidak sama nilainya dengan pegawai lainnya. Bu Hasna sangat bijaksana terhadap pegawainya.
Meski bulanan di berikan tepat waktu, Bu Hasna memberikan hadiah bagi pegawainya yang rajin dan ulet.
*******
"Alhamdulillah, Terimakasih Bu". Sheila mencium tangan Bu Hasna dengan ta'dzim.
Bahagia bukan kepalang, setelah di buka isi amplop lima lembar merah. "Lima ratus ribu rupiah, Sheila gemetar memegang uang yang baru saja di terimanya".
Sheila langsung ke pasar yang tidak jauh dari toko mainan tempatnya bekerja, gaun warna jingga untuk Anna terbungkus dengan rapih. Sudah terbayang kebahagiaan dan senyuman Anna.
"An, Anna... Lihat apa yang kakak bawa". Plastik berwarna putih berisi gaun buat Anna di angkat Sheila.
Anna hanya diam terpaku di atas dipan kamar yang tak berkasur.
Anna tak lagi meminta apapun, dan meninggalkan Sheila sendirian di dunia. Sebatang kara.
Sunyi sepi sendiri, luka masih mambasahi kalbu, kepergian Anna menambah luka Sheila, dalam kesendirian Sheila menitip salam dan rindu untuk ayah ibu."
"Ayah, ibu. Anna sudah berkumpul. Sedang aku sendiri tanpa teman. Bagaimana bisa ku melanjutkan hidup". Isak tangis Sheila pecah.
__ADS_1
Gaun warna jingga buat Anna kini hanya dalam kenangan, sheila diam terpaku di samping kuburan yang masih berwana merah. Di taburi bunga yang masih segar "Maafkan kakak mu".