
Dahlia wanita yang sudah mapan, berpenghasilan cukup dan cantik. Anak bungsu dari sembilan bersaudara ini belum juga menemukan pasangan hidupnya, jangankan suami pacar saja tidak ada dalam koleksi hidupnya.
Hidupnya lurus, tak berbelok-belok, tidak neko-neko. Pertemanannya hanya dengan segelintir orang saja.
Di usianya yang sudah menginjak kepala empat puluh tahun. Dahlia Kusuma belum pernah berhasrat ingin menikah, terbesit dalam fikirannya pernikahan adalah sebuah keterkungungan, kepatuhan seorang wanita terhadap laki-laki yang bukan bapaknya, saudaranya atau kekerabatan lainnya.
"Aku enggak mau menikah, pokoknya titik". Dahlia berusaha tegas kepada ibu dah ayahnya.
"Cucu ayah ibu udah banyak kan?, Enggak mesti anak dari aku". Ketus Dahlia sehabis makan malam bersama di malam Minggu tanggal dua puluh empat bulan September dua ribu dua belas, tepatnya pembicaraan itu terjadi.
Sarni yang mendengar ucapan Dahlia sempat kaget, kakak pertamanya yang teramat begitu menyayangi Dahlia.
"Kenapa kamu tidak mau menikah?". Sarni masuk ke kamar Dahlia tanpa mengetuk kamar terlebih dahulu.
Dahlia sibuk dengan pekerjaan kantornya yang masih menumpuk belum sempat ia bereskan di kantor.
"Kak Sarni, Dahlia sudah bahagia dengan semuanya, anak-anak kakak sudah meramaikan rumah ini, belum kakak-kakak yang lainnya. Keponakanku sudah banyak". Dahlia memberikan pengertian kepada Sarni.
"Kan itu anak kakak-kakakmu.".
"Iya, kalau lebaran kumpul rumah ini sudah penuh, jadi buat apa lagi ayah ibu menginginkan cucu dariku". Dahlia menutup laptop lalu mengajak Sarni berbincang di atas kasurnya.
"Perkataan mu membuat ayah ibu sedih".
"Apa karena aku perawan tua, yang enggak laku-laku, terus ayah ibu malu punya anak kayak aku di depan keluarga, sahabat, teman sosialitanya, dan kolega-kolega ayah". Dahlia meluap-luap.
"Enggak gitu juga Dahlia". Sanggah Sarni.
"Lantas apa kak?". Dahlia balik bertanya.
Sarni hanya diam dan menatap adik perempuan bungsunya dengan tatapan sayu.
"Apa masalahnya, sehingga Dahlia tidak mau menikah dan membenci pernikahan". Sarni bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
Memang di akui, Dahlia tidak seperti anak perawan pada umumnya di masa remajanya. Bersolek untuk memikat kaum Adam, atau membawa laki-laki kerumah, bermain atau janjian, ngedate sana sini. Sarni begitu memperhatikan perilaku Dahlia selama sekolahnya.
Karena waktu sekolah Sarni tidak begitu memikirkannya, biar fokus belajar jangan pacaran. Namun sekarang Dahlia usianya sudah menjelang batas dewasa.
Teman-temannya sudah berumah tangga, punya cucu malah sudah ada yang menjadi janda.
" Bahkan menurut Dahlia, temannya yang bernama Siti sudah menjadi janda tiga kali. Sedangkan adikku belum satu kali pun menikah". Ujar Santi kepada suaminya menjelang tidur.
"Belum waktunya kali mah, Dahlia enggak mau terganggu dengan karirnya". Suami Santi mematikan lampu tidur di sebelah ranjang kanannya.
"Mau sampai kapan adikku melajang?". Fikir Sarni.
*******
Dahlia tidak pernah bersuara tentang kata hati, ia terus saja berjibaku dengan pekerjaan kantornya. Targetnya bulan depan ia mau ke Amerika, kota paman Sam yang menjadi negara idamannya.
"Amerika l'm coming". Dalam denah negara yang sudah tertempel di dinding kamarnya.
Negara yang sudah di kunjunginya, Dahlia beri tanda warna kuning, Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda, Inggris, Istambul sudah ia pernah jelajahi.
"Jangan curhat sama manusia, manusia suka ingkar". Ucap Dahlia. ia sering kecewa dengan sikap dan sifat manusia. Manusia berkedok dua.
Memilih diam menjadi alasannya, tidak pernah berspekulasi dengan hutang, arisan atau kumpul-kumpul yang tidak jelas arah dan tujuannya.
Kantor, rumah dan pekerjaan keluarga negeri itu saja ritme dalam kehidupan Dahlia. Maka tidak terlalu tahu dan tidak begitu peduli dengan urusan orang lain.
*******
Tiket ke Amerika sudah ada di genggaman, visa, paspor dan kelengkapan administrasi sudah beres. Tidak lupa data dan kebutuhan pekerjaan yang harus di selesaikan di Amerika nanti di persiapkan. Kebanyakan data menggunakan soft-copy, hanya beberapa data hard-copy yang ada di dalam tas Dahlia.
Tas gendong (ransel) bermerek berwana hitam, jadi pilihan Dahlia diantara koleksi tas lainnya yang ada di lemari pajangan di sudut kamarnya. " Tas ransel enak di bawanya, dan beberapa koleksi kantong cukup memadai untuk membawa perlengkapan Dahlia selama di Amerika".
Koper mini dengan beberapa helai pakaian, dan kebutuhan lainnya sudah aman terkendali. Tidak banyak, biasanya dari rumahnya hanya membawa satu koper kecil, pulangnya bisa berkoper-koper. Isinya oleh-oleh buat semua anggota keluarga.
__ADS_1
Praktis saja, seperti mau berangkat ke tempat biasa. Gaun casual selalu menjadi fesyen Dahlia. Meski usianya cukup terbilang dewasa, karena gaya dan cara berpakaiannya menutupi usianya. "Mesti banyak yang harus di tutupi... Hehehe...". Ungkap Dahlia sambil merias tipis wajahnya di depan meja rias kamarnya yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat, dengan vernish yang mengkilau, kuat dan kokoh mengisi kamar Dahlia.
Berderetan dengan lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati dengan warna yang senada.
"Pulang dari Amerika kamu harus menikah". Ucapan ibu bagaikan ujung pisau menyanyat jantung.
"Begitu mudah kah? Mencari pasangan hidup". Ujarku sambil mengelus halus tangan ibunya.
"Sebelum ibu meninggal kamu harus menikah, ibu sudah menemukan jodoh yang terbaik".
"Apa! Ibu mau menjodohkan ku dengan laki-laki yang tidak ku ketahui". Dahlia bingung apa yang harus di lakukan.
Dalam perjalannya di pesawat terbang, dan selama seminggu bekerja di Amerika, Dahlia tidak tenang, kefikiran dengan keputusan ibunya.
******
"Ini ust Burhan, anak saudara ibu, besok atau lusa kamu harus menikah".
"Burhan!.. nama yang jadul, desis Dahlia. Seorang ust mau di nikahkan denganku... Oooh my God. Bagaimana ini, ingin rasanya kabur dan lari dari rumah ini.
"Enggak mungkin kan ibuku menjerumuskan ku?". Dahlia berusaha berfikir jernih dan menahan emosi.
"Mah, rumah tangga kan bukan permainan mah," Dahlia tidak sanggup berkata-kata yang lain.
"Makanya Mamah menjodohkan kamu dengan Ust Burhan, kamu tidak akan menyesal dan Mamah yakin kamu akan jatuh cinta setelah menikah dengan Burhan".
Mamah tetap memberikan semangat dan keyakinan bahwa Burhan adalah lelaki yang tepat menjadi pendamping Dahlia, menjadi imam yang kelak akan membimbing dan menjaga sampai tua bahkan sampai ajal memisahkan.
"Oooh Burhan, kaukah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku?, sebelum Mamahku meninggal. Pernikahan ini adalah sebuah konsekwensi.
Konsekwensi pengabdianku kepada Mamah di ujung kepergiannya di dunia ini.
Kelimpungan Dahlia melihat calon suami yang sudah dijodohkan oleh ibunya, seorang Ust muda berparas putih bersih, dengan tahi lalat di ujung dagunya yang tirus, mata nya yang tajam dan rambut hitam ikal. Tinggi dan menggunakan kain sarung.
__ADS_1
Bagaimana nanti sarung itu kalau masuk ke gedung ke tempat pekerjaanku? Dahlia sudah tidak bisa berfikir lagi.
...****************...