Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
Istri Manifestasi Suami


__ADS_3

Jika ingin isterimu cantik, percantiklah.


Jika ingin isterimu bahagia, bahagiakan lah


Jika ingin istrimu tersenyum, berilah hadiah kesukaannya.


Jika ingin isterimu indah, indahkanlah


Jika ingin istrimu baik, perbaikilah.


Jika ingin istrimu hormat, hormatilah.


Jika ingin istrimu sayang, sayangilah.


******


Istri akan memperlakukan suaminya, sebagaimana suami memperlakukannya.


Bagai cermin, istri melihat bayangan suaminya.


Ia akan belajar bagaimana suaminya memperlakukannya, baik-buruknya soorang istri tergantung suami.


******


Istri tulang rusuk yang patah, tidak penuh. Mencari tulang rusuknya yang bernama jodoh. Jodoh taqdir Ilahi, guratan kehidupan.


" Semua berpasang-pasangan, ada yang lama, ada yang cepat mendapatkan pasangannya" Tutur pak Haji Ahmad dalam ceramah mingguannya di salah satu televisi swasta.


"Tidak usah khawatir, Janji Allah benar.


Jodoh adalah taqdir Allah, yang masih bisa di usahakan mencari yang terbaik di antara yang baik.


"Jangan asal cari suami, neng".


"Jangan takut di bilang perawan tua, enggak laku-laku".


" Perempuan mahal yang harganya umpama sepatu yang bermerk terkenal.. di simpan di etalase, di tata dengan rapih, di masukkan kardus, di bawa pake kantong plastik bermerk juga, beda dengan sepatu yang ada di emperan, di toel-toel, di pegang-pegang, di coba. Udah gitu gak jadi di beli. Meski harganya murah".


"Duuh isi ceramah kena banget ke jantung, makjleb rasanya" Mia mendengarkan ceramah tentang jodoh.


" Tuuuh kan, jodoh mesti di cari", gerutunya.


Tak sadar di belakang sudah ada ibu yang memperhatikan anak gadisnya yang kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.


Usia yang cukup matang untuk menikah.

__ADS_1


Jangan terburu-buru, kenali siapa calon pasangan kita. Mesti hati-hati, jangan seperti membeli kucing dalam karung. Selektif tidak menjadi masalah, karena rumah tangga adalah fase perjalanan yang panjang, malaikat-malaikat akan mencatat kebaikan pada setiap lininya.


Proses yang teramat panjang, dari namanya saja rumah tangga, mesti setiap yang suami isteri yang berumah tangga rumahnya tidak memakai tangga, malah ada yang tinggal bersama ibu nya, mertuanya, tetap hubungan pasangan suami isteri di namakan rumah tangga.


"Tangga terdiri dari satu,dua,tiga,empat dan seterusnya. perjumpaan ini pun sama dengan hubungan dua insan dalam ikatan pernikahan. Dari bawah dulu, tingkatannya harus di lalui". Panjang sekali pemaparan tentang rumah tangga.


Jodoh, kematian, kebahagiaan rahasia Allah.


datang dan perginya sudah di tentukan, jangan menyerah dan pasrah.


"Namun, mau apa di kata belum ada yang nyangkut", hehehehe.... Jaring kali yaah...


"Yang terbaik pasti banyak aral rintangnya".. Mia tersenyum menatap kaca di meja riasnya.


******


Jauh di sana, jauh dari kehidupan Mia. Ada sosok gadis malang yang salah memilih jodoh.


Tak terpikirkan sebelumnya siapakah calon suaminya, apakah semua adalah benar atau hanya sebuah hawa nafsu.


Padahal ibu nya sudah memperingatkan bahwa laki-laki pilihannya itu tidak baik,. Kata hati ibu tidak akan bisa berbohong.


"Ibu kurang sreg sama dia".


"Terserah kamu lah, tapi ibu tidak memberikan restu sepenuhnya, tapi kalau kamu memaksa saja untuk menikah dengannya ibu terima, karena itu pilihanmu, semoga perasaan dan sakwa sangka ibu tentangnya salah". Suatu malam terjadi perdebatan antara anak dan ibu. Di rumah semi permanen berwarna biru, seorang ibu tertunduk karena pilihan anaknya.


******


Lamaran di selenggarakan dan pembahasan tentang pernikahan pun di langsungkan, Rahmi yang mendengarkan dari balik pintu kamarnya senang dengan keputusan bersama mencapai mufakat tanggal tujuh belas bulan Januari 2015 di pilih sebagai hari sakral antara Romi dan Rahmi.


Pesta pernikahan di laksanakan dengan sederhana, sesuai budget.


Tidak ada pementasan tambahan, orkes, orgen tunggal atau dangdut. Tidak ada dana. Memakai panggung pelaminan pun sudah bersyukur.


******


Sebagai pasangan baru menikah, semuanya terasa indah, bahagia. Normal-normal saja. Saling melengkapi.


Tahun pertama di karunia anak perempuan, masih dalam batas normal. Romli belum menampakkan wajah aslinya. Ranti merasa semua aman-aman saja, gelagat suaminya yang nakal, genit belum di sadari Ranti.


Sembilan tahun berikutnya anak kedua lahir, perempuan juga. Usia anak kedua nya menginjak tiga tahun. Barulah nampak perilaku Romli. Dengan mengatakan anak jalanan, jangan ganggu, masing-masing saja, punya pacar, naik panggung dangdutan joged bersama biduan, di rumah Ranti dengan sabar mengasuh anak-anaknya.


Hingga satu kejadian yang memilukan. Romli pergi kondangan tanpa mengajak Ranti, ternyata ia bergoyang di atas panggung, Ranti di rumah menyiangi rumput yang tinggi menghampiri rumahnya.


Ranti sakit hati, serasa tidak di hargai.

__ADS_1


*****


"Sekarang aku bukan Ranti yang dulu".


"Tak kan kau biarkan kau renggut kebahagiaanku, masa bodoh dengan perilakumu di luar sana".


"Mengatas namakan kebahagiaan, dan membuatku menderita, enak saja, kalau bukan karena anak-anak dan kebaikan mertuaku, mungkin ku sudah pergi meninggalkan semuanya".


Ranti yang masih mempertahankan rumah tangganya dengan Romli, karena anak yang takut menjadi korban perceraian, "Mental dan psikisnya nanti terganggu, bersama juga tidak benar, karena pertengkaran kerap sekali terjadi, menjadi tontonan bagi kedua anak-anaknya". Ranti sering menangis " menyesal tak pernah di awal, pantas saja dulu ibu ku tidak merestui pernikahanku" sesegukan Ranti meratapi nasib.


Hal yang kedua Ranti malu sama keluarga kalau perceraian menjadi solusi rumah tangganya, malu kepada ibunya, kakak dan keluarga besarnya yang dulu mensakwasangkakan pernikahan Ranti.


"Firasat orang tua tidak akan meleset".


Ucapan itu pernah terlontar dari sahabatnya, Lira temen sepermainan Ranti.


Teringat akan hal itu Ranti bertambah sedih.


"Rasa ini harus di pendam, jangan sampai ibuku tahu tentang kesedihanku".


Namun, lagi-lagi firasat ibu tak pernah salah, ia tahu apa yang di rasakan Ranti, meski Ranti menutup rapat kisahnya.


Kadung, nasi sudah menjadi bubur, jalani, nikmati saja di mana muara ini akan berujung.


Ranti berdiri tegak Bagai karang di lautan yang kuat tak bergerak meski di hantam badai.


"Demi anak-anak, ku harus bertahan.


Ranti tahu betul bagaimana rasanya kurang kasih bapak. Rasa itu hilang seiring dengan kepergian bapak.


"Perasaan itu tidak boleh di alami oleh anak-anakku, kelak kebahagiaan akan aku jelang seiring kesuksesan kedua putri cantiknya, yang mengerti keadaan ibunya yang tersakiti karena perilaku bapaknya.


*****


Kebahagiaan kini milik Ranti, di masa senjanya kedua anaknya telah menjadi harapannya, doa-doa panjangnya terkabul.


"Alhamdulillah wa syukurillah, indah pada waktunya, terimakasih ya Robby...


Anak pertamanya menjadi dosen terkenal di salah satu universitas negeri yang bertengger di ibukota, kualitas dan kuantitasnya tidak di ragukan lagi.


Putri keduanya menjadi dokter, sesuai cita-citanya sewaktu kecil.


*******


Romli menua dalam keadaan sakit, tidak berbahagia.

__ADS_1


__ADS_2