Kumpulan Cerpen

Kumpulan Cerpen
EPS 67. HOTEL KUTUKAN


__ADS_3

Hai, perkenalkan namaku Fajar Setiawan, biasa dipanggil Wawan. Hari ini aku dan teman teman kelas 12 akan pergi untuk perpisahan. Kami berencana pergi ke pantai. Saat ini kami sudah ada di hotel terdekat dengan pantai yang kami tuju. Aku segera memesan kamar hotel untukku dan dua sahabatku.


“Ndi, kita dapat kamar no 1314 nih, yang paling ujung itu lho.” Kataku pada sohib-sohibku itu


Oh iya, aku lupa memperkenalkan best friendsku itu ya. Yang pertama adalah Andi, dia yang paling kuat dan pemberani. Ada juga Fadil, dia adalah yang paling kurus dan penakut diantara kami bertiga.


Kami langsung menuju ke kamar kami. Namun tiba-tiba saat kami sudah mencapai kamar kami, aku melihat sekelebat bayangan hitam masuk ke kamar kami.


“Wah, apaan itu tadi Wan.” Kata Fadil pada ku. “Ah, mana, ga ada apa-apa kok Dil.” Balasku berpura-pura tegar.


Sebenarnya aku juga takut, tapi apa daya, kamar ini adalah kamar terakhir. “Udah ah, ayo masuk.” Ajak Andi pada kami berdua.


Andi membuka kunci kamar yang agaknya seperti sulit sekali untuk dibuka. “Lho, kok ga bisa gini sih.” Kata Andi kaget. “Trus gimana nanti kita tidurnya nih


“Dil, lu panggil petugas hotelnya.” Seruku


“Eh, kok kayak ada bau ga enak gini ya.” Kata Andi padaku. “Iya ya Ndi, kok baunya kayak bangkai.” Seruku.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Fadil sudah membawa seorang petugas hotel kemari. “Mana dik, bisa gini.” Seru petugas hotel yang membuka kunci dengan mudah nya.


“Tapi bener kok tadi ga bisa kebuka.” Bantah ku dan Andi bersamaan.


Malamnya…


“Guys, gue mandi dulu ya.” Seru Fadil. “Iya noh, mandi aja, bau nih.” Candaku yang serentak membuat kami tertawa.


Nah, tinggalah kami berdua di ruangan ini. “Eh, gue bawa kartu, main yuk.” Kataku pada Andi. “Yah, lu ga bilang dari tadi.” Seru Andi.


Aku pergi mengambil kartu di tasku. “Nih ketemu Ndi.” Seruku menunjukan kartuku pada Andi. “Oke, bawa sini.” Balas Andi.


“Eh, dari tadi si Fadil kok ga ada suaranya ya.” Kataku pada Andi


“Iya, ya gue juga baru sadar. Tiba-tiba, lampu mati seketika dan terdengar teriakan dimana-mana terlebih teriakan Fadil dari kamar mandi.


Aku dan Andi berlari mendekati kamar mandi sambil terus mengetok.

__ADS_1


“Dil, lu kenapa Dil, jawab Dil seru ku khawatir. Tanpa buang kata, Andi langsung mendobrak pintu kamar mandi.


“Akhhhh.” Teriakku memecah suasana.


Kami menemukan Fadil tergeletak tak bernyawa. “Ndi lihat Ndi, cepet lari Ndi.” Seruku berlari ke arah pintu.


Pintu terbuka dan pemandangan di luar kamar benar-benar lebih mengerikan. Banyak mayat teman-teman dan guru maupun petugas hotel bergelimpangan.


Aku dan Andi berlari secepat mungkin ke arah lantai bawah.


Namun tiba-tiba aku dan Andi dikejutkan dengan sekelebat bayangan yang lewat menghadang jalan ke bawah. Sosok itu mulai terlihat, dan menampakan wujudnya.


Wajahnya yang berlumur darah itu membuat kesan menyeramkan semakin dalam lagi.


“Kalian, harus mati, mati!!.” Kata itu berulang kali kami dengar. Lama-kelamaan pun pandanganku makin gelap.


“Tidak, tidak, kenapa, kenapa.” Aku melihat seluruh ruangan begitu gelap. Andi juga sudah tergeletak tak berdaya bersimbah darah.

__ADS_1


“Jangannnnnnn.”


__ADS_2