
Edo duduk sambil menundukkan kepalanya. Saat ini dirinya seperti sedang dihakimi dan menjadi tersangka atas tindakan nya. Sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya terletak padanya. Namun kekasihnya juga ikut andil terjadinya hubungan dewasa itu sebelum mereka menikah dan dinyatakan halal untuk melakukan nya. Apalagi kekasihnya juga kenapa harus mengabadikan momen pribadi ketika berhubungan badan itu melalui video di ponselnya. Akhirnya karena keusilan dan kejahatan teman dekat nya yang membuat video itu tersebar.
Nilam, membuat video antara dirinya dan Edo itu sebagai koleksi pribadi. Namun entah kenapa video tersebut malah tersebar kemana-mana. Orang tua menjadi sangat malu dengan tersebar nya video itu. Apalagi status hubungan antara Edo dan Nilam masih berpacaran. Kenapa mereka sudah sangat jauh berpacaran nya sampai berhubungan badan. Seharusnya hal itu mereka lakukan ketika nanti setelah menikah.
Edo dan Nilam sama-sama menunduk dan sangat sedih. Kedua keluarga sudah berkumpul. Mereka rencananya akan dinikahkan bulan depan. Di samping Nilam sendiri saat ini telah hamil juga setelah melakukan hubungan intim itu.
Edo dan Nilam juga sudah dipanggil oleh pihak berwajib ayas video tersebut. Namun mereka adalah korban. Mereka bukan yang menyebarkan. Hal ini akhirnya Nilam mulai mencurigakan beberapa kawan terdekat nya yang pernah memegang ponselnya.
Penyesalan antara Edo dan Nilam saat ini. Namun mereka juga harus bertanggung jawab atas segala perbuatan nya. Keluarga nya yang bijaksana tidak menghakimi keduanya. Memang mereka sudah sama-sama diketahui oleh kedua keluarga nya kalau mereka sedang berpacaran. Namun yang menjadi kekecewaan keduanya atau keluarga mereka adalah ketika mereka diberi kebebasan dan kepercayaan, mereka menyalahgunakan. Kecewa tentu saja hingga diantara kedua orang tua mereka.
" Kami mohon ampun ayah, bunda! Kami sungguh tidak bisa mengontrol diri kami." ucap Edo dengan suara serak. Nilam yang mendengar nya ikut sesak dan merasakan kesedihan itu.
" Ya sudahlah! Semua sudah terjadi. Kalian harus secepatnya menikah walaupun sebenarnya kalian belum matang jika harus berumah tangga. Namun apapun itu, Nilam sendiri juga sudah mengandung anak kamu. Kalian harus menghadapi segala nya." kata ayah Nilam dan dibenarkan oleh ayah Edo.
" Ayah, bunda, saya juga mohon maaf!" Nilam akhirnya bersuara dengan tangis yang Sesegukan.
__ADS_1
" Iya, kami sudah memaafkan kalian. Namun kalian juga harus Mohon ampun pada Nya. Perbuatan kalian ini sangat tidak dibenarkan dalam aturan. Ini salah dan kalian termasuk orang yang salah. Orang salah seyogyanya harus memohon ampun kepada Nya. Kalian sudah tahu bukan, bagaimana caranya bertaubat dan mohon ampunan Nya?" ucap Ayah Nilam kembali. Hal itu lagi- lagi dibenarkan oleh ayah Edo.
" Sudah yah! Selanjutnya segala sesuatu harus kalian pikirkan kembali ke depannya." kembali ayah Nilam bersuara.
Nilam dan Edo hanya menganggukkan kepalanya pelan. Membenarkan segala nasihat dari orang tua mereka.
Memang manusia tidak luput dari salah. Dan manusia tidak ada yang bersih dari dosa serta kesalahan itu. Maka setiap hari mohon ampun lah kepada Nya. Karena kita selalu berbuat hal- hal yang salah baik di sengaja maupun tidak.
Kesempurnaan hanyalah padaNya. Manusia tidak ada yang bersih dan bebas dari dosa baik dosa kecil, besar dan dosa yang sulit dimaafkan. Menangis dan bertaubat itu lebih utama daripada merasa dirinya bersih, suci dari dosa dan salah.
" Aku pikir, kita tidak akan pernah berjumpa kembali." katamu sambil menatap lekat wajahku.
" Kenapa?" tanyaku sambil menundukkan kepalaku karena aku sungguh tidak sanggup menatap bola matamu. Bila matamu yang mengandung tatapan rindu yang menggunung. Tatapan yang terpendam keinginan untuk temu.
" Karena kita sudah sangat jauh terpisah oleh hamparan luas yang membentang." jawab mu. Aku yang mendengar nya menjadi tertawa karena kata- kata yang sungguh berlebihan itu.
__ADS_1
" Kenapa kamu tertawa?" tanya mu.
" Apakah kamu tidak ingin berusaha merebut hati ku?" kataku.
" Aku tidak berani, karena kamu sudah menjadi miliknya. Dan nyatanya kamu lebih memilih nya." jawab mu.
" Kamu menyerah?" tanyaku.
" Aku hanya cukup puas melihat kamu bahagia. Itu sudah lebih dari cukup!" sahutmu sambil tersenyum.
" Lalu, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu juga sudah bahagia dengan pilihan orang tua kamu?" tanyaku memastikan.
" Aku akan belajar merasakan bahagia itu, walaupun sebenarnya yang aku inginkan adalah kamu kebahagiaan itu." jawab mu.
" Syukur kalau begitu!" sahutku.
" Tapi, bolehkah sebelum aku pergi dan pulang ke tempat aku, aku mencium kamu?" katamu dengan sorot mata yang tidak bisa aku artikan.
__ADS_1
Di langit berbintang. Diantara dinginnya malam. Dengan suara malam yang hening mencekam. Suara binatang malam ikut menyaksikan. Kita akhirnya sama-sama berani melakukan dosa. Ciuman yang seharusnya sudah tidak boleh terjadi diantara kita. Tapi inilah kenyataan nya, kita sama- sama merasakan nikmatnya dosa itu dalam ciuman yang panjang dengan saksi langit berbintang.
" Maaf! Hanya untuk malam ini saja!" katamu dengan sorot mata yang tidak bisa aku jabarkan.