Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
ARYA PENANGSANG #2


__ADS_3

Setibanya di Jipang, pekatik itu segera menyerahkan surat itu kepada Patih Matahun untuk di baca di hadapan Arya Penangsang. Isi surat itu berbunyi seperti berikut:


"Hei, Penangsang! Jika kamu nyata lelaki sejati, mari bertanding denganku! Aku tunggu di pinggir sungai tapal batas. Jika tidak berani datang, jelaslah kamu seorang banci yang menyamar sebagai lelaki! Berangkatlah tanpa prajurit! Aku orang Sela sudah gatal ingin memenggal kepalamu!"


Mengetahui isi surat itu, Arya Penangsang langsung menggebrak meja di depannya. Ia lalu segera mengenakan pakaian perang dan keris pusakanya yang bernama Kyai Setan Kober.


"Prajurit! Siapkan Kyai Gagak Rimang!" seru Arya Penangsang.


Kyai Gagak Rimang adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar serta sangat lincah. Warna bulunya yang yang hitam mengkilap membuatnya tampak berwibawa.

__ADS_1


Dengan mata merah penuh amarah, Arya Penangsang segera menunggangi Kyai Gagak Rimang menuju sungai tapal batas wilayah Jipang. Setibanya di tepi sungai, Arya Penangsang melihat seorang anak kecil yang sedang menunggang kuda putih di seberang sungai. Anak kecil itu tak lain adalah Sutawijaya yang sudah siap dengan tombak pusakanya. Melihat kedatangan Arya Penangsang, Danang Sutawijaya berteriak dengan suara nyaring.


"Hai, Penangsang! Lawanlah aku kalau kau berani!"


Dada Arya Penangsang bagai di sambar api mendengar suara anak kecil yang menantangnya itu. Ia tidak sanggup lagi menahan emosinya. Dengan segera ia menarik tali kekang Kyai Gagak Rimang sehingga kuda itu meringkik dan berlari menapaki dasar Sungai Bengawan yang hanya setinggi lutut. Betapa senangnya hati Danang Sutawijaya melihat Arya Penangsang mendahuluinya mencebur ke sungai. Konon, jika terjadi peperangan atau pertarungan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai pasti akan kalah.


Semakin lama Kyai Gagak Rimang semakin liar dan berontak hingga Arya Penangsang kerepotan mengendalikannya. Melihat Arya Penangsang sibuk mengendalikan kudanya, Sutawijaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menusukkan tombak pusaka Kyai Plered ke perut Arya Penangsang hingga robek hingga sebagian ususnya terburai.


Meski demikian, Arya Penangsang yang sakti itu masih hidup. Ia berusaha meraih ususnya terburai itu lalu di kalungkannya pada warangka keris pusakanya. Setelah itu, ia segera menarik tali kekang kudanya untuk mengejar Sutawijaya. Begitu mendekat, Arya Penangsang meraih tubuh Sutawijaya yang kecil itu dan membantingnya ke tanah hingga tak berdaya. Arya Penangsang segera turun dari kudanya lalu menginjak dada Sutawijaya.

__ADS_1


Melihat putranya dalam keadaan bahaya, Ki Ageng Pamanahan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia segera menggunakan siasatnya dengan berpura-pura memihak kepada Arya Penangsang.


"Hei, Arya Penangsang! Habisi saja nyawa putra Sultan Hadiwijaya itu!" teriak Ki Ageng Pamanahan.


Arya Penangsang pun baru sadar bahwa ternyata anak kecil yang di injak dadanya itu adalah putra musuhnya. Dengan geram, ia segera mencabut keris Kyai Brongot Setan Kober dari pinggangnya. Namun, ia lupa jika sebagian ususnya tersampir di warangka keris pusaka itu. Begitu ia mengangkat keris itu, seketika itu pula ususnya terputus. Tak ayal lagi, tubuh adipati Jipang itu tersungkur ke tanah dan tewas seketika.


Setelah Arya Penangsang tewas, Ki Ageng Pamanahan beserta rombongannya kembali ke Pajang untuk melapor kepada Sultan Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang telah tewas. Sultan Hadiwijaya sangat gembira mendengar kabar itu. Sesuai dengan janjinya, maka ia pun menghadiahi Ki Ageng Pamanahan dan Ki Penjawi tanah di Pati dan tanah di hutan Mataram.


Demikian cerita sejarah Arya Penangsang dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat bengis dan pendendam seperti Arya Penangsang pada akhirnya akan mendapatkan musibah. Arya Penangsang tewas dalam pertarungan karena selalu kurang perhitungan dalam bertindak. Hal ini terjadi karena hati dan pikirannya telah digerogoti oleh sifat dendam sehingga ia menjadi kalap.

__ADS_1


__ADS_2