Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Kisah Meninggalnya Raja Bunu


__ADS_3

Kisah Meninggalnya Raja Bunu


Raja Bunu telah lama menderita sakit. Segala macam usaha sudah dicoba untuk menyembuhkan sang Raja. Namun, tak pernah membuahkan hasil. Kedua saudara Raja Bunu, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang, memutuskan untuk meminta bantuan Nyai Jaya dan Mangku Amat. Keduanya sangat tersohor sebagai tabib hebat. Maka, diutuslah putra Raja Bunu, yaitu Pangeran Paninting Tarung untuk menjemput kedua tabib itu di pinggir Telaga Mantuk.


Pangeran Paninting Tarung mendatangi kediaman kedua tabib. Sayangnya, kedua tabib sakti sedang meninggalkan kediaman mereka. Kedua pamannya meminta Pangeran Paninting Tarung untuk kembali mendatangi rumah tabib itu. Tetap saja kedua tabib tidak bisa ditemui.


Pada kunjungan yang ketiga, Pangeran Paninting Tarung masih juga tidak bertemu tabib sakti itu. Lalu, dirobohkanlah rumah mereka. Sang Pangeran ingin membuktikan pada kedua pamannya bahwa Nyai Jaya dan Mangku Amat benar-benar tidak ada di tempatnya.

__ADS_1


"Aku telah sampai di sana. Ini palang pintu, baji genderang, alat-alat pengobatan, dan simpai dari puing puing rumah dua tabib itu yang telah aku bongkar," ucap Pangeran Paninting Tarung sedikit kesal. Ia merasa kedua pamannya telah menuduhnya berdusta.


Nyai Jaya dan Mangku Amat kecewa dengan apa yang dilakukan Pangeran Paninting Tarung. Jika saja sang Pangeran sabar menunggu hingga mereka kembali, kemungkinan besar mereka masih dapat mengobati Raja Bunu. Namun, saat ini alat-alat pertabiban sudah hancur semua. Tidak ada yang dapat mereka perbuat lagi. Tidak akan cukup waktu bagi mereka memperbaiki alat-alat kesehatan itu. Karena Pangeran Paninting Tarung yang tidak mau bersabar, akhirnya Raja Bunu meninggal dunia.


_______________________________________


Ku Anyi yang sudah tua adalah seorang kepala suku Dayak Hupan yang tinggal di hilir Sungai Kayan. Awalnya, mereka mendiami sebuah perkampungan kecil di tepi Sungai Payang. Jumlahnya pun hanya 80 orang saja. Berhubung kehidupan di situ kurang menjanjikan, Ku Anyi mengajak sukunya pindah ke hilir Sungai Kayan. Mereka pun menjalani kehidupan lebih sejahtera dan tenteram di tempat yang baru ini.

__ADS_1


Si usianya yang senja, Ku Anyi belum dikaruniai seorang anak. "Siapa yang akan menjadi penerusku?" pikirnya. Suatu hari, Ku Anyi pergi berburu ke hutan. Namun, tidak seekor pun binatang yang diperolehnya. Sepulang berburu, ia menemukan seruas bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu jemlay. Bambu betung dan sebutir telur tersebut dibawanya pulang dan diletakkan di perapian dapur.


Keesokan harinya, kedua benda tersebut berubah menjadi sosok bayi laki-laki dan perempuan. Ku Anyi dan istrinya memberikan nama Jau Iru pada bayi laki-laki dan Lemlai Suri pada bayi perempuan. Jau Iru dan Lemlai Suri tumbuh menjadi sepasang muda mudi yang elok. Jau Iru adalah pemuda yang cerdas. Ia mewarisi kemampuan memimpin layaknya Ku Anyi. Lemlai Suri cantik jelita dan lemah lembut serupa ibu angkatnya. Ku Anyi dan istrinya melihat Jau Iru dan Lemlai Suri begitu serasi. Akhirnya Ku Anyi menikahkan mereka.


Setelah Ku Anyi wafat, Jau Iru menggantikan kedudukannya sebagai ketua suku bangsa Dayak Hupan.


Dalam perjalanan sejarah keturunan, inilah cikal bakal lahirnya Kesultanan Bulungan. Bulungan, berasal dari perkataan bulu tengon, yang artinya bambu betulan. Ada pula yang mengatakan Bulungan berasal dari kata bulongan, yang artinya bambu dan telur. Karena adanya perubahan dialek, maka berubah menjadi bulungan.

__ADS_1


__ADS_2