Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Asal Mula Sungai Jodoh


__ADS_3

Asal Mula Sungai Jodoh


Dahulu, di pedalaman Batam hiduplah seorang gadis bernama Mah Bongsu. Ia yatim piatu dan bekerja sebagai pembantu di rumah Mah Piah. Mah Piah sangat serakah. Ia mempunyai seorang anak bernama Siti Mayang. Sifat anak dan ibu ini sangat mirip.


Suatu hari, Mah Bongsu mencuci pakaian di sungai. Ia melihat seekor ular yang terluka. Mah Bongsu membawa ular itu ke rumahnya. Dengan sabar, ia merawat luka-luka ular itu di kamarnya. Setiap kali kulit sang ular terlepas, Mah Bongsu memungut dan membakarnya. Jika asapnya mengarah ke negeri Singapura, tiba-tiba terdapat tumpukan emas dan berlian. Jika asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, akan berdatangan berkodi-kodi kain sutra.


Mah Bongsu menjadi gadis kaya raya. Namun, gadis itu sangat dermawan. Ia membantu penduduk sekitar dengan tulus. Kekayaan Mah Bongsu diketahui oleh Mah Piah dan Siti Mayang. Mereka pun menyelidiki dari mana asal kekayaan tersebut.


Suatu waktu, Mah Piah dan anaknya melihat seekor ular di kamar Mah Bongsu. Mereka meyakini ular adalah hewan ajaib dan bisa mendatangkan kekayaan. Anak dan ibu itu pun menangkap seekor ular di hutan. Ular itu dilepaskan di kamar Siti Mayang. Mereka beranggapan bahwa ular tersebut juga bisa mendatangkan kekayaan. Namun, yang datang justru malapetaka. Siti Mayang meninggal sebab digigit oleh ular berbisa tersebut.


Sementara itu, ular yang dirawat oleh Mah Bongsu telah sembuh. "Kembalikan aku ke sungai," pinta ular itu. Mah Bongsu pun menurutinya. Begitu tiba di sungai, sang ular berkata, "Mah Bongsu, sudah waktunya aku melamarmu sebagai istriku."


Seketika itu juga sang ular menjelma seorang pangeran yang gagah. Kulitnya menjadi sebuah rumah yang sangat indah. Mereka kemudian menikah dan hidup berbahagia. Karena kejadian tersebut, desa itu dinamakan Desa Tiban oleh penduduk, yang berarti ketiban rezeki. Sungai tempat sang pangeran melamar dinamakan Sungai Jodoh.

__ADS_1


________________________________________


Si Pitung


Si Pitung adalah pahlawan yang gagah. Sejak kecil ia belajar mengaji di kampung kelahirannya, Rawabelong. Selain belajar agama, ia juga belajar ilmu bela diri kepada Haji Naipin. Si Pitung sangat prihatin dengan para penjajah Belanda. Mereka memperlakukan rakyat dengan semena-mena. Rakyat miskin sering kali diperas sehingga banyak yang kelaparan.


Dengan ilmu silatnya yang tinggi, ia membantu rakyat yang tertindas. Bersama kawan-kawannya, Rais dan Jii, ia mengambil kembali harta rakyat di tangan para penjajah. Harta itu mereka bagikan kepada rakyat miskin. Rakyat sangat berterima kasih kepada si Pitung. Mereka akhirnya bisa makan dan berobat.


Belanda mulai memburu si Pitung. Namun, si Pitung sangat sulit ditangkap. Belanda membuat taktik, mencari orang-orang yang pernah ditolong si Pitung. Mereka dianiaya dan disiksa agar mau memberitahukan keberadaan si Pitung dan gurunya. Akhirnya, Belanda berhasil menangkap keluarga si Pitung dan Haji Naipin. Mereka disiksa agar menunjukkan kelemahan si Pitung. Karena tak tahan siksaan, salah satu keluarga membocorkan rahasia itu.


Konon, si Pitung bisa dibunuh dengan peluru emas. Tak lama, persembunyian si Pitung berhasil ditemukan. Ia ditembak oleh seorang Belanda dengan peluru emas. Si Pitung pun tewas. Namun demikian, ia tetap menjadi pahlawan bagi rakyat Betawi.


_________________________________________

__ADS_1


Buaya Putih di Setu Babakan


Setu Babakan adalah sebuah daerah dekat sebuah danau. Di sana tinggallah sepasang remaja yang saling mencintai. Akan tetapi, hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua si gadis. Hal ini hanya karena si pemuda amatlah miskin.


Suatu ketika, berkatalah si pemuda kepada kekasihnya, "Dik, Abang akan pergi merantau. Siapa tahu nasib Abang bisa lebih baik. Jika kita berjodoh, kelak akan bersama lagi."


"Jika memang itu keputusan Abang, pergilah," sahut gadis itu dengan air mata berlinang. "Jika Abang sudah berhasil, lekaslah pulang. Di sini Adik akan selalu menunggu."


Setahun berlalu. Tak ada kabar mengenai pemuda itu. Si gadis mulai resah karena orang tuanya telah menjodohkan dirinya dengan pemuda lain. Si gadis tetap setia menunggu kepulangan kekasihnya. Namun, ia juga tak mampu menolak keinginan ayah dan ibunya.


Saat pernikahan kian dekat, si gadis kian gelisah. Ia masih berharap kekasihnya akan segera kembali. Namun, harapan tinggal harapan. Akhirnya gadis itu putus asa. Ia pergi ke Setu Babakan. Dengan perasaan hancur, ia menceburkan dirinya. Para siluman penghuni danau itu merasa iba. Ia tidak mati di danau itu, tetapi menjelma menjadi seekor buaya putih.


Hingga kini buaya putih itu masih setia menjaga danau. Konon, jika ada orang berbuat tak senonoh di sekitar danau, orang itu akan menjadi korban buaya putih.

__ADS_1


__ADS_2