Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Tukang Taking


__ADS_3

Tukang Taking


Tukang Taking adalah seorang anak yatim piatu. Iq hidup bersama nenek yang menyayanginya. Suatu Ketika, Tukang Taking menderita penyakit aneh. Seluruh tubuhnya luka dan melepuh. Lama-kelamaan luka luka tersebut menyebarkan bau busuk. Tak ada orang kampung yang mau mendekatinya. Berbagai macam obat yang dicoba tak memberikan hasil.


Setelah neneknya meninggal dunia, Tukang Taking berusaha mengurus dirinya sendiri. Suatu pagi, seekor burung punai mendatanginya. Burung punai meminta Tukang Taking menyumpitnya. Pemuda itu pun meniup sumpitnya hingga burung punai mati. Saat menyembelih burung tersebut, darah yang keluar berubah menjadi batu-batu permata. Daging burung punai telah menyembuhkan penyakit Tukang Taking.


Tukang Taking pun merantau ke ibu kota kerajaan. Dengan hasil menjual intan permata, ia membeli sebuah rumah dan memulai hidup baru. Ia hidup berkecukupan selama bertahun-tahun. Cerita tentang kehidupan Tukang Taking sampai ke telinga Raja. Sang Raja mengundangnya ke istana. Ternyata, Tukang Taking masih keturunan kerajaan. Ibu Tukang Taking adalah adik kandung sang Raja. Dulu, ibu Tukang Taking diusir dari istana karena menikah dengan rakyat biasa. Nenek sangat kasihan kepada anak perempuan satu-satunya, lalu ia menemaninya. Tetapi, tak ada yang tahu ke mana anak perempuannya pergi.


Raja sangat gembira bertemu dengan keponakannya. "Menikahlah dengan putriku," ucap Raja. Akhirnya ia menikah. Tukang Taking memimpin di satu kerajaan bagian. Ia yang berbudi pekerti luhur memimpin rakyatnya dengan adil bijaksana.


_______________________________________


Legenda Ikan Patin


Awang Gading tinggal di tepi sebuah sungai. Walaupun hidup seorang diri, lelaki itu selalu bahagia. Pekerajaan sehari-harinya menangkap ikan dan mencari kayu. Suatu sore, Awang Gading mengail di sungai. Ketika hendak pulang, ia melihat seorang bayi perempuan di atas batu. Awang Gading pun membawa bayi itu dan memeliharanya.


Waktu berlalu. Bayi perempuan yang diberi nama Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Namun, gadis itu tidak pernah tertawa. Seorang pemuda bernama Awangku Usop berniat menjadikannya seorang istri.


"Kau boleh menikahiku dengan syarat jangan pernah memintaku tertawa," pinta Dayang Kumunah.

__ADS_1


"Aku akan memenuhi syarat darimu," ucap Awangku Usop. Mereka pun menikah dan hidup bahagia. Kebahagiaan menjadi lengkap dengan kelahiran anak-anak yang berjumlah lima orang. Namun, Awangku Usop merasa kebahagiaan mereka kurang lengkap sebelum melihat istrinya tertawa. Sejak pertama kali bertemu, Awangku Usop belum pernah melihat istrinya tertawa.


Suatu sore, mereka berkumpul bersama di teras rumah. Si bungsu mulai dapat berjalan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. "Tertawalah istriku," pinta Awangku Usop. Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya. Saat tertawa itulah, tampak insang di mulutnya. Dayang Kumunah segera berlari ke arah sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya.


Di tepi sungai, perlahan-lahan tubuh Dayang Kumunah menjadi ikan dan segera melompat ke dalam air. Awangku Usop pun sangat menyesal telah melanggar janjinya. Namun, semua sudah terlambat. Dayang Kumunah telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut wajah manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki manusia yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.


_______________________________________


Uder Pemalas


Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki pemalas bernama si Uder. Kerjanya hanya tidur. Kadang-kadang ia pergi memancing berhari-hari tanpa membawa hasil. Istri dan keluarganya sudah menasihati, namun si Uder tidak pernah berubah. Suatu hari, istri si Uder menyembelih ayam peliharaan mereka yang sakit. Si Uder mengambil is perut ayam untuk dijadikan umpan pancing. Ia lalu berangkat memancing.


Uder menjawab, "Pergi memancing ke udik."


"Apa umpannya, Uder?"


"Isi perut ayam yang mati karena sakit," jawab si Uder.


Hal ini terus terjadi. Si Uder jengkel harus menjawab berulang ulang. Tak lama kemudian, ia bertemu sekawanan kera. Mereka pun bertanya hal yang sama. Karena kesal mendapat pertanyaan, si Uder menjawab dengan ketus. "Pergi memancing ke Udik!"

__ADS_1


"Umpannya apa, Der?" tanya kawanan kera tersebut.


"Umpanya isi perut nenek moyangmu!" bentak si Uder.


Kawanan kera itu sangat marah, lalu menyerang si Uder. Mereka menggantungkan tubuh si Uder di dahan pohon. Tubuh Uder habis digigit nyamuk sehingga ia tidak bisa tidur. Keesokan paginya, kawanan kera bertanya, "Bagaimana tidurmu? Apa mimpimu semalam?"


"Bagaimana bisa bermimpi? Tubuhku habis digigiti nyamuk!" jawab si Uder kesal.


Si Uder dipindahkan ke halaman rumah. Esoknya, kawanan kera itu kembali bertanya apa mimpi si Uder. Lelaki itu memberikan jawaban yang sama dengan kemarin. Keesokan harinya, ketika telah di pindahkan ke dalam rumah, si Uder tetap berkata bahwa ia tidak bisa bermimpi.


Akhirnya, kawanan kera memberikan kelambu untuk si Uder. Ternyata si Uder pun bisa tidur nyenyak dan bermimpi ada sebatang pohon di hulu yang berbuah lebat. Kawanan kera itu langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh si Uder.


Dalam mimpinya, si Uder dibawa serta setelah berjanji tidak akan melarikan diri. Sepanjang perjalanan, si Uder diam-diam memasukkan damar ke kantongnya. Sesampai di sana, kawanan kera berlomba naik ke pohon.


Setelah semua kawanan kera naik ke pohon, si Uder segera mengumpulkan ranting kering dan menumpuknya di sekeliling pohon. Ia mengambil damar, kemudian menghidupkan api. Terbakarlah pohon tersebut. Kawanan kera tidak bisa menyelamatkan diri.


Si Uder kembali ke rumah kawanan kera. Ia menemukan seekor kera betina yang sedang mengandung. Si Uder tak sampai hati membunuhnya.


Kelak kera itu menjadi nenek moyang kera-kera yang ada di sini. Si Uder pun pulang ke rumahnya. Ia menceritakan pengalamannya kepada istrinya. Sejak itu, si Uder tidak lagi malas. Ia rajin bekerja di ladang dan hanya pergi memancing saat waktu senggang. Hidupnya pun menjadi berkecukupan dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2