Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Batu di Tepi Danau Laut Tawar


__ADS_3

Batu di Tepi Danau Laut Tawar


Hiduplah sepasang suami istri dengan anak perempuannya yang cantik jelita di negeri Aceh. Selain cantik, ia juga rajin dan sangat menyayangi keluarga. Seorang pemuda tampan ingin meminang gadis itu. Ia berasal dari keluarga terhormat dan kaya raya di negeri seberang. Si gadis menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan amat meriah.


Setelah beberapa hari, pemuda itu hendak pulang ke kampung halaman. Ia mengajak istrinya. Hati sang istri amat berat meninggalkan keluarga dan desanya. Namun, ia harus mengikuti ajakan suami sebagai tanda bakti dan kesetiaan kepada suaminya.


"Anakku, tinggallah di negeri suamimu," pesan sang ayah.


"Ingatlah, selama dalam perjalanan, jangan menoleh ke belakang. Jika melakukannya, kau akan menjadi batu!"


Si gadis dan suaminya pun meninggalkan desa. Mereka memulai perjalanan jauh menuju negeri di seberang lautan. Hingga tibalah mereka di Danau Laut Tawar. Mereka menaiki sebuah sampan dan menyeberangi danau itu.

__ADS_1


Saat sampan mengarungi danau, si gadis mendengar suara ibunya. Suara itu terus memanggil-manggil namanya. Kejadian itu berlangsung lama. Akhirnya si gadis memilih menoleh. Petaka pun seketika terjadi. Sesaat setelah si gadis menolehkan wajahnya ke belakang, tubuhnya berubah menjadi batu.


Betapa sedih hati sang suami. Karena terlalu cinta, sang suami ingin selalu bersama istrinya. Ia lantas memohon kepada Tuhan agar dirinya berubah menjadi batu. Selesai memohon, tubuh si pemuda berubah menjadi batu. Sepasang batu itu berada di tepi Danau Laut Tawar.


Pesan Moral: Kita harus mematuhi nasihat orang tua dan hendaknya tidak mengingkari janji.


_________________________________________


Di hutan Aceh yang luas, hiduplah burung-burung parkit. Mereka hidup damai dan setiap hari bernyanyi. Suatu ketika, mereka tertangkap perekat seorang pemburu. Dengan ketakutan, mereka berusaha melepaskan diri. Hanya Raja Parkit yang terlihat lebih tenang.


"Saudara-saudaraku, tenanglah!" seru Raja Parkit. "Aku punya ide bagus. Jika nanti si pemburu datang, kita harus pura-pura mati. Pada saat si pemburu membuat kita, tunggu sampai hitunganku ke seratus, lalu kita terbang bersama-sama!"

__ADS_1


Rakyatnya setuju dengan usul Raja Parkit. Esoknya, si pemburu muncul. Namun, ia amat kecewa karena tangkapannya mati semua. Bruk! Si pemburu tersandung batu. Ia terjatuh. Burung-burung parkit pun terkejut. Mereka beterbangan tanpa menunggu hitungan. Raja Parkit itu tertangkap.


"Jangan bunuh aku...," pinta Raja Parkit. "Sebagai imbalan, aku akan menghiburmu dengan suaraku yang merdu setiap hari."


Si pemburu pun membawa Raja Parkit pulang. Sesuai janjinya, setiap hari Raja Parkit bernyanyi. Suaranya amat merdu. Semua yang mendengar memuji kehebatannya.


Kabar tentang kemerduan suara Raja Parkit tersebar ke pelosok negeri hingga sampailah ke telinga Raja Aceh. Raja Aceh memerintahkan pengawal untuk menukar Raja Parkit dengan harta benda yang melimpah. Si pemburu pun menerima tawaran Raja Aceh.


Raja Parkit tiba di istana. Ia ditempatkan di sebuah sangkar emas. Setiap hari ia diberi makanan lezat. Namun, ia sangat rindu hutan tempat asalnya. Suatu hari, ia berpura-pura mati. Melihat Raja Parkit mati, Raja Aceh bersedih. Ia memerintahkan upacara penguburan. Ketika si Raja Parkit diletakkan di luar sangkar, seketika ia terbang dan kembali ke hutan.


Pesan Moral: Kita harus bersabar dan terus mencari akal agar keluar dari kesulitan.

__ADS_1


__ADS_2