
Kisah Si Raja Tidur
Raja dan Permaisuri di Tanah Renjang mempunyai seorang putri yang bernama Putri Serindu. Raja dan Permaisuri menginginkan putrinya segera menikah. Namun, sang Putri hanya ingin menikah dengan si Raja Tidur.
Akhirnya, sang Raja mengadakan sayembara untuk mencari si Raja Tidur. Banyak orang yang mengikuti sayembara itu, termasuk seorang pemuda desa bernama Lumang. Ia pemuda yatim piatu. Pekerjaannya membuat bubu (alat penangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu) dan dijual ke pasar.
Lumang membuat bubu sambil mengikuti sayembara. Ia telah menyiapkan semua perlengkapan. Ketika lomba dimulai, semua peserta mulai memejamkan matanya. Namun, Lumang justru membuat bubu. Ketika semua peserta sudah tidur pulas, bubunya belum selesai juga. Ia baru bisa menyelesaikannya saat subuh. Setelah itu, Lumang tak langsung tidur. Ia membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Saat pekerjaannya selesai, kantuknya tak tertahankan lagi.
Putri Serindu berkeliling untuk menilai semua peserta. Ia melihat bubu yang indah. Putri Serindu pun terpesona. Ia juga sempat melihat perlengkapan membuat bubu milik Lumang. Putri Serindu yakin pemuda ini membuat bubu sebelum tidur. Tentu, pemuda itu kelelahan dan bisa tidur nyenyak. Ia pemuda yang rajin, pikir Putri Serindu. Ia pun bahagia menemukan tambatan hatinya. Sang Raja menikahkan Putri Serindu dan Lumang. Mereka pun hidup bahagia.
Pesan Moral: Untuk menjadi orang yang sukses kita harus rajin dan tekun
..._______________________________________...
__ADS_1
Ayam dan Ikan Tongkol
Raja bangsa ayam bernama Kukuru dan raja bangsa ikan tongkol bernama Halili bersahabat karib dan sering bermain bersama. Kukuru suka mengajak Halili ke daratan. Begitu pula dengan Halili, ia sering mengajak Kukuru bermain ke laut.
Suatu hari, Kukuru mengajak Halili ikut pesta dansa di kampung nelayan. "Yuk, ikutan pesta dansa. Di sana banyak makanan lezat dan pertunjukan tari," ajak Kukuru.
Halili pun tertarik dengan ajakan sahabatnya. "Baiklah, aku akan ikut. Pasti menyenangkan ikut pesta dansa," sahut Halili.
Keesokan harinya, ketika senja menjelang, mereka sudah tiba di tepi pantai. Semua ikan tongkol dan ayam pergi bersama menuju pesta. Halili berpesan kepada Kukuru agar memberi tahu jika waktu fajar telah tiba. Jika tidak, bangsa manusia akan menyantap mereka.
...______________________________________...
Hikayat Si Lancang
__ADS_1
Si Lancang adalah nama seorang anak laki-laki yang tinggal di Kampar. Ia tinggal bersama ibunya. Hidup mereka sangat miskin. Si Emak bekerja menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetangganya. Suatu ketika, si Lancang memutuskan untuk merantau. Dengan berat hati, si Emak mengizinkan.
Selama bertahun-tahun si Lancang merantau. Ia menjadi seorang pedagang yang kaya raya. Berpuluh puluh kapal dan ribuan anak buah telah ia miliki juga istri-istri yang cantik. Si Lancang lupa bahwa si Emak di kampung halamannya selalu menunggunya.
Suatu hari, si Lancang mengajak istri-istrinya berlayar. Setelah beberapa hari berlayar, kapal mereka merapat di Sungai Kampar. Penduduk masih mengenali wajah si Lancang. Berita kedatangannya sampai pula pada Emak. Kala itu, la tengah terbaring sakit. Dengan tertatih-tatih, ia menuju pelabuhan dan menaiki kapal mewah itu. Tetapi, para pengawal mengusirnya. Terjadilah kegaduhan. Si Lancang menghampirinya. Si Emak ingin memeluk anaknya.
Bukannya memeluk emaknya, si Lancang malah mengusirnya. "Pergi dari sini! Kau bukan ibuku!" teriak si Lancang.
Hati si Emak sangat hancur. Ia tidak menyangka akan dihina oleh anaknya. Dengan perasaan terluka, ia pulang ke gubuknya. "Ya Tuhan, berilah pelajaran kepada anakku," ucap Emak. Tiba-tiba datang angin topan. Petir menyambar kapal si Lancang. Gelombang Sungai Kampar naik dan menghantam kapal hingga hancur.
Si Lancang dan seluruh penumpang kapal tenggelam. Barang barang berhamburan. Kain sutra milik istri si Lancang melayang-layang, lalu jatuh dan berlipat menjadi Negeri Lipat Kain di Kampar Kiri. Sebuah gong jatuh di dekat gubuk si Emak. Gong itu berubah menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Satu tembikar pecah menjadi Pasubilah di dekat Danau Si Lancang.
Di Danau itulah tiang bendera kapal si Lancang berdiri tegak. Bila tiang kapal muncul ke permukaan danau, pertanda akan terjadi banjir. Konon, banjir itulah air mata si Lancang. Ia menyesali perbuatannya karena durhaka kepada emaknya.
__ADS_1
Pesan Moral : Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapatkan hukuman yang setimpal