
Dahulu ada seorang raja dan permaisuri. Mereka mempunyai seorang putra mahkota. Raja dan permaisuri yang sudah lanjut usia ini sangat mencintai putra tunggalnya. Mereka menganjurkan agar putra mahkota segera mencari istri sehingga segera dapat menggantikan ayahnya.
Suatu hari, putra mahkota sedang makan ricotta, makanan favoritnya. Karena lengah, jarinya luka tersayat pisau dan berdarah. Setetes darah jatuh ke atas potongan ricotta. Sambil memandang pada darah merah yang menetes di atas ricotta yang putih itu, timbul keinginannya yang aneh.
Tiba-tiba ia berkata pada ibundanya, "Wahai ibunda, Ananda ingin mencari istri yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah"
Mendengar kata putra mahkota itu, ibundanya tertawa dan menjawab, "Anakku, mana ada putri yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah"
Namun, putra mahkota telah bertekad akan mencari seorang putri seperti yang diimpikannya. Betapapun kedua orang tuanya membujuk, ia tetap bersikeras. Suatu hari, putra mahkota memohon diri pada ibundanya untuk pergi berkelana. Ia berjanji tidak akan kembali sebelum mendapatkan istri yang sesuai dengan impiannya.
Berjalanlah putra mahkota menyeberangi sungai dan laut, merambah hutan dan mendaki gunung, berhari-hari dan bertahun-tahun. Pada suatu hari, di suatu tempat yang lengang ia bertemu dengan seorang wanita setengah tua yang menegurnya, " Wahai pangeran, kemana gerangan tujuan tuan?"
__ADS_1
"Aku mau mencari gadis yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah"
Wanita itu tercengang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tentu ia mengira kelana itu kurang waras. Putra mahkota meneruskan perjalanannya, tidak mengenal lelah dan payah. Suatu senja, ia bertemu dengan seorang nenek, "Hai orang muda, hendak kemana kau gerangan?"
"Oh, Nenek, aku mencari putri idamanku yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah"
Nenek itu memandangnya sambil berkata, ''Wahai orang muda, siapa yang putih tentunya tidak akan merah, sedangkan yang merah tentunya tidak akan putih"
"Kupaslah buah ini dan lihat isinya. Namun, ada syarat yang harus kau patuhi. Kau boleh membuka kalau sudah sampai sebuah telaga"
Putra mahkota menerima buah delima sambil mengucapkan terima kasih dan meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian, ia sampai di dekat sebuah telaga. Ia pun membuka sebuah delima. Tiba-tiba dari dalamnya muncul seorang gadis cantik yang putih seperti ricotta dan merah seperti darah. Putra mahkota tercengang penuh bahagia.
__ADS_1
Ia baru sadar ketika mendengar keluhan gadis cantik itu, sambil memohon pada putra mahkota.
"Wahai orang muda ambilkan air sebab tanpa air aku akan mati lemas"
Cepat-cepat putra mahkota berlari ke pinggir danau dan menyiduk air dengan kedua tangannya. Ketika ia kembali, sang gadis telah mati lemas. Kiranya ia sudah terlambat.
Dengan sedih diambilnya buah delima yang kedua dan dikupasnya dengan hati-hati. Dari dalamnya muncul pula seorang gadis yang lebih cantik dari pada gadis pertama. Gadis ini merintih dan memohon pada putra mahkota untuk cepat-cepat mengambilkan air minum, kalau tidak ia akan mati kehausan. Putra mahkota berlari secepat-cepatnya dan menyiduk air dari telaga. Namun, ketika kembali, gadis itu telah mati kehausan. Putra mahkota menangis dan hampir putus asa. Diambilnya buah delima yang ketiga dan dibukanya. Dari dalamnya keluar pula seorang gadis yang jauh lebih cantik daripada kedua gadis yang sebelumnya. Tanpa menunggu lagi, putra mahkota berlari, menyiduk air dan dicipratkannya air telaga ke muka gadis itu. Sang gadis menarik napas dan tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih.
BERSAMBUNG
like, komen & vote
__ADS_1