Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Asal Usul Lampung


__ADS_3

Asal Usul Lampung


Ada empat bersaudara bernama Ompung Silamponga, Ompung Silitonga, Ompung Silatoa, dan Ompung Sintalaga. Mereka sedang menyelamatkan diri dari Tapanuli. Berhari-hari mereka terombang ambing tanpa arah di tengah laut dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Setiap menemukan daratan, mereka mencari bahan makanan.


Suatu ketika, Ompung Silamponga jatuh sakit. Namun, ia tetap berniat meneruskan perjalanan. Sementara itu, ketiga saudaranya telah letih dan memutuskan untuk berhenti berlayar. Tiba-tiba terlihat sebuat rakit terombang-ambing. Ketiga saudaranya memindahkan Opung Silamponga ke rakit itu. Opung Silamponga terbawa arus menjauh dari mereka. Setelah sekian jauh, rakitnya menghantam sebuah benda keras. Ompung Silamponga pun terbangun. Ia terdampar di sebuah pulau. Entah mengapa ia merasakan tubuhnya menjadi sehat. Ia memutuskan untuk tinggal di sana.


Beberapa waktu kemudian, Ompung Silamponga merasa bosan. Ia pun pergi dan menjelajahi hutan lebat. Tibalah ia pada sebuah bukit. Dari sana ia melihat pemandangan yang indah. Ia juga bisa melihat banyak penduduk yang tinggal di kaki bukit. Dengan gembira, ia pun berteriak kencang, "Lappung! Lappung!" Dalam bahasa Tapanuli, lappung berarti luas.


Ompung Silamponga membuka perkampungan di sekitar bukit. Ia menamakan tempat tersebut dengan nama Lappung. Di sekitar tempat itu, tinggal juga sekelompok penduduk. Ompung Silamponga menjalin hubungan dengan penduduk asli tersebut. Semakin lama daerah itu semakin berkembang. Ompung Silamponga menghabiskan hidupnya di sana.


Nama Lampung diakui berasal dari dua hal. Pertama, dari kata-kata yang diteriakkan Ompung Silamponga. Kedua, berasal dari sebagian nama Ompung Silamponga.


Pesan Moral : Dalam menjalani hidup sebaiknya jangan mudah menyerah

__ADS_1


________________________________________


Kisah Buaya Perompak


ahulu, di sungai sekitar Tulang Bawang terkenal akan keganasan buayanya. Sudah banyak penduduk yang hilang di sungai tersebut. Suatu hari, kejadian itu terulang kembali. Seorang gadis hilang di sekitar sungai. Gadis bernama Aminah itu bagai lenyap ditelan bumi.


Nun jauh dari tempat kejadian, di dalam sebuah gua tergoleklah tubuh Aminah. Ia baru saja tersadar. Betapa terkejutnya ia ketika melihat gua itu dipenuhi oleh berbagai jenis harta benda. Ada permata, emas, intan berlian, maupun pakaian yang indah indah. Belum habis rasa takjubnya, dari sudut gua terdengarlah suara yang asing.


Tanpa disengaja, si buaya perompak membuka rahasia. Aminah menyimak dan mengingat keterangan berharga itu. Buaya itu selalu memberinya hadiah perhiasan. Harapannya, Aminah mau tinggal bersamanya.


Pada suatu hari, buaya perompak sedikit lengah. Ia tertidur dan membiarkan pintu gua terbuka. Diam-diam Aminah ke luar. Setelah cukup lama menelusuri terowongan, ia melihat sinar matahari. Betapa gembiranya ia ketika dapat keluar dari mulut terowongan itu. Di sana Aminah ditolong oleh penduduk desa. Ia pulang ke rumah dan selanjutnya hidup tenteram.


_________________________________________

__ADS_1


Bujang Katak


Bujang Katak, begitulah ia biasa dipanggil. Ia memang menyerupai katak. Kulitnya licin dan berwarna kehijauan. Ia anak tunggal wanita tua yang miskin. Dulu, wanita itu rajin berdoa agar Tuhan memberinya seorang anak. Tanpa sengaja ia berkata, meskipun anak yang diberikan menyerupai katak, ia akan tetap mencintainya. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, dan lahirlah si Bujang Katak. Penduduk pun menyukainya karena sikapnya yang baik.


Akhir-akhir ini Bujang Katak tampak murung. Ia sering duduk melamun. Ternyata Bujang Katak ingin memiliki pendamping. "Putri Raja, Bu," kata Bujang Katak. "Aku dengar Raja memiliki tujuh putri. Maukah Ibu melamar salah satu dari mereka untukku?"


Esok harinya, si Ibu segera ke istana. Keenam putri Raja menolak. Tetapi, si putri bungsu bersedia dipersunting Bujang Katak. Sang Raja memberikan satu syarat kepada Bujang Katak. Putrinya boleh dinikahi asal Bujang Katak bisa membangun jembatan emas. Jembatan itu akan menghubungkan istana dengan desanya. Jembatan itu harus selesai dalam sepekan. Bujang Katak pun menyanggupi. Dengan pertolongan Tuhan, apa pun bisa kita lakukan, begitu pikirnya. Ia pun berdoa kepada Tuhan untuk diberi keajaiban.


Pagi-pagi, seperti biasa Bujang Katak mandi di sumur. Kulitnya yang tebal dan licin terkelupas. Tiap kali ia mengguyurkan air ke tubuhnya, kulitnya rontok dan Bujang Katak menjelma menjadi pemuda tampan. Onggokan kulit yang tebal berubah menjadi emas. Ia bekerja siang dan malam untuk membuat jembatan emas. Pekerjaannya selesai sesuai waktu yang ditentukan.


Bujang Katak dan ibunya menghadap sang Raja. Mereka menceritakan mengapa Bujang Katak menjelma pemuda tampan. Si putri bungsu sangat bahagia. Sang Raja pun bangga dengan usaha yang dilakukan Bujang Katak untuk mendapatkan putrinya. Rupanya, pemuda itu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Pesan Moral : Jangan menilai orang dari penampilan fisik saja. Dengan usaha dan doa, seseorang bisa menjadi sukses

__ADS_1


__ADS_2