Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Lady of Marvels


__ADS_3

Satu kisah dari Celtic. Daerah Celtic memiliki wilayah yang sangat besar, yaitu mencakup Scotlandia, Irelandia, Wales, Cornwall, dan Inggris. Kisah ini bercerita tentang Raja Pwill dan Putri Riannon di kerajaan Difed.


Suatu hari kerajaan Difed mengadakan pesta di istana. Pwill duduk di singgasananya dan berkata pada seluruh yang hadir, "Setelah pesta ini berakhir aku akan pergi ke Bukit Arberth."


"Tuan," sapa penasihatnya, "siapa pun raja yang berani duduk di atas bukit Arberth, maka dia akan mendapatkan satu dari dua hal, musibah atau keajaiban."


"Aku tidak takut dengan musibah. Sebaliknya akan aku sambut gembira keajaiban itu," jawab Pwill.


Pesta pun usai, Pwill segera berangkat menuju bukit Arberth. Dia melihat pertanian, perkebunan, hutan, semuanya menjadi lahan bagi penduduk Difed untuk memenuhi kehidupan mereka. Pwill sangat senang melihat penduduknya hidup makmur. "Aku sangat kaya. Kerajaanku pun begitu berjaya. Seandainya ada seorang permaisuri yang menemaniku. Hidupku akan semakin bahagia," tambahnya.


Saat itulah, dia melihat seorang wanita berkerudung. Dia menunggang kuda dengan sangat anggun. Pwill pun penasaran dibuatnya. "Hai siapakah gerangan?" gumamnya. Dia segera mengambil kuda dan mengikutinya, tetapi wanita itu mempercepat laju kudanya."


"Nona, tolong berhenti!" teriak Pwill.


"Baiklah. Kalau saja Tuan memintanya dari awal maka itu akan lebih baik." jawab wanita tersebut. Wanita itu kemudian menyibakkan kerudungnya.


"Sungguh wanita yang sangat cantik," puji Pwill, "Belum pernah aku melihat wanita secantik Nona."


"Nona, apa yang membuat Anda kemari?" tanya Pwill.


"Aku ke sini karena Tuan," jawabnya.


"Aku sangat tersanjung dengan jawaban Nona," sahut Pwill.


"Sungguh suatu kehormatan bila aku bisa mengenalmu," pinta Pwill.


"Saya Riannon putri Heveydd," katanya. "Saya akan dinikahkan dengan orang yang tidak saya cintai. Tuanlah yang saya inginkan sejak kecil," jelasnya. "Saya ke sini untuk mendengar jawaban Tuan. Jika Tuan menolak, saya tidak akan pernah menikah dengan laki- laki lain," lanjutnya.


"Riannon, jika ada wanita lain untuk aku pilih, aku akan memilihmu," jawab Pwill.


Mendengar jawaban itu, Riannon sangat senang. "Kalau begitu datanglah ke istanaku satu bulan lagi. Di sana akan diadakan pesta untuk mempersatukan kerajaanku dan Kerajaan Gwal. Jangan lupa bawa keranjang ini. Ini keranjang sihir," Riannon menyerahkan keranjang sambil membisikkan rencananya kepada Pwill.


"Baiklah, aku akan menuruti semua perintah Nona," kata Pwill.


Pada bulan yang ditentukan, Pwill bersama seratus pasukannya pergi ke istana Heveydd. Pwill memerintahkan pasukannya menunggu di luar istana. Mereka akan masuk setelah mendengar suara terompet.


Pwill pun masuk ke istana. Dia menyamar sebagai pengemis membawa keranjang. Gwal dan Riannon hutan, porak-poranda. Tidak ada satu pun penduduk yang menghuninya, semua menghilang.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada negeriku?" seru Pwill.


"Pasti Gwal yang melakukannya. Dia sangat dendam pada kita," sahut Riannon.


Mereka kembali ke istana, tetapi di istana mereka tidak menemukan satu orang pun. "Dengan sekali pukul kita telah kalah," kata Pwill.


"Tapi kita masih bisa saling memiliki," sahut Riannon.


"lya,betul.Aku bersyukur masih memilikimu," jawab Pwill.


Untuk beberapa lama, mereka hidup sederhana jauh dari pesta. Suatu hari Pwill pergi berburu, anjing-anjing Pwill masuk ke semak-semak mencari babi hutan. Pwill mengejar anjing-anjingnya.


Beberapa babi hutan lari, tiba-tiba mereka berhenti dan memerhatikan anjing-anjing yang memburunya sampai Pwill mendekat. Kemudian, babi-babi itu berbalik dan lari. Kejadian itu berulang beberapa kali. Akhirnya, mereka sampai di benteng yang belum pernah dilihatnya.


Babi-babi itu melewati benteng, anjing-anjing Pwill mengikutinya. Pwill tidak dapat membiarkan anjingnya begitu saja, dia pun masuk melewati benteng. Di dalam benteng, dia menemukan mata air yang sangat jernih. Dia kemudian minum sepuasnya. Tiba- tiba dia merasa ada yang mengangkat tangan dan menahan kakinya.


Pwill berusaha lepas dari perangkap itu, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan mantra yang telah disebar oleh Gwal. Tak lama kemudian benteng itu pun menghilang.


Sementara itu, Riannon menunggu kedatangan Pwill dengan setia. Waktu terus berganti, tetapi suaminya tak kunjung datang. Dia menunggang kuda dan mencari ke seluruh pelosok kota Difed. Akan tetapi, Pwill tidak ditemukan. Riannon pun menangis, "Sesungguhnya aku diberi kesedihan terbesar. Namun, aku tidak akan melepaskan harapan. Walaupun harapan berguguran, dan hanya sedikit yang tersisa dalam hidup."


Riannon kembali ke istana, dia berusaha hidup seorang diri. Untuk mencukupi kehidupannya, dia berburu, memancing, dan juga berkebun.


Pagi pun datang. Riannon pergi ke kebun. Alangkah terkejut sesampainya dia di sana. Dia melihat kebun gandumnya rusak dan tidak dapat dipanen. "Bagaimana ini bisa terjadi?" sesalnya.


la kemudian menoleh ke arah ladang yang lain. Akan tetapi, kejadian yang sama terulang kembali. Ladang gandum itu rusak sehingga tidak dapat dipanen. "Tinggal satu ladang yang aku harapkan. Aku sangat malu jika tidak dapat menemukan penyebabnya," tantangnya dalam hati.


Malam itu, dia menyembunyikan pemukul. Ketika mendengar suara cicitan tikus, dia memukulnya. Semakin dia memukul gerombolan tikus itu semakin menyebar dan menghilang. Akan tetapi, ada satu tikus yang tertangkap olehnya. "Hah... walaupun kamu tikus, tetapi kamu sudah mencuri milikku. Kamu harus di hukum," ucap Riannon.


Keesokan hari, Riannon membawa tikus ke bukit Arbert. Dia akan membunuh tikus itu. Belum sampai tikus itu terbunuh, datanglah seorang pendeta dengan rombongannya.


"Jangan kau kotori tanganmu dengan membunuh tikus itu," ucap pendeta.


"Tikus ini telah mencuri milikku," jawab Riannon.


"Lebih baik kau jual saja tikus itu padaku," pinta pendeta.


"Tidak, aku tidak akan menjualnya," Riannon menolak.

__ADS_1


"Tak pantas seorang putri berurusan dengan hewan semacam tikus. Ini bisa menjadi aib. Ambillah barang-barang kami, dan serahkan tikus itu," desak pendeta.


"Tidak, aku tidak menjualnya," Riannon tetap menolak.


"Apa yang kamu inginkan agar aku mendapatkan tikus itu?" tanya uskup.


"Aku ingin kebebasan Pwill dan mengakhiri mantra Difed," jawab Riannon.


"Anda akan mendapatkannya sekarang. Berikan tikus itu," ucap uskup.


"Belum, aku ingin tahu siapa sebenarnya Anda dan tikus ini," tanya Riannon.


Pendeta dan rombongannya tiba-tiba menghilang dan yang tampak adalah Gwal yang duduk di atas kuda. "Ini aku Tuan putri," jawabnya, "akulah yang telah menyihir Difed dan menahan Pwill. Tikus- tikus yang merusak kebun gandum Anda adalah suruhanku. Akan tetapi, pada malam ketiga para wanita di kerajaanku yang menggantikannya. Di antaranya ada ibuku. Tikus yang tertangkap itu adalah ibuku.


"Oh, jadi semua ini ulahmu," sahut Riannon.


"Iya, aku sudah mengakui semua. Sekarang lepaskan tikus itu," pinta Gwal.


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya sebelum Anda berjanji padaku. Berjanjilah bahwa Anda tidak akan membaca mantra untuk Difed, Pwill, dan juga orang-orang yang dikasihinya," jelas Riannon.


"Baiklah, Anda akan mendapatkan sumpahku," jawab Gwal, "cepat lepaskan tikus itu."


"Belum, sebelum aku melihat suamiku," sahut Riannon.


Tiba-tiba terdengar petir dan datang awan hitam, setelah menghilang, Pwill pun terlihat di tempat itu. "Riannon, apa kamu yang telah menyelamatkan aku?" tanya Pwill.


"Iya, dia yang telah menyelamatkanmu," sahut Gwal, "kerajaanmu pun akan kembali seperti semula."


Pwill dan Riannon melihat pertanian, perkebunan, dan juga penduduk Difed seperti sedia kala.


"Sekarang lepaskan tikus itu," pinta Gwal.


"Baiklah," jawab Riannon.


Dia memberikan tikus pada Gwal. Terdengar petir dan awan menghitam, tiba- tiba tikus itu berubah menjadi wanita tua. Gwal mengangkatnya ke atas kuda. Mereka kemudian meninggalkan bukit Arbert.


Pwill dan Riannon sangat bahagia karena mereka bisa kembali bersatu. "Tuanku, aku hampir kehilangan harapan karena Anda tak kunjung kutemukan. Aku sangat bersyukur karena harapanku semua terwujud," ucap Riannon.

__ADS_1


"Kasihku! Cukuplah bagiku kehadiranmu di sisiku," jawab Pwill. "Mari kita kembali ke istana," ajak Pwill.


Mereka pun kembali ke istana. Di istana semua keluarga, sahabat, dan juga para pengawal telah menunggu mereka. Mereka masih dalam kondisi berpesta, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Raja dan Ratu pun hidup berbahagia.


__ADS_2