Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Kisah Roro Jonggrang


__ADS_3

Kisah Roro Jonggrang


Dahulu, di Desa Prambanan berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Baka. Ia memiliki seorang putri bernama Roro Jonggrang. Suatu ketika, Kerajaan Prambanan dikalahkan oleh Kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut memiliki seorang kesatria bernama Bandung Bondowoso. Pengging menguasai Prambanan, Bandung Bondowoso pun menempati Istana Prambanan.


Bandung Bondowoso ingin memperistri Roro Jonggrang. Namun, Roro Jonggrang tahu, kesatria itulah yang membunuh Prabu Baka. Roro Jonggrang mencari akal untuk menolak Bondowoso. "Buatkan aku seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam satu malam," ucap Roro Jonggrang memberikan syarat. Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Sebab, ia mempunyai bala tentara jin yang sangat banyak.


Mereka membangun candi dan sumur dengan sangat cepat. Roro Jonggrang mulai gelisah. Melewati tengah malam, hanya tiga buah candi dan satu sumur yang belum selesai. Putri itu kemudian mencari cara agar Bandung Bondowoso gagal. Ia segera memanggil para dayang. Mereka ditugasi untuk membakar jerami, membunyikan lesung, dan menaburkan bunga yang harum. Tak lama kemudian, langit timur tampak kemerahan. Lesung pun dibunyikan. Harum bunga yang mulai tercium membuat ayam mulai berkokok.


Bala tentara jin segera meninggalkan pekerjaan dengan panik. Mereka mengira hari sudah pagi. Kesatria dari Pengging itu pun sangat kesal. Akhirnya ia menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun, sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.


Bandung Bondowoso sangat marah. Ia pun berteriak, "Kau curang, Roro Jonggrang. Atas perbuatanmu, kukutuk kau menjadi arca dalam candi yang keseribu ini!"


Roro Jonggrang berubah menjadi arca. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan. Candi tersebut dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang. Candi-candi yang berada di sekitarnya disebut Candi Sewu.

__ADS_1


________________________________________


Surabaya


Dahulu, hiduplah Hiu Sura dan Buaya di lautan. Mereka sering berkelahi karena berebut makanan. Karena keduanya sama-sama kuat, perkelahian pun berlangsung sangat lama. Namun, keduanya sudah lelah berkelahi. Mereka pun mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan. Lautan adalah daerah kekuasaan Hiu Sura. Muara sungai adalah daerah kekuasaan Buaya. Mereka harus mencari makanan di daerah kekuasaan masing-masing. Dengan perjanjian tersebut, keduanya sepakat tidak akan pernah berkelahi lagi.


Suatu hari, Hiu Sura mulai kehabisan ikan-ikan di lautan kekuasaanya. Ia pun diam-diam mulai mencari makanan di muara sungai. Buaya pun mengetahui bahwa Hiu Sura sudah melanggar perjanjian. Pertarungan terjadi lagi. Mereka saling gigit, menerkam, dan memukul. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan. Akibatnya, ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Hiu Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus.


Pertarungan antara Hiu Sura dan Buaya sangat berkesan di hati masyarakat Jawa Timur. Mereka pun digunakan sebagai lambang kota. Sura berasal dari nama Hiu Sura dan Baya diambil dari nama Buaya.


_________________________________________


Calonarang

__ADS_1


Di Desa Girah, Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sri Baginda Erlangga, hiduplah seorang perempuan penyihir bernama Calonarang. Perempuan itu menyebarkan penyakit-penyakit aneh kepada penduduk Kahuripan. Sri Baginda Erlangga memerintahkan Patih Narottama untuk menangkap penyihir itu. Namun, Patih Narottama dikalahkan Calonarang.


Sri Baginda Erlangga pun memanggil Empu Bharada. Ia adalah sepupu Calonarang. Empu Bharada mengetahui rahasia kesaktian Calonarang. Penyihir itu memiliki kitab pusaka yang memuat rahasia kesaktiannya. Empu Bharada memanggil muridnya, Empu Bahula, untuk menyusun strategi melawan Calonarang.


Empu Bharada meminta Empu Bahula menikahi putri Calonarang yang bernama Diah Ratna Menggali. Setelah menikah, Empu Bahula tinggal di rumah Calonarang. Ia segera melaksanakan tugasnya mencuri kitab pusaka. Suatu hari, Empu Bahula pamit pada istri dan Calonarang untuk menjenguk keluarganya di kampung. Calonarang pun tidak curiga dan mengizinkannya.


Dari kitab pusaka itu, diketahui bahwa senjata yang bisa mengalahkan Calonarang adalah Keris Weling Putih. Maka, begitu mendapatkan keris tersebut, Empu Bharada dan Empu Bahula mendatangi Calonarang. Ternyata perempuan itu tahu kitab pusakanya telah dicuri.


"Maafkan kami, Calonarang," ujar Empu Bharada. "Kami melakukan ini atas perintah Sri Baginda. Rakyat sudah terlalu menderita karena ulahmu."


"Aku tak peduli apa kata Gusti Raja!" seru Calonarang. "Kembalikan kitabku!"


Empu Bharada tak menghiraukan Calonarang. Penyihir itu pun semakin murka. Ia menyerang dengan sihirnya Empu Bharada menangkis serangan dengan Keris Weling Putih. Pada satu kesempatan, Calonarang tidak bisa mengelak. Keris Weling Putih mengakhiri hidupnya. Sepeninggal Calonarang, penduduk pun hidup tenteram dan bebas dari penyakit aneh.

__ADS_1


__ADS_2