
Batu Menangis
Di pedalaman Kalimantan Barat, hiduplah seorang gadis yang cantik jelita. Ia tinggal bersama ibunya. Ayahnya telah lama meninggal. Sayangnya, gadis cantik itu sangat angkuh, pemalas, dan manja. Setiap hari kerjanya hanya berdandan di rumah. Segala kebutuhannya harus dipenuhi. Ia tidak peduli ibunya yang setiap hari bekerja. Si ibu sangat sedih melihat perilaku putrinya. Putrinya sering memerintah dan berkata kasar.
Suatu hari, si ibu dan anaknya pergi ke desa untuk berbelanja. Penampilan mereka yang jauh berbeda menarik perhatian banyak orang. Seorang pemuda menyapa si gadis dengan ramah, "Hai, gadis cantik, siapakah namamu? Apakah yang berjalan bersamamu itu ibumu?"
Si gadis pun amat marah dan berkata, "Tentu saja dia bukan ibuku. Dia hanya budak!"
Ibunya sangat sedih mendengar kata-kata anaknya. Dengan hati hancur, ia memanjatkan doa kepada Tuhan, "Tuhanku, rasanya sudah cukup hamba bersabar. Sudah tak sanggup lagi hamba menahan sakit hati atas keangkuhannya. Berikan dia pelajaran, ya Tuhanku."
Tuhan Yang Maha Mendengar pun mengabulkan permohonan si ibu. Pelan-pelan tubuh si gadis itu berubah menjadi batu dari kaki hingga ke perutnya.
"Ibu, maafkan aku," ujar gadis itu memohon. "Ampuni aku, Bu...."
__ADS_1
Tetapi, semua sudah terlambat. Akhirnya seluruh tubuh si gadis berubah menjadi batu. Meskipun telah menjadi batu, orang bisa melihat kedua belah matanya mengeluarkan air seperti orang sedang menangis. Batu yang mulanya berasal dari gadis yang dikutuk ibunya dikenal dengan nama Batu Memangis.
Pesan moral: Berbaktilah kepada ibu. Sayangi dan kasihi dia dengan tulus.
________________________________________
Banyuwangi
Raden Banterang dari kerajaan di Jawa Timur dikenal gagah dan tampan. Ia sangat gemar berburu. Ketika sedang berburu, ia melihat seekor kijang. Ia segera mengejar kijang tersebut hingga ke dalam hutan. Raden Banterang pun terpisah dari rombongan. Di tengah hutan, ia bertemu seorang gadis bernama Putri Surati dari Kerajaan Klungkung. Putri Surati sedang dalam pelarian karena ayahnya telah tewas di tangan musuh. Raden Banterang membawa Surati ke istana dan memutuskan untuk menikahi gadis itu.
Saat Raden Banterang tengah berada di hutan, ia didatangi seorang lelaki asing. Lelaki itu mengatakan bahwa Raden Banterang dalam bahaya. Putri Surati telah meminta seseorang untuk membunuh Raden Banterang. Sebagai bukti, perempuan itu menyimpan ikat kepala milik si lelaki tersebut.
Ketika ditanya oleh suaminya, Putri Surati pun menjelaskan asal ikat kepala tersebut. Raden Banterang menuduh istrinya berbohong. Ia pun berniat menenggelamkan istrinya di sungai. Putri Surati lalu berkata, "Suamiku, jika setelah kematianku air sungai ini menjadi jernih dan harum, berarti aku tidak bersalah. Namun, jika terjadi sebaliknya, berarti aku bersalah."
__ADS_1
Raden Banterang tetap tidak memercayai istrinya. Maka, ia segera menusuk pinggang Putri Surati dengan keris. Putri Surati hanyut terbawa arus. Tak lama setelahnya, terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba air sungai menjadi jernih dan harum. Raden Banterang sangat menyesal dan meratapi kematian istrinya. Sejak itu, sungai itu menjadi harum. Orang orang menyebutnya banyu wangi hingga kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
Pesan moral: Ceroboh dalam bertindak hanya akan mendatangkan penyesalan.
_________________________________________
Tupai dan Ikan Gabus
Ikan Gabus bersahabat dengan si Tupai. Mereka saling membantu apabila sedang kesusahan. Mereka juga saling bertukar cerita setiap hari. Pada suatu hari, si Ikan Gabus jatuh sakit. Badannya sangat lemah. Tupai menunggui temannya dengan setia. Sudah beberapa hari si Ikan Gabus tidak mau makan. Si Tupai terus membujuknya. "Aku hanya mau memakan hati ikan yu," ucap Ikan Gabus.
Si Tupai sangat sedih. Sulit sekali memenuhi permintaan sahabatnya itu. Ikan yu adalah hewan yang sangat ganas dan hanya hidup di lautan lepas. Namun, akhirnya ia memutuskan juga untuk mencarinya. "Baiklah, aku akan mencarikannya untukmu," sahut si Tupai.
Maka, ia pun meloncat-loncat dari pohon ke pohon. Sampailah ia ke sebatang pohon kelapa yang menjorok ke laut. Tupai melubangi sebutir kelapa. Setelah airnya habis, ia pun masuk ke buah kelapa. Dari dalam kelapa itu, si Tupai menggigit-gigit tangkai buah kelapa. Begitu terlepas dari tangkainya, kelapa itu tercebur ke laut lepas.
__ADS_1
Ombak laut itu sangat besar. Dalam waktu tidak lama, buah kelapa sudah berada di tengah lautan. Tiba tiba datanglah seekor ikan yu besar. Dengan segera ia menelan biji kelapa tersebut bulat-bulat. Kelapa dan si Tupai masuk ke perut ikan itu. Pelan-pelan, si Tupai lalu mengigiti hati ikan yu. Ikan itu pun menggelepar-gelepar ke sisi pantai.
Si Tupai membawa hati ikan yu itu untuk sahabatnya. Setelah memakan hati ikan yu, si Ikan Gabus menjadi sembuh. Ia meloncat-loncat dengan gembira. Ia pun berjanji akan menolong si Tupai kalau ia sakit. Mereka bersahabat dengan bahagia dan damai.