Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Kesetiaan Si Loreng


__ADS_3

Kesetiaan Si Loreng


Suatu hari, sepasang suami istri menemukan seekor anak harimau. Tampaknya anak harimau itu ditinggal mati oleh induknya. Si suami istri petani itu memberinya nama si Loreng. Mereka memutuskan untuk memelihara harimau itu. Harimau pun diperlakukan layaknya anak mereka. Hewan itu menjadi penurut. Ketika besar, ia menjadi cerdas dan tangkas.


Si petani berbahagia ketika anak mereka lahir. Anak laki-laki itu sudah ditunggu sejak lama. Ketika ayah ibunya pergi ke sawah, si Loreng menjaga bayi itu. Si Loreng pun semakin disayang karena kesetiaannya.


Suatu siang, si Loreng menyusul si suami istri ke sawah. Ia mengaum dan menggosok-gosokkan badannya Sepasang suami istri itu heran melih tingkah si Loreng. Tidak biasanya ia bertingkah begitu. Tiba-tiba mereka melihat mulut si Loreng dipenuhi darah. Muncullah pikiran buruk mereka. "Loreng, kau telah membunuh anak kami?!" teriak si suami.


Si Loreng menggeleng-gelengkan kepala. Darah di mulutnya berceceran. Melihat itu, meluaplah amarah si suami. Ia mencabut goloknya dan menyerang si Loreng. Si Loreng tidak bisa menghindar. Matanya terus saja menatap suami istri yang sedang marah.


Melihat si Loreng tak berdaya, si suami kalap. Ia mengayunkan kembali goloknya. Sesaat kemudian si Loreng meregang nyawa. Si suami istri berlari ke rumah untuk melihat keadaan anak mereka. Namun, mereka mendapati si bayi sedang pulas dalam ayunan. Bayi itu dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka atau apa pun di tubuhnya.


Perhatian si suami istri tertumpu pada tempat di sekitar ayunan. Mereka melihat bangkai seekor ular seukuran bayi. Kepala ular itu hancur berlumur darah. Seketika, sepasang suami istri itu menyadari kekeliruan mereka. Si Loreng telah menyelamatkan si bayi dari serangan ular.


Pesan Moral: Jangan gegabah dalam bertindak. Sebaiknya berpikirlah bijak sebelum bertindak.


_________________________________________

__ADS_1


Purbasari dan Lutung Kasarung


Purbakarang dan Purbasari adalah kakak beradik. Mereka putri seorang raja di tanah Pasundan. Pada saat mendekati akhir hayatnya, sang Raja menunjuk Purbasari sebagai penggantinya. Purbakarang tidak setuju adiknya menggantikan ayah mereka. Ia pun meminta bantuan seorang nenek sihir. Nenek sihir itu memantrai Purbasari. Seluruh kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam penuh radang. Purbakarang memiliki alasan untuk mengusir adiknya.


Purbasari diasingkan ke hutan. Tetapi, selama di hutan dia tidak bersedih. Ia mempunyai banyak teman baru. Hewan-hewan disana selalu baik kepadanya. Di antara hewan tersebut, ada seekor kera berbulu hitam. Purbasari memanggilnya Lutung Kasarung. Kera tersebut sangat perhatian. Ia selalu berusaha menyenangkan Purbasari dengan memberikan buah-buahan dan bunga.


Ketika purnama datang, Lutung Kasarung bersemedi di tempat tersembunyi. Muncullah mata air di sekitar situ. Genangan air membentuk telaga yang jernih. "Berendamlah di telaga ini, Purbasari," ucap Lutung Kasarung. Purbasari untuk berendam di telaga tersebut. Keajaiban pun terjadi, kulit Purbasari menjadi bersih. Kecantikannya kembali seperti semula.


Suatu hari, Purbararang menjenguk adiknya. Ia melihat Purbasari sudah sembuh. Purbararang tidak mau adiknya kembali ke istana. Ia tak ingin menanggung malu. Maka, ia pun mengajak Purbasari adu panjang rambut. Siapa yang paling panjang dialah pemenangnya. Yang lebih panjang, boleh kembali ke istana. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.


Purbararang tak mau menyerah. "Ayo kita beradu ketampanan tunangan masing-masing!" kata Purbararang. Purbasari tentu saja bingung. Ia tidak memiliki tunangan. Tetapi, Purbararang terus mendesak. Purbasari menarik tangan si Lutung. Purbararang pun mengejek adiknya yang memiliki tunangan seekor monyet.


Pesan Moral: Sifat sombong dan iri hati hanya akan mencelakakan diri sendiri.


_________________________________________


Sangkuriang

__ADS_1


Dayang Sumbi adalah seorang putri raja. Ia berparas cantik dan berhati mulia. Banyak pangeran yang ingin meminangnya. Hal tersebut menyebabkan peperangan antar kerajaan. Dayang Sumbi lelah. Ia pamit untuk mengasingkan diri di hutan. Tidak ada yang menemaninya, selain anjing jantan bernama si Tumang. Untuk mengisi hari-harinya, Dayang Sumbi menenun kain.


Suatu hari, alat tenunnya terjatuh. Dayang Sumbi malas untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang, ia bersumpah, "Siapa pun yang bisa mengambilkan alat tenunku, jika perempuan, akan kujadikan saudara, dan jika laki-laki, akan kujadikan suami."


Si Tumang, yang sebenarnya titisan seorang dewa, mendengar sumpah itu. Ia memungut alat tenun itu dari lembah bukit. Dayang Sumbi tetap menepati janjinya. Ia menikah dengan Tumang. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang. Tetapi, Sangkuriang tidak pernah mengenal siapa ayahnya. Ketika usianya menjelang lima tahun, Sangkuriang sudah mahir berburu. Ia menggunakan tombak dan panah untuk membunuh buruannya.


Pagi itu, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang berburu kijang. Ia menginginkan hati kijang. Berangkatlah Sangkuriang ditemani si Tumang. Namun, setelah seharian berburu, Sangkuriang tak mendapatkan seekor pun kijang. Ia juga kesal karena si Tumang tak banyak membantu. Sangkuriang marah, lalu memanah anjing itu hingga mati. Sangkuriang mengambil hati si Tumang dan membawanya pulang.


Dayang Sumbi tidak percaya hati yang diberikan Sangkuriang adalah hati kijang. Akhirnya Sangkuriang mengakui perbuatannya. Betapa murka Dayang Sumbi. Tanpa sadar, ia memukulkan sendok nasi ke kepala anaknya dan meninggalkan luka. Sangkuriang kesal, lalu pergi dari rumah. Dayang Sumbi menyesali perbuatannya. Ia pun mengasingkan diri di tempat yang jauh. Ia hidup dengan memakan dedaunan sehingga memiliki kecantikan abadi.


Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Ia mendapatkan nama Sangkalalana dari gurunya. Suatu waktu, ia sampai di suatu tempat dan bertemu Dayang Sumbi. Tentu saja mereka tidak saling mengenal. Mereka pun saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah.


Sangkalalana hendak berburu. Ketika mengikatkan kain di kepala Sangkalalana, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang sama dengan bekas luka anaknya. Dayang Sumbi sangat terkejut. "Kau anak kandungku!" seru Dayang Sumbi. Sangkalalana tidak percaya. Ia beranggapan Dayang Sumbi sengaja menghindarinya.


Dayang Sumbi segera mencari akal untuk menggagalkan pernikahan. "Bendunglah Sungai Citarum dan buatkan perahu kayu. Keduanya harus selesai sebelum fajar," ucap Dayang Sumbi. Sangkalalana menyanggupinya.


Dengan bantuan para jin, Sangkalalana bekerja keras membendung Sungai Citarum. Ketika fajar belum menyingsing, ia hampir menyelesaikan tugasnya. Dayang Sumbi panik. Ia tak kehilangan akal. Ia segera menggelar sutra merah di sebelah timur. Ia juga meminta perempuan desa menumbuk padi. Ayam jago pun berkokok karena mengira fajar telah tiba. Para jin yang membantu ketakutan dan segera menyudahi pekerjaan mereka.

__ADS_1


Sangkalalana sangat kesal dan marah. Ia menjebol tanggul yang hampir selesai dibuat. Akibatnya terjadilah banjir yang melanda seluruh desa. Sampan yang sudah jadi pun ia tendang. Perahu itu terlempar jauh ke arah utara dengan posisi tertelungkup. Lama-kelamaan, perahu besar itu berubah menjadi sebuah gunung. Masyarakat sekitar menamainya dengan Gunung Tangkuban Perahu atau perahu yang menelungkup.


__ADS_2