
Gadis itu tersipu-sipu menutupi wajahnya dengan rambutnya yang panjang terurai. Sebagaimana bayi yang baru lahir, tubuh gadis ini tidak ditutupi sehelai benang pun.
Putra mahkota segera membuka mantel dan menyelimutkannya ke tubuh gadis itu. Sambil berpikir, ia memandang ke sekeliling telaga, lalu berkata, "Wahai gadis, lihatlah, di tepi sungai ini ada pohon yang rindang, naik dan duduklah di cabang pohon. Tunggu aku disana. Aku akan pergi mengambil pakaian pakaian dan kereta untuk membawamu ke istana ayahku"
Dengan patuh, gadis itu memanjat pohon dan duduk pada dahan yang kuat dan rindang.
Alkisah, setiap hari rupanya orang di sekitar telaga itu datang untuk mengambil air. "Salah seorang di antaranya adalah si Saracina, seorang gadis yang berwajah jelek. Ia bekerja di rumah saudagar. Saudagar dan istrinya ini termahsyur sangat kikir. Setiap hari, Saracina harus mengambil air dari trlaga itu.
Suatu hari, ketika ia datang untuk mengisi kendi airnya, dilihatnya di permukaan air telaga yang jernih itu ada bayangan wajah seorang gadis yang sangat cantik.
__ADS_1
Ia berkata dalam hati, "Oh, bagaimana mungkin, seorang gadis yang berwajah cantik seperti aku ini harus mengambil air setiap hari untuk saudagar kikir itu" Lalu, dihempaskannya kendi airnya sampai pecah dan cepat-cepat pulang.
Sesampai di rumah, istri saudagar bertanya, "Mana air dan kendinya?"
Istri saudagar sangat marah mendengar jawaban Saracina dan memerintahkan untuk kembali ke telaga mengambil air. Setiba di telaga, Saracina melihat lagi bayangan wajah cantik di permukaan air, "Oh, rupanya memang aku cantik sekali. Ah, peduli apa aku akan istri saudagar yang cerewet itu." Lalu, dihempaskannya lagi kendi berisi air itu.
Demikianlah berkali-kali terjadi, sampai akhirnya gadis di atas pohon itu tak sampai hati lalu menegurnya.
Sambil memandang terus pada gadis itu, Saracina meneruskan, "Tapi kau memang cantik sekali, cantik sekali"
__ADS_1
Kemudian, timbul niat jahat dalam hati Saracina. "Turunlah wahai gadis cantik" katanya, "Aku ingin memegang rambutmu yang indah, biarkan aku menyisir rambut itu"
Semula gadis itu tak mau turun. Ia malu sebab tidak memakai pakaian. Namun, Saracina memohon terus. "Turunlah, supaya aku dapat menyisir rambutmu, pasti kau akan kelihatan lebih cantik lagi"
Karena kasihan, gadis itu turun sambil menguraikan tambutnya yang panjang dan lebat untuk menutupi tubuhnya. Saracina mulai membelai rambutnya dan menyisirinya. Sebentar kemudian, segera ia mengambil tusuk konde yang di pakainya dan menusukkan ke dalam telinga gadis itu. Dari telinga itu keluar setetes darah, lalu gadis itupun mati. Tetesan darah itupun jatuh ke tanah. Begitu jatuh ke tanah, segera berubah menjadi seekor burung dara yang cepat-cepat terbang. Kemudian, Saracina pun cepat-celat naik ke atas pohon dan duduk di atas dahan yang rindang.
Sementara itu, putra mahkota kembali dengan kereta kuda yang indah dan selerangkat pakaian untuk gadis impiannya. Dengan hati-hati, diturunkan dan dituntunnya gadis itu dari pohon. Tiba-tiba ia terkejut ketika melihat gadis yang dituntunnya itu ternyata berwajah jelek. Lalu ia bertanya, "Tadi kamu demikian putihnya seperti ricotta dan merah seperti darah. Mengapa sekarang kamu menjadi hitam?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
like, komen & vote