
Si Pahit Lidah
Di Kerajaan Sumidang hidup seorang pangeran bernama Serunting. Serunting memiliki seorang istri dan adik ipar bernama Aria Tebing. Serunting dan Aria Tebing memiliki ladang yang dipisahkan oleh pepohonan. Di bawah pepohonan itu tumbuh cendawan. Cendawan yang menghadap ke ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas, sedangkan yang menghadap ke ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman hama.
Serunting menjadi iri. Ia pun mengajak Aria Tembing berduel. Tentu saja Aria Tebing menolak. Serunting adalah kakak iparnya yang sakti. Tetapi, Aria Tembing ingin berjaga jaga. Ia bertanya kepada kakaknya, "Apa kelemahan Serunting?"
"Ia bisa dikalahkan dengan ilalang yang bergetar," jawab kakaknya.
Akhirnya Serunting kalah berduel. Merasa dikhianati, ia bertapa di Gunung Siguntang.
Dua tahun berlalu. Serunting memiliki kesakitan. Setiap perkataannya akan menjadi kenyataan dan kutukan. Suatu hari, ia berniat pulang ke kampung halamannya. Dalam perjalanan, ia mencoba kesaktiannya. "Jadilah batu!" ucapnya sambil menunjuk sebuah pohon. Pohon itu pun seketika menjadi batu.
Nama Serunting semakin dikenal. Ia pun menjadi sombong. Orang-orang menjulukinya si Pahit Lidah. Saat tiba di Bukit Serut yang gundul, Serunting menyadari kesalahannya. Ia mengubah bukit itu menjadi hutan kayu. Masyarakat berterima kasih kepadanya. Hutan kayu itu bisa mencukupi kebutuhan hidup masyarakat sekitar.
Saat tiba di Desa Karang Agung, Serunting mendatangi suami istri tua. "Kami sangat ingin mempunyai anak," ucap keduanya. Serunting pun mengabulkan keinginan mereka. Sehelai rambut si nenek dijadikannya seorang bayi. Serunting bahagia bisa membantu orang lain. Di sisa perjalanannya, ia belajar untuk menolong orang yang kesulitan. Kata kata kutukan dari mulutnya berubah menjadi perkataan yang baik.
Pesan Moral : Sudah seharusnya ilmu menjadikan kita lebih bijak. Ilmu yang kita miliki harus digunakan untuk membantu sesama
__ADS_1
________________________________________
Ting, Gegenting
Seorang anak yatim tinggal bersama ibunya di tepi hutan. Suatu hari, sang anak kelaparan dan berkata kepada ibunya, "Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan mau makan."
Ibunya menjawab, "Tunggulah sebentar, Nak. Ibu mau menebas ladang dulu."
Selesai ibunya menebas ladang, si anak bangun dari tidurnya dan merengek kembali. Sekali lagi ibunya menjawab, "Tunggulah, Nak. Ibu mau membakar ladang dulu."
Karena lemah, sang anak tidur lagi. Setelah ibunya membakar ranting-ranting dan daun-daun di ladang, si anak pun terjaga karena lapar. Ibunya menjawab, "Tunggulah, Nak. Ibu mau menanam padi dulu,"
Mendengar itu, si anak tertidur kembali. Tidak lama kemudian ia terbangun dan menangis. "Ting, gegenting, perutku sudah genting, kelaparan, mau makan!"
"Tunggu sebentar, Nak. Padi kita baru berbuah," jawab ibunya.
Si anak pun tertidur kembali. Ia terbangun dan meminta makan. Si ibu menjawab, "Tunggu, Nak. Padi kita baru menguning ujungnya."
__ADS_1
Si anak pun tertidur kembali. Setelah tidur cukup lama, ia terbangun lagi dan merengek. "Tunggu, Nak. Padi kita sudah masak, Ibu mau memotong padi dulu."
Mendengar janji itu, si anak segera tertidur. Tiba-tiba ia bangun kembali dan menangis. "Tunggu, Nak. Ibu masih mau merontokkan padi dari tangkainya," kata ibunya.
Si anak pun tertidur kembali. Lewat beberapa waktu ia pun bangun. Ibunya menjawab, "Tunggu sebentar, Nak. Ibu mau menampi gabah dulu."
Si anak tidur dengan hati gelisah. Ia pun menangis lagi. Tetapi, ibunya menjawab, "Tunggu, Nak. Ibu mau menjemur gabah dulu."
Si anak pun tidur lagi, lalu bangun dan menangis. "Tunggulah, Nak, Ibu mau menumbuk gabah dulu," jawab ibunya.
Selesai menumbuk gabah, terdengar lagi suara anaknya merintih sedih. Si ibu menjawab, "Tunggu, Nak. Ibu mau menampi beras dulu."
Setelah ibunya mencuci beras, anaknya sudah terjaga sambil menangis. "Sabar, Nak. Ibu masih mau menanak nasi dulu," jawab ibunya.
Si anak yang sudah lemas badannya segera tertidur. Tak lama ia bangun lagi dan terus menangis. Kali ini napasnya terengah-engah. "Ting, ge....genting... pe...rutku... suuu...dah genting, ke...laparan, mau ma...kaaan."
Ibunya menjawab, "Sebentar lagi, Nak. Ibu mau menempatkan nasi di piring dulu."
__ADS_1
Ketika si anak bangun mau makan, tiba-tiba ting.... Putuslah perutnya yang sudah genting karena sudah terlalu lapar. Si ibu dengan hati sedih mendekati anaknya. Ia menyesal telah mengabaikan keinginan anaknya.
Pesan Moral : Sesibuk apapun pekerjaan sebaiknya perhatikan juga keluarga