
Di satu desa, hiduplah seorang pembuat boneka bersama anak laki-lakinya yang bernama Aung. Sang ayah berharap agar Aung dapat meneruskan pekerjaannya sebagai pembuat boneka. Menurutnya, membuat boneka merupakan pekerjaan terhormat dan melestarikan kebudayaan. Akan tetapi, tidak begitu buat Aung. Dia menganggap pembuat boneka merupakan pekerjaan yang membosankan.
Untuk itu, dia pamit pada ayahnya ingin mencari pekerjaan lain, "Ayah, aku ingin mencari keberuntunganku di kota lain." Mendengar menuturan Aung, ayahnya sangat sedih. Walaupun demikian, sang ayah tak mampu mencegah keinginan Aung.
"Baiklah, kalau memang itu keputusanmu," kata ayah Aung, "aku akan memberimu empat boneka."
"Untuk apa boneka-boneka itu?" tanya Aung.
"Boneka-boneka itu bisa menjadi teman dalam perjalananmu," jawab ayahnya.
Aung memerhatikan setiap boneka yang akan dibawa. "Boneka-boneka itu memiliki fungsi masing-masing, "jelas ayahnya, "boneka pertama adalah boneka raja. Sifat raja adalah bijaksana. Boneka kedua adalah raksasa. Dia merupakan simbol kekuatan. Boneka ketiga adalah penyihir. Dia adalah simbol pengetahuan. Boneka terakhir adalah pertapa. Dia mewakili kebaikan. Ingatlah Aung! Setiap kekuatan dan pengetahuan harus selalu disertai dengan kebijaksanaan dan kebaikan."
Setelah menyiapkan perbekalan, Aung pun berangkat. Dia membawa serta empat boneka tersebut. Malam hari dia tiba di hutan, dia berdiri di bawah sebuah pohon.
"Di tempat ini aku bisa beristirahat. Tapi, Apakah tempat ini aman?" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba dia mempunyai ide ingin bertanya pada satu boneka yang dibawanya. Dia bertanya pada boneka raja, yang lucu. "Tolong katakan padaku. Apakah tempat ini aman untuk beristirahat?"
Tiba-tiba boneka tersebut menjadi hidup dan bergerak. Aung keheranan dibuatnya. Saat itulah boneka raja berkata, "Aung, kamu harus bisa melihat sekelilingmu dengan membuka kedua mata. Jika kamu gagal, dengan mudah orang lain akan membodohimu." Setelah berkata-kata boneka itu kemudian kembali ke tempatnya.
Aung tersadar dari keheranannya, kemudian dia mulai mengamati sekelilingnya. Dia melihat di padang rumput, ada jejak seekor harimau. Malam itu Aung mengurungkan niat tidur di bawah pohon, dia naik ke atas pohon dan tidur di rantingnya. Benar keputusannya, tengah malam terlihat seekor harimau di bawah pohon sedang mencari mangsa.
Aung melanjutkan perjalanan menyusuri pegunungan. Pelan dan pasti, malam pun datang. Aung beristirahat dan mendirikan tenda di sisi jalan yang menuju ke atas gunung. Pagi hari saat terbangun, dia melihat rombongan kafilah melintas di bawah. Kafilah itu membawa selusin pedati sapi jantan dengan barang- barang mahal di atasnya.
"Mereka pasti milik pedagang kaya," gumamnya. Dia membayangkan jika harta- harta itu menjadi miliknya. Aung tersadar dari lamunannya. Dia bertanya pada boneka raksasa, "Beri tahu aku, bagaimana bisa menjadi orang yang kaya."
Tiba-tiba raksasa itu bergerak dan berbicara, "Gampang, asal kamu mempunyai kekuatan. Kamu akan dapat semua yang kamu inginkan.”
Raksasa itu menghentakkan kakinya ke bumi. "Tunggu!" teriak Aung. "Sudah terlambat," jawab raksasa. Bumi berguncang dengan keras, lempengan batu berjatuhan menimpa rombongan kafilah. Para penunggang pedati ketakutan. Mereka lari meninggalkan barang-barang bawaannya.
"Kau lihat Aung," kata raksasa.
__ADS_1
"Benarkah ini sangat mudah?" tanya Aung tak percaya.
Dia kemudian menghampiri barang- barang yang ditinggal pemiliknya. Aung mengumpulkan satu persatu. Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan. Setelah dia menemukan sumber suara itu, dia terkejut ternyata ada seorang wanita cantik terjepit di antara pedati dan barang-barang.
“Jangan takut nona, aku akan menolongmu," ucap Aung, "kamu siapa?"
"Aku Mala, ini barang-barang milik ayahku. Kami akan menemuinya," jawab Mala.
Melihat Mala, Aung langsung jatuh cinta.
“Aku akan menjagamu selamanya," kata Aung. Dengan perasaan marah, Mala berkata, "Aku tidak sudi melihatmu, pergilah! Kamu sangat serakah. Aku tidak akan berbicara padamu. Bagaimanapun kamu seorang pencuri."
Mendengar perkataan Mala, Aung sejenak berpikir. "Apa benar aku seorang pencuri?" gumamnya dalam hati.
"Tak usah kamu pikirkan. Dia pasti akan berubah pikiran. Saat ini yang terpenting keinginanmu telah tercapai. Kamu menjadi orang kaya," sahut raksasa. Dia kemudian membantu Aung menyingkirkan barang- barang yang menghalangi jalan.
Sore hari mereka meninggalkan gunung dan tiba di sebuah desa. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Aung pada raksasa.
Segera Aung bertanya pada boneka penyihir. "Beri tahu aku apa yang harus aku da lakukan?" tanya Aung. Boneka itu bergerak dan berbicara. Mala sangat terkejut dan terbelalak menyaksikannya. "Jika ingin menambah kekayaan, kamu harus mengetahui rahasia-rahasia alam," jawab penyihir mistik. Kemudian dengan tongkatnya, dia mengajak Aung terbang.
"Lihatlah ke bawah," pinta penyihir.
"Mengagumkan," ucap Aung.
"Di sana ada tanah-tanah yang subur dan gunung-gunung yang menyimpan emas dan perak," kata penyihir.
"Aku akan membantu orang-orang di sana dengan pengetahuan yang kumiliki," jawab Aung.
"Mungkin kamu bisa melakukannya. Tapi kenapa tidak kamu gunakan untuk dirimu sendiri pengetahuan itu. Pengetahuan adalah kekuatan. Orang lain pun akan menyimpan pengetahuan untuk dirinya," jelas penyihir.
"Kurasa memang demikian," sahut Aung.
__ADS_1
Aung pergi ke ibu kota dan menjadi seorang pedagang. Kekayaannya semakin bertambah. Dia mempunyai istana untuk dirinya dan Mala. Walaupun demikian, Aung tidak bahagia karena orang yang dicintai tidak mau berbicara padanya.
Suatu hari Aung mendapatkan hadiah yang sangat banyak, sebuah penutup kepala dari emas, dengan batu rubi yang lebar, beberapa batu nilam, serta permata. Aung memperlihatkan pada Mala, tetapi dia hanya melihat sekilas dan pergi. Aung sangat kesal, "Apakah kamu tidak tahu kalau aku sangat mencintaimu!" Mala tidak menghiraukan perkataan Aung.
Aung pergi ke ruang boneka. Di sana dia berbicara dengan raksasa dan penyihir. "Mala sangat benci padaku. Aku telah membuat ayahnya miskin. Besok akan ku pertemukan mereka. Dengan begitu, mungkin Mala bisa membuka hatinya untukku," ucap Aung.
"Ide yang sangat bodoh!" sahut boneka raksasa, "kamu harus mempertahankan pendirianmu. Jika tidak, kamu akan menjadi lemah. Tapi kini sudah terlambat, Mala sudah pergi dari istana ini."
"Apa? Pergi?" teriak Aung. Segera Aung mencari keberadaan Mala, tetapi dia tidak dapat menemukannya. Dengan sedih, Aung kembali ke ruang boneka.
"Aku sudah mencarinya, tapi tidak dapat kutemukan," ucap Aung, "aku tidak akan pernah bahagia dengan semuanya, jika orang yang kucintai pergi meninggalkan aku."
Mendengar penuturan Aung, raksasa terdiam dan terpaku. Aung kemudian ingat, ada satu boneka yang belum pernah ia panggil, yaitu sang pertapa. "Beri tahu aku kenapa semua jadi berantakan seperti ini?" keluh Aung.
Boneka pertapa pun bergerak dan berbicara. "Kamu berpikir bahwa kekayaan akan dapat membahagiakanmu, itu salah. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukan dari materi, tapi dari kebaikan. Sekarang bukan bergantung pada yang kamu miliki, tapi cara kamu menggunakannya," jelas boneka pertapa.
Tiba-tiba boneka raja bergerak dan berkata, "Aung, kamu telah melupakan pesan ayahmu bahwa kekuatan dan pengetahuan harus disertai dengan kebijaksanaan dan kebaikan."
"Mulai saat ini aku tidak akan melupakannya," sahut Aung.
Aung mulai menggunakan kekayaannya untuk kebaikan. Dia membangun pagoda tempat orang-orang berdoa. Dia memberikan makanan dan perlindungan bagi orang-orang yang datang. Suatu hari di antara orang-orang yang datang, dia melihat orang yang sangat dikenalnya. "Mala!" teriak Aung.
Mala datang bersama ayahnya. Pakaian yang mereka kenakan compang- camping. Aung kemudian berlutut pada laki-laki tua itu. "Maafkanlah aku Tuan. Aku telah merampas hartamu. Kekayaanku ini semua milikmu. Dengan tulus ikhlas, aku mengembalikan padamu," ucap Aung, "aku akan kembali ke desa membantu ayahku membuat boneka."
"Ayah, ini Aung. Dia sekarang sudah berubah," kata Mala pada ayahnya.
"Oh begitu, sangat sia-sia jika aku membiarkan pemuda yang sangat berbakat sepertimu," ucap ayah Mala.
"Maksud ayah?" tanya Mala.
"Kita akan mengajaknya untuk tinggal di istana bersama kita," jawab sang ayah.
__ADS_1
Setelah hari itu, Aung ikut bersama Mala dan ayahnya. Dia menjadi asisten ayah Mala dalam berdagang. Tidak butuh waktu lama, dia pun menjadi rekan kerja, kemudian menjadi menantu laki-lakinya dengan menikahi Mala. Adapun boneka-bonekanya, Aung sesekali memanggil. Meskipun dibantu dengan kekuatan dan pengetahuan, tidak lupa Aung menyertainya dengan kebijaksanaan dan kebaikan.