Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Asal Usul Kota Dumai


__ADS_3

Asal Usul Kota Dumai


Dahulu, ada sebuah kerajaan bernama Sri Bunga Tanjung. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu bernama Cik Sima. Ia mempunyai tujuh orang putri. Putri yang paling cantik adalah putri bungsu yang bernama Putri Mayang Sari.


Suatu hari, ketujuh putri mandi di Lubuk Sarong Umai. Pangeran Empang Kuala yang sedang melewati daerah itu terpesona dengan kecantikan mereka. Terlebih ketika melihat Putri Mayang Sari. Lalu, sang Pangeran meminang Putri Mayang Sari. Tetapi, Cik Sima menolak pinangan tersebut. Putri tertualah yang seharusnya menerima pinangan lebih dahulu.


Pangeran Empang Kuala murka. Lalu, ia mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Sri Bunga Tanjung. Mendapat serangan tersebut, Cik Sima segera mengamankan ketujuh putrinya ke dalam hutan. "Bersembunyilah kalian di sebuah lubang. Bawalah makanan ini untuk makan selama tiga bulan," perintah Cik Sima.


Pertempuan berlangsung lama. Telah lewat tiga bulan tidak juga usai. Korban sudah banyak berjatuhan. Akhirnya, Cik Sima meminta bantuan jin. Ketika Pangeran Empang Kuala dan pasukannya beristirahat di hilir Sungai Umai, tiba-tiba saja ribuan buah bakau berjatuhan. Buah-buah itu menimpa seluruh pasukan. Pangeran Empang Kuala pun terluka.


Datanglah utusan Ratu Cik Sima. "Sebaiknya perang kita hentikan karena hanya menimbulkan kerusakan," kata utusan itu.


Pangeran Empang Kuala menyadari kekeliruannya. "Baiklah, perang ini kite hentikan saja" sahut Pangeran. Akhirnya, la memerintahkan pasukannya untuk mundur

__ADS_1


Rat Cik Sima mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya. Namun, mereka telah meninggal karena kelaparan. Ratu Cik Sima tak kuasa menahan sesal dan kesedihan atas kehilangan putri-putrinya. Ia pun jatuh sakit dan meninggal dunia.


Konon, kata Dumai diambil dari kata "Ya umai... dumai. Ya d`umai". Kata itu diucapkan Pengeran Empang Kuala ketika melihat Putri Mayang Sari di sungai.


Pesan Moral : Peperangan hanya kan menimbulkan kerugian dan penyesalan


________________________________________


Putri Tangguk


Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya pergi ke sawah. Dalam perjalanan, tiba-tiba Putri Tangguk terpeleset dan Jatuh. Putri Tangguk marah-marah. "Baiklah! Nanti setelah menuai padi, aku akan menyerakkan padi-padi di jalan ini agar tidak licin lagi."


Hampir semua padi yang mereka bawa diserakkan di jalan itu. Jalan pun tidak licin lagi. Setelah hari itu, Putri Tangguk tidak pernah lagi menuai padi. Ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Kesibukannya itu ternyata juga menyita waktunya. Ia pun tetap tak bisa bermain ke tetangga, apalagi mengurus anak anaknya.

__ADS_1


Putri Tangguk menenun hingga malam. Karena letih, ia pun tertidur dan lupa menanak nasi. Tengah malam, anak-anaknya terbangun secara bergiliran. Putri Tangguk berhasil membujuk mereka untuk tidur Namun, ketika anaknya si sulung bangun dan minta makan, la justru memarahinya.


"Kamu sudah besar! Ambil sendiri nasi di panci. Kalau tidak ada, ambil beras dan masak sendiri. Jika tidak ada beras, ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri!" seru Putri Tangguk.


Si sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Namun, ia tidak menemukan nasi di panci maupun beras di kaleng. Ia segera ke lumbung dan tak menemukan apa pun. Ia pun melapor pada ibunya. Sang suami segera menuju ke lumbung. Dengan perasaan panik, ia pun memeriksa satu per satu lumbung padinya. Setelah ia membuka semuanya, tidak sebutir pun biji padi yang tersisa. Putri Tangguk yakin ada yang mencuri beras dan padi-padinya di lumbung.


Esoknya, ia dan keluarganya pergi ke sawah lagi untuk memanen. Namun, tak ada satu batang padi pun yang tumbuh. Yang ada hanya rumput rumput liar. Mereka pulang ke rumah dengan kecewa dan sedih. Karena keletihan, Putri Tangguk tertidur dan bermimpi.


"Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kamu mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya mampu mengisi lumbung-lumbung yang besar itu. Tetapi sayang, kamu orang yang sombong dan takabur. Kamu menyerakkan padi-padi di jalanan. Ketahuilah, bahwa di antara padi-padi yang kamu tabur itu, ada sebatang padi hitam. Dia adalah raja kami. Kami tidak bisa menerima perbuatanmu. Kami tidak akan lagi tumbuh di sawahmu. Mulai saat ini kamu harus bekerja keras seperti ayam. Kamu harus mengais-ngais terlebih dahulu, baru bisa makan."


Putri Tangguk pun sangat sedih menyadari sifatnya yang sombong dan tidak bersyukur


Pesan Moral : Kita harus rendah hati dan mensyukuri apa yang kita miliki

__ADS_1


__ADS_2