Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Ular n'Daung


__ADS_3

Ular n'Daung


Di sebuah kaki gunung, hiduplah seorang perempuan tua dengan tiga orang anaknya. Suatu hari, perempuan tua itu sakit parah. Orang pintar di desanya mengatakan ia harus diberi obat khusus, yaitu dedaunan yang dimasak dengan bara gaib dari puncak gunung. Konon, bara itu dijaga oleh seekor ular. Ia akan memangsa siapa pun yang mendekati puncak gunung itu.


Ternyata hanya si Bungsu yang berani. Ia mendaki gunung kediaman si Ular n'Daung. Belum habis rasa khawatir si Bungsu, tiba-tiba terdengar gemuruh dan raungan yang keras. Tanah bergetar. Inilah pertanda si Ular n'Daung segera keluar dari gua. Si Bungsu segera menyampaikan maksud kedatangannya.


"Bara itu akan kuberikan jika kau bersedia menjadi istriku!" jawab si Ular n'Daung.


Demi kesembuhan ibunya, si Bungsu pun setuju. Setelah membawa bara api pulang, ia kembali ke gua dan menjadi istri si Ular n'Daung. Pada malam hari, ular itu berubah menjadi seorang kesatria tampan. Pagi harinya, ia kembali menjadi ular. Ia telah disihir oleh pamannya sendiri yang ingin menjadi raja.

__ADS_1


Kedua kakak si Bungsu menjadi curiga atas kepergian si Bungsu. Mereka pun mendatangi gua. Di sana mereka melihat si Bungsu duduk dengan seorang pemuda tampan. Timbullah rasa iri karena pemuda itu telah memperistri si Bungsu. Diam diam, mereka mengambil kulit ular dan membakarnya. Keduanya berharap Pangeran akan marah dan mengusir si Bungsu.


"Sihir itu hilang jika ada yang membakar kulitku. Terima kasih banyak," ucap Pangeran keesokan harinya. Pangeran pun mengajak si Bungsu ke istana. Mereka berhasil merebut kerajaan dari tangan pamannya. Mereka mengajak ibu dan kakak-kakak si Bungsu untuk tinggal di istana. Tetapi, kedua kakaknya menolak karena malu.


Pesan Moral: Kebaikan hati akan berbuah kebaikan pula


Raja Api dan Putri Sulita


Tersebutlah seorang raja yang bengis bernama Raja Api. Ia memiliki seekor gagak buta yang disayanginya. Suatu hari, Raja Api hendak ke luar kota. Ia berpesan tiga hal kepada Permaisuri yang sedang hamil tua. Pertama, agar menjaga dirinya. Kedua, jangan lupa memberi makan burung kesayangan raja. Ketiga, jika Permaisuri melahirkan anak perempuan, anak itu segera dibunuh.

__ADS_1


Anak yang dinantikan pun lahir. Ternyata ia seorang bayi perempuan yang lalu diberi nama Putri Sulita. Dua pekan kemudian, Raja Api telah kembali. Permaisuri bercerita tentang kelahirannya dan mengatakan bahwa bayi perempuan mereka sudah dibunuh dan dibuang ke sungai.


Ketika mereka bersantap, tiba-tiba bersuaralah gagak buta dari dalam sangkarnya, "Makanlah yang enak, Tuanku. Biarlah aku kelaparan dalam sangkar. Hiduplah dengan enak, Tuanku. Tetapi, bayi perempuan yang dilahirkan sudah disingkirkan ke luar kota."


Raja Api tampak kaget mendengar kata-kata si gagak. Ia pun meminta permaisuri untuk jujur. Permaisuri tetap mengatakan bahwa bayi perempuannya telah di bunuh dan di buang.


Lima belas tahun telah berlalu. Bayi perempuan yang dirawat oleh dayang sudah menjadi seorang gadis. Ia memiliki keahlian mengobati berbagai penyakit. Pada saat bersamaan, sang Raja jatuh sakit. Tabib istana gagal mengobati penyakitnya. Maka, dibuatlah sayembara barang siapa bisa menyembuhkan penyakit sang Raja, akan memperoleh hadiah yang besar dan keselamatan hidupnya juga akan dijamin. Mendengar berita itu, timbullah keinginan Putri Sulita untuk mencoba mengobati penyakit yang diderita oleh sang Raja.


Pengobatan itu berhasil. Sang Raja sehat kembali seperti sedia kala. Sesuai janjinya, sang Raja meminta Putri Sulita dan pengasuhnya tinggal di istana. Putri Sulita diangkat menjadi anak dan berhak mendapat gelar ratu bila saatnya tiba. Permaisuri sangat bahagia. Demikian pula Putri Sulita. Raja Api yang dahulu terkenal galak, berubah menjadi baik.

__ADS_1


__ADS_2