
Di Nigeria, ada seorang laki-laki kuat. Dia dapat mengangkat beban dua kali lebih banyak dari orang lain. Laki-laki itu bernama Shadusa. Dia merasa bahwa dirinya lah yang paling kuat. "Akulah orang terkuat di Negeri ini," kata Shadusa pada Shettu, istrinya. "Lihatlah otot-ototku ini. Tidak akan ada orang yang dapat menandingi kekuatanku. Akulah Master Man," tambah Shadusa.
"Kamu jangan sombong. Pasti ada orang yang dapat menandingimu," jawab Shettu. "Mungkin di sini kamu yang terkuat. Akan tetapi, di luar sana pasti ada yang lebih kuat. Kamu pasti kalah dengan mereka," jelas istrinya.
Suatu hari, Shettu berkunjung ke rumah saudaranya di desa sebelah. Dalam perjalanan pulang, Shettu merasa sangat haus. Beruntunglah dia, karena menemukan sumur di pinggir jalan. "Itu ada sumur, sungguh beruntung diriku," gumamnya.
Dia pun memasukkan ember ke dalam sumur "Byurrrrrrr," suara ember menyentuh air. Shettu berusaha menarik ember ke atas, tetapi dia tidak dapat menariknya.
"Sungguh berat isi ember ini," gumamnya. Saat itu, datanglah seorang wanita menggendong bayi dan di atas kepalanya ada sebuah labu. Dia pun ingin mengambil air
"Kamu tidak akan mendapat air hari ini," ucap Shettu. "Ember itu tidak akan bisa kamu tarik ke atas, " tambahnya.
Kedua wanita itu akhirnya menarik ember bersama-sama, tetapi tidak berhasil.
Wanita itu kemudian menurunkan bayinya sambil berkata, "Nak, tolong tarik ember itu untuk ibu." Dengan cepat, bayi itu menarik ember.
Dia mengambilkan air untuk ibunya. Kemudian, mengambil satu ember lagi untuk Shettu. "Aku sangat tidak percaya," ucap Shettu keheranan.
"Itu sangatlah wajar," kata sang wanita. "Jika suamimu Master Man, itu bisa juga terjadi pada anakmu," imbuhnya.
Sampai di rumah, Shettu menceritakannya pada Shadusa. "Apa? Kau bilang dia jagoan! Akulah jagoan itu," teriak Shadusa.
"Aku ingin bertemu dengannya. Akan ku beri pelajaran dia," kata Shadusa geram.
"Jangan Shadusa, kamu tidak akan bisa melawan anak itu," cegah Shettu. "Kalau anaknya saja sekuat itu bagaimana dengan ayahnya!" tambahnya.
"Tidak, aku akan tetap mencari dia," sahut Shadusa.
Beberapa hari kemudian, Shadusa melewati sumur. Dia berhenti untuk mengambil air. Dia masukkan ember ke dalamnya dan menarik ke atas. Akan tetapi, ember itu tidak terangkat. Dengan sekuat tenaga dia mencoba, tetapi tetap tidak berhasil.
Pada saat itu, ada wanita datang dengan menggendong seorang bayi. Wanita itulah yang pernah bertemu Shettu sebelumnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan," tanya Shadusa.
"Aku ingin mengambil air," jawabnya.
"Kamu tidak akan mendapatkan air hari ini," jelas Shadusa. "Ember itu tidak bisa terangkat ke atas," tambahnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," pinta sang wanita.
Wanita itu menurunkan bayinya ke tanah dan memerintahkan untuk mengambil air. Bayi itu kemudian menarik timba dan mengisi labu ibunya.
"Wah! Aku tidak percaya! Bagaimana dia bisa melakukannya?" tanya Shadusa keheranan. "Itu sangat mudah, jika kamu punya ayah seorang Master Man," jawab sang ibu.
"Master Man? Ayahnya seorang Master Man," Shadusa mengulanginya.
"Aku ingin bertemu dengan dia," pinta Shadusa.
"Lebih baik jangan tuan," cegah sang wanita.
"Tidak, aku tetap ingin bertemu dengannya," desak Shadusa.
"Baiklah kalau begitu," wanita itu menyerah.
Shadusa mengikuti wanita itu pulang. Sampailah mereka di satu rumah dengan halaman yang sangat luas. Di sana ada perapian yang sangat besar, perapian raksasa.
"Inilah tempat tinggal kami," wanita itu menunjuk rumahnya. "Perapian itu tempat suamiku memasak santapannya. Karena kita terlalu kecil, maka dia memangsa seekor gajah," jelasnya.
Mendengar cerita sang wanita, Shadusa menjadi merinding.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tanah pun menjadi bergoyang.
"Ada apa ini?" tanya Shadusa. "Itu suamiku, Master Man, datang," jawabnya.
"Cepatlah kamu bersembunyi dalam tong kosong itu," perintah sang wanita.
Dia pun membantu Shadusa masuk dalam tong kosong.
Wanita itu kemudian menghampiri suaminya. "Bagaimana harimu sayang," tanya sang wanita. "Aku lupa membawa busur dan anak panahku. Terpaksa aku menangkap gajah itu dengan tangan kosong," jawab suaminya.
Shadusa mengintip dari tempat persembunyiannya. Dia mendengar percakapan mereka dari tempat itu.
"Aku mencium bau manusia. Apa ada orang lain di sini?" desak raksasa. "Tidak-tidak, suamiku. Di sini hanya ada kita," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Kamu sudah melewatkannya ketika berburu, mungkin baunya masih tercium sampai sekarang," jelas sang wanita meyakinkan suaminya. "Baiklah, aku akan memasak hewan buruanku," desah raksasa.
__ADS_1
Raksasa itu menaruh gajah di atas perapiannya. Setelah matang dia memakannya dengan lahap. Tak lama kemudian, dia tertidur Suara dengkurannya menggetarkan daun- daun di atas pohon.
Setelah dirasa aman, wanita itu menghampiri Shadusa. "Cepatlah tinggalkan tempat ini sebelum suamiku terbangun," perintah sang wanita.
"Baiklah," jawab Shadusa.
Belum jauh dia meninggalkan halaman rumah itu. Terdengarlah suara gemuruh, tanah pun bergetar. "Master Man datang!" teriaknya.
Dalam pelarian itu, Shadusa bertemu dengan lima petani. "Hai! Ada apa terburu- buru," tanya salah satu petani. "Aku dikejar Master Man," jawabnya. "Tenang, Master Man tidak akan berani ganggu kita karena kita berlima," sahut yang lain.
Tiba-tiba mereka mendengar gemuruh dan tanah pun bergetar. "Ada apa ini?" tanya seorang petani.
"Itu Master Man," jawab Shadusa. "Kalau begitu, kamu harus tetap berlari," saran petani.
Shadusa lari sekencang- kencangnya, lima petani itu pun lari melintasi persawahan.
Shadusa berlari, sampai dia bertemu dengan sepuluh kuli bangunan. "Ada apa terburu- buru," tanya salah satu kuli. "Aku dikejar Master Man," jawab Shadusa.
"Tenanglah, Master Man tidak akan berani melawan kita karena kita ada sepuluh orang," sahut mereka.
Tiba-tiba tanah bergoncang dan terdengar suara gemuruh.
"Ada apa ini?" tanya satu kuli. "Itu Master Man," jawab Shadusa.
"Kalau begitu, lebih baik kamu terus berlari agar tidak tertangkap," saran para kuli bangunan.
Shadusa melanjutkan berlari. Sampailah dia di tikungan jalan. Dia bertemu dengan orang asing. la sedang duduk santai di antara tumpukan tulang gajah. "Ada apa terburu-buru," tanya orang asing tersebut.
"Ada Master Man! Dia mengejarku," jawab Shadusa.
"Jangan bilang begitu, Akulah Master Man," sahutnya.
Shadusa melompat kaget. Tiba-tiba Master Man telah menangkapnya dengan satu tangan. "Berikan dia padaku, pinta orang asing yang mengaku Master Man. "Ambil dari tanganku kalau kamu bisa," sahut Master Man.
Mereka saling berebut Shadusa. Master Man menerjang, orang asing itu melawan, sedangkan Shadusa terlempar ke atas pohon.
Keduanya bertarung, terbang ke angkasa, awan. dan terdengar suara gemuruh di balik awan, mereka terus bertarung. Lama Shadusa menunggu, tetapi kedua orang asing tersebut tidak juga kunjung turun. Mereka terus bertarung.
__ADS_1
Sejenak mereka beristirahat, kemudian bertarung lagi. Begitulah seterusnya. Merekalah dua orang bodoh yang ingin membuktikan diri sebagai Master Man. Jika terdengar gemuruh di atas langit, itu pertanda mereka sedang bertarung. Ada yang menyebut suara guntur adalah suara dari pertarungan mereka.