Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Asal Mula Huruf Jawa


__ADS_3

Asal Mula Huruf Jawa


Di desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah pemuda sakti bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Pemuda itu memiliki dua orang abdi bernama Dora dan Sembada. Ketika Aji Saka mengembara, dipilihlah Dora untuk menemaninya. Sembada ditugaskan untuk membawa keris pusaka ke Pegunungan Kendeng. Aji Saka berpesan agar keris itu tidak diberikan pada siapa pun. Aji Saka sendiri yang kelak akan mengambilnya.


Di perjalanan, Aji Saka mendengar berita tentang kekejaman Prabu Dewata Cengkar yang suka memakan daging manusia. Aji Saka pun mendatangi kerajaan tersebut. Ia ingin membebaskan rakyat Medang Kemulan. Ketika bertemu sang Prabu, Aji Saka berpura-pura menyerahkan diri. Ia berkata, "Sebelum Paduka menyantap hamba, izinkan hamba meminta satu syarat. Berikan hamba sebidang tanah. Ukurannya sepanjang serban hamba."


Prabu Dewata Cengkar menyetujuinya. Ia mulai membentangkan serban milik Aji Saka dan mengukurnya. Ternyata serban itu bertambah panjang dan lebar. Sang Prabu amat murka. Saat itulah, Aji Saka menyentakkan serbannya hingga melilit tubuh sang Prabu. Ia terlempar ke Laut Selatan dan berubah menjadi buaya putih. Kemudian, Aji Saka dinobatkan sebagai raja baru di Kerajaan Medang Kemulan.


Suatu hari, Aji Saka meminta Dora untuk mengambil kerisnya di Pegunungan Kendeng. Tetapi, Sembada menolak memberikan keris itu. Ia ingat pesan Aji Saka. Dora bersikeras, sementara Sembada juga tetap bertahan. Akhirnya kedua sahabat itu pun bertarung mempertahankan tanggung jawab masing-masing. Pada akhirnya, keduanya tewas kelelahan.


Aji Saka yang gelisah segera menyusul Dora. Betapa ia terkejut ketika melihat keadaan kedua abdinya. Keduanya tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau dikenal dengan istilah dhentawyanjana. Aksara Jawa tersebut mengisahkan pertarungan antara dua abdinya yang memiliki kesaktian sepadan dan tewas bersama. Huruf-huruf tersebut dikenal dengan istilah carakan.

__ADS_1


________________________________________


Salah Tiga


Pada zaman dahulu, Semarang dipimpin oleh Adipati Pandanarang. Ia terkenal sebagai pemimpin yang jujur, tetapi juga menyukai harta benda yang berlimpah. Sifat kurang baik Adipati ini terdengar oleh Sunan Kalijaga. Sunan berniat mengingatkan Adipati dengan menyamar sebagai tukang rumput. Ketika Sunan lewat di halaman kabupaten, Adipati menawar rumput dengan harga yang sangat rendah.


Sunan setuju. Ia meletakkan rumputnya di kandang. Sebelum pergi, ia menyelipkan uang lima sen di antara rerumputan. Uang tersebut ditemukan oleh abdi dalem. Sang abdi segera melapor kepada Adipati.


Adipati Pandanarang marah mendengar jawaban itu. Ia merasa dihina. Namun, kata-kata tukang rumput itu benar. Ada emas permata di dalam tanah istana. Adipati akhirnya mengetahui si tukang rumput adalah Sunan Kalijaga. Adipati pun memohon maaf. Ia memohon agar Sunan Kalijaga sudi menjadi gurunya. Sunan Kalijaga menyetujuinya asalkan Adipati melepaskan kegemarannya mengumpulkan harta benda.


Nyi Pandanarang ingin ikut suaminya. Namun, ia tak rela meninggalkan harta bendanya. Terlebih jika harus diberikan pada fakir miskin. Perempuan itu pun meminta suaminya berangkat lebih dulu. Ia menyimpan emas dan permatanya dalam tongkat bambu.

__ADS_1


Sementara itu, Adipati sudah jauh berjalan bersama Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan, mereka diadang oleh tiga orang penyamun. "Jika kau ingin barang berharga, tunggulah. Sebentar lagi akan lewat seorang perempuan tua. Cegat dia. Kau akan mendapatkan emas permata dalam tongkat bambunya," kata Sunan Kalijaga.


Tak lama kemudian, muncullah Nyi Pandanarang yang berjalan tertatih dengan tongkat bambu. Ketiga penyamun menghadang dan merampas tongkat bambu itu. Nyi Pandanarang tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika berhasil menyusul suaminya dan Sunan Kalijaga, ia menceritakan kejadian perampokan yang dialaminya sambil menangis.


"Kau tidak mendengarkan kata suamimu," ujar Sunan Kalijaga. "Untuk berguru denganku, kalian harus meninggalkan harta duniawi. Kejadian ini adalah salahmu sendiri."


Nyi Pandanarang dan suaminya mencoba memahami perkataan Sunan Kalijaga. Mereka menyadari kekeliruannya, terlalu cinta harta duniawi.


"Ada tiga pihak yang melakukan kesalahan di sini," lanjut Sunan Kalijaga kepada Nyi Pandanarang. "Kau sendiri, suamimu, dan para penyamun itu. Kelak, tempat ini akan menjadi tempat yang ramai dan dikenang orang."


Untuk mengingat kejadian tersebut, Sunan Kalijaga menamakan daerah itu dengan "Salah Tiga". Pada perkembangan selanjutnya, Salah Tiga bergeser ucapannya menjadi Salatiga. Kini Salatiga menjadi kota yang ramai seperti yang pernah diprediksi oleh Sunan Kalijaga.

__ADS_1


Pesan moral: Harta benda tidak selamanya akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan. Ada kalanya, justru menjadi sumber malapetaka.


__ADS_2