
Si Lingga dan Si Purba
Si Lingga dan Purba adalah dua bersaudara yang sangat miskin. Mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar dan rotan di dalam hutan. Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon, Lingga teringat pesan orang tuanya. Jika berdoa dengan ikhlas, keinginan kita akan dikabulkan.
Lingga mengajak Purba berdoa. Selesai berdoa dengan khusyuk, tiba tiba seekor burung terbang mendekat. "Hai, anak muda, kekayaan apakah yang kalian kehendaki?"
Lingga dan Purba menjawab ragu, "Berikan kami emas sebesar kepala kuda."
Ketika hendak pulang, mereka menemukan bongkahan emas sebesar kepala kuda. Kedua pemuda itu sangat gembira. Mereka pun mulai mengkhayal apa saja yang akan mereka beli dari hasil menjual emas itu. Lingga ingin memiliki emas itu sendiri. Purba pun berpikir demikian.
Karena sedang lapar, mereka tidak bisa mengangkut emas itu. Lingga meminta Purba untuk mengambil makanan di rumah. Purba setuju. Sepeninggal Purba, ternyata Lingga membuat lubang perangkap di dekat bongkahan emas. Ia menancapkan bambu-bambu runcing di dalamnya, lalu menutupinya dengan daun-daun kering.
Setelah kenyang, Purba kembali ke hutan. Ia melihat Lingga masih menunggu. Purba mendekati saudaranya dengan gembira. Ketika hampir sampai, Purba terjatuh dalam lubang. Makanan yang ia bawa terlempar ke luar.
Lingga senang karena jebakannya berhasil. Ia segera makan dengan lahap. Tak lama, Lingga muntah darah. Ternyata Purba telah meracuninya. Keduanya meninggal dunia. Tak seorang pun bisa memiliki bongkahan emas itu.
Pesam Moral : Sifat serakah akan selalu membawa petaka
__ADS_1
______________________________________
Si Batek dan Si Toulu
Si Toulu kura-kura dan si Batek biawak membuka ladang bersama. Mereka ingin menanam pisang. Suatu hari, pergilah mereka mencari bibit pisang. Mereka menemukan pohon pisang yang hampir berbuah. Si Toulu dan si Batek sepakat membaginya sama rata.
Karena ingin cepat menikmati hasil, si Batek memilih bagian atas. Pada bagian itu sudah hampir muncul buahnya. Si Toulu memilih pangkalnya. Hari itu juga mereka menanam pisang tersebut di lahan masing-masing.
Beberapa minggu lamanya, tumbuhlah pisang milik si Toulu. Namun, batang pisang milik si Batek menjadi layu. Merasa bahwa tanaman pisang yang ditanam Toulu sudah tumbuh, Datanglah si Batek ke ladangnya. Ia kaget melihat batang pisangnya sudah mati, sedangkan batang pisang milik si Toulu tumbuh besar dan sudah berbuah.
"Siapa yang mencuri pisangku?" tanya Toulu keesokan harinya.
"Bukan aku pencurinya," sahut Batek.
Si Toulu segera membuat perangkap. Ia yakin pencuri itu akan segera tertangkap. Esoknya, pagi pagi sekali ia sudah tiba di ladang. Si Toulu tidak pernah mengira, ternyata si pencuri adalah sahabatnya. Si Batek mengakui kesalahannya. Sejak itu, ia berjanji akan selalu berbuat jujur.
Pesan Moral : Janganlah mencuri karena itu adalah perbuatan yang tidak baik
__ADS_1
________________________________________
Asal Mula Danau Maninjau
Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari 9 laki-laki dan 1 perempuan. Orang tua mereka telah meninggal. Anak tertua bernama Kukuban dan si bungsu bernama Siti Rasani. Mereka di asuh oleh paman mereka, Datuk Limbatang. Lelaki itu mempunyai seorang putra bernama Giran. Ketika dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Kedua keluarga pun menyambut hubungan mereka dengan sukacita.
Seusai panen, warga kampung melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti, termasuk Kukuban dan Giran. Kukuban berhasil mengalahkan lawan-lawannya, Demikian pula dengan Giran.
Keduanya bertemu pada pertandingan penentuan. Kukuban dan Giran sama sama kuat. Kukuban menyerang Giran. Tetapi, tendangannya dapat ditangkis oleh Giran. Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. Ia dinyatakan kalah dalam pertarungan. Kukuban pun dendam pada Giran.
Datuk Limbatang ingin membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan itu. Sani dan Giran sangat sedih. Esoknya, mereka pun bertemu di pinggir sungai untuk membicarakan nasib hubungan mereka. Tiba-tiba, kain yang dikenakan Sani tersangkut di ranting berduri dan melukai kakinya. Giran mengobati luka di kaki Sani. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengintai mereka. Melihat ulah Giran, warga berprasangka buruk. Sani dan Giran diadili. Mereka dianggap telah melakukan perbuatan yang melanggar etika adat.
Sidang adat memutuskan Sani dan Giran bersalah. Mereka diberi hukuman harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka. Tiba di puncak Gunung Tinjau, Giran dan Sani berdoa. "Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini. Berilah pelajaran pada mereka." Lalu, keduanya meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.
Tak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat. Gempa hebat terjadi, menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk. Letusan gunung menyebabkan terjadinya sebuah kawah. Semakin lama kawah itu menyerupai sebuah danau, yang kemudian diberi nama Danau Maninjau.
Pesan Moral : Kita tidak boleh menyimpan dendam dan berprasangka buruk
__ADS_1