
Asal Muasal Raja Negeri Jambi
Pada zaman dahulu, Jambi terdiri dari lima buah desa, yaitu Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Kelima desa itu membutuhkan seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan semua desa.
Para sesepuh dari setiap desa bermusyawarah. Mereka menentukan syarat raja yang akan dipilih. Setiap calon raja harus diuji melallui empat ujian, yakni dibakar, direndam di dalam air mendidih, dijadikan peluru meriam, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil, maka dialah yang berhak menjadi raja.
Waktu ujian pun tiba. Setiap desa mempersiapkan wakilnya masing masing. Utusan dari Desa Tujuh Koto mulai diuji. Namun, pada ujian terakhir, tulang-tulangnya hancur. Utusan desa-desa berikutnya, semua berhasil pada ujian ketiga. Tetapi, semua gagal pada ujian keempat.
Para sesepuh dari kelima desa itu kembali mengadakan musyawarah. "Kita cari calon raja dari luar daerah saja," ucap seorang sesepuh. Semuanya setuju dan bertekad untuk mengarungi samudra di ujung Pulau Sumatera. Lalu, mereka tiba di Negeri Keling di India. Mereka bertemu dengan seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Setelah dicapai kesepakatan, Rombongan itu segera membawa calon raja pulang ke Jambi.
__ADS_1
Seperti calon-calon raja sebelumnya, orang Keling itu menjalani ujian. Semua berhasil dilalui dengan mulus. Pada ujian terakhir, semua mata dibuatnya terbelalak. Kilang besi besar yang menindas tubuhnya justru hancur berkepang-keping. Para sesepuh dan penduduk setuju orang Keling itu menjadi raja mereka.
Beberapa bulan kemudian, berdirilah sebuah istana yang indah. Orang Keling dari India itu pun dinobatkan menjadi Raja Jambi.
Pesan Moral : Seorang Pemimpin harus memiliki kemampuan dan tahan berbagai ujian
_________________________________________
Dahulu, hidup kakak beradik yang cantik jelita bernama Sulung dan Bungsu. Tidak seorang pun tahu, ibu mereka adalah seekor kucing. Padahal, banyak pemuda yang tertarik dengan mereka.
__ADS_1
Suatu hari, datang dua pemuda yang ingin meminang Sulung dan Bungsu. Sebelum menikah, Sulung dan Bungsu menyuruh mereka untuk meminta restu kepada ibunya. Kedua gadis itu kemudian memanggil ibu mereka yang sejak tadi belum menemui dua pemuda itu.
Betapa terkejutnya kedua pemuda itu ketika yang muncul adalah seekor kucing. Mereka tidak bisa menerima ibu Sulung dan Bungsu yang ternyata seekor kucing. Akhirnya, mereka membatalkan lamaran. Mereka tidak mau memiliki ibu mertua seekor kucing. Sulung dan Bungsu begitu malu dan kecewa. Mereka menyesal memiliki ibu seekor kucing. Akhirnya, mereka berpikir untuk mencari ibu baru yang lebih pantas.
"Maukah kau menjadi ibu kami?" pinta mereka pada Matahari. Namun, Matahari menolak. Matahari tidak sehebat yang mereka kira. Matahari akan terhalang saat awan datang. Maka, Sulung dan Bungsu pun menemui awan. Mereka berharap, awan mau menjadi ibu mereka.
"Aku tidak bisa menjadi ibu kalian," tolak Awan. Ia akan terhempa ke gunung jika angin datang. Lalu, gunung akan menghalanginya.
Akhirnya, Sulung dan Bungsu pergi mencari Gunung. Ternyata, Gunung pun menolak. Meskipun Gunung bertubuh besar, di tubuhnya banyak lubang. Tikuslah yang melubanginya. Sulung dan Bungsu akhirnya pergi mencari rumah Tikus.
__ADS_1
Mereka masih tetap berharap dapat menemukan seorang ibu yang hebat untuk mereka. Mereka berhasil menemukan Tikus. Tetapi, tikus pun ternyata menolak. "Aku saja bisa dimakan kucing," ucap Tikus. Tikus yang mereka anggap kuat, ternyata takut pada seekor kucing. Setelah itu barulah Sulung dan Bungsu sadar. Ternyata ibu merekalah yang paling hebat. Mereka sangat bersalah pada sang ibu. Sulung dan Bungsu sadar, lalu menyayangi ibunya untuk selama-lamanya.
Pesan Moral : Kita seharusnya menghormati dan menyayangi ibu kita apa pun kondisinya