Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Legenda Gunung Merapi


__ADS_3

Legenda Gunung Merapi


Konon, Pulau Jawa dahulu berupa hutan belantara. Belum banyak penduduk yang menghuninya. Ternyata Pulau Jawa ini posisinya miring. Para dewa mengkhawatirkan Pulau Jawa akan meluncur dan tenggelam ke Laut Selatan. Pada suatu hari, para dewa berunding. Mereka bermaksud memindahkan Gunung Jamurdwipa ke tengah-tengah Pulau Jawa. Gunung Jamurdwipa berada di Laut Selatan. Gunung ini dihuni oleh para makhluk galb.


Dari hasil pengukuran para dewa, ternyata tengah Pulau Jawa berada di Sleman, Yogyakarta. Daerah tersebut dihuni oleh Empu Permadi dan Empu Rama. Kedua empu ini sangat sakti. Mereka sedang menempa bongkahan besi untuk dijadikan keris. Para dewa kemudian mengutus Dewa Panyarikan dan Batara Naradha untuk menemui kedua empu tersebut. "Kami diutus para dewa untuk meminta kalian pindah dari sini," ucap keduanya.


"Kami tidak bisa pindah dari sini. Kami sedang berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan. Jika pekerjaan itu ditinggalkan, akan menyebabkan petaka di seluruh Pulau Jawa," ucap Empu Permadi dan Empu Rama.


Dewa Panyarikan dan Batara Naradha tetap bersikeras. Perintah para dewa harus dilaksanakan. Empu Permadi dan Empu Rama pun tetap menolak. Maka, terjadilah adu mulut. Hingga akhirnya adu kesakitan tidak bisa dihindarkan.


Dewa Panyarikan dan Batara Naradha bersama pasukannya menyerang kedua empu tersebut. Pertempuran sengit pun terjadi. Kedua empu yang sakti itu tidak mudah dikalahkan. Karena pertempuran dasyat tersebut, terjadilah kerusakan di sekitarnya. Hutan dan pohon menjadi rusak. Tetapi, mereka terus bertempur. Para dewa pun resah. Mereka tidak ingin alam akan rusak lebih parah lagi.

__ADS_1


Atas kesepakatan para dewa, Dewa Bayu meniup Gunung Jamurdwipa. Gunung Jamurdwipa jatuh persis di tengah-tengah perapian tempat membuat keris. Empu Permadi dan Empu Rama tidak mampu menghindar. Mereka ikut pula tertimbun di dalamnya. Kedua empu sakti itu pun tewas. Karena dianggap tidak patuh kepada dewa, roh Empu Permadi dan Empu Rama pun tidak diterima di kayangan. Mereka pun menjadi penghuni gunung yang baru itu.


Meskipun telah tewas, sisa-sisa kesakitan Empu Permadi dan Empu Rama masih terlihat. Bahan keris yang belum selesai dibuat terus menyala. Api tersebut semakin membesar. Hanya kedua empu itulah yang bisa memadamkannya. Karena tertimbun gunung, api itu pun lama-kelamaan membara. Bara yang semakin besar membakar bebatuan dan tanah hingga meleleh. Lelehan semakin bertumpuk, akhirnya menyembur ke permukaan.


Tanah dan bebatuan yang melelah menyebabkan lubang di permukaan gunung. Lubang tersebut semakin hari semakin meluas sehingga membentuk kawah. Kadang-kadang lelehan dari dalam gunung menyembur dasyat. Karena semburan itu, banyak penduduk mengalami kerugian. Inilah bentuk dendam Empu Permadi dan Empu Rama kepada para dewa.


Kawah yang meleleh terus meluas dari waktu ke waktu menjadi sebuah gunung. Dari dalam kawah, kepulan asap terus menyembur keluar. Kadang kadang bersama api pula. Penduduk setempat menamakannya Gunung Merapi.


________________________________________


Tersebutlah kisah seorang abdi dalem Keraton Mataram bernama Ki Sapa Wira. Pekerjaannya memandikan gajah bernama Kyai Dwipangga milik Sultan Agung. Suatu hari, Ki Sapa Wira terkena sakit bisul di bawah ketiak. Tangannya tidak dapat bergerak dengan bebas lagi. Ia pun kesulitan memandikan gajah. Akhirnya, Ki Sapa Wira meminta bantuan kepada adik iparnya yang bernama Ki Kerti untuk memandikan gajah itu.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana kalau Kyai Dwipangga tidak mau berendam?" tanya Ki Kerti.


"Kau tepuk kaki belakangnya, lalu tarik buntutnya," kata Ki Sapa Wira. "Jangan pergi ke tempat lain. Mandikan dia di tempat biasanya. Di sana lebih aman."


Ki Kerti bersama gajah itu berangkat ke sungai. Tidak lupa ia memberi sarapan dua butir kelapa. Konon, jika seekor gajah diberikan kelapa muda, ia akan patuh. Sesampainya di sungai, Ki Kerti kecewa. Sungai tersebut terlihat dangkal dan surut.


"Ah, bagaimana mungkin kau bisa mandi di sini," ujar Ki Kerti kepada Kyai Dwipangga. "Untuk berendam saja, tidak cukup. Kita cari ke hilir saja."


Ki Kerti pun membawa Kyai Dwipangga ke hilir. Di sana airnya lumayan dalam.


"Nah, di sini ternyata airnya lebih bersih dan dalam," kata Ki Kerti lagi, menggerutu. "Mengapa selama ini ki Sapa Wira tidak memandikan gajah di sini saja? Ah, orang aneh!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja banjir bandang datang dari arah hulu. Air meluap menyeret gajah dan Ki Kerti. Lelaki itu pun berteriak-teriak meminta tolong. Namun, usahanya sia-sia. Ia pun hanyut dan tenggelam bersama Kyai Dwipangga ke Laut Selatan. Keduanya tidak dapat terselamatkan.


Sultan Agung berduka. Untuk mengenang peristiwa tersebut, ia menamakan kali itu Kali Gajah Wong karena sudah menghanyutkan seekor gajah dan wong atau orang.


__ADS_2