Kumpulan Dongeng Anak

Kumpulan Dongeng Anak
Si Penyumpit


__ADS_3

Si Penyumpit


Si Penyumpit adalah julukan untuk si pemuda yang pandai menyumpit hewan buruan. Ia juga ahli meramu obat-obatan. Hanya satu orang yang tidak menyukainya, yaitu Pak Raje. Ia adalah kepala desa yang tamak dan kikir. Almarhum ayah si Penyumpit pernah berutang kepada Pak Raje. Ia selalu menuntut si Penyumpit untuk melunasi utang ayahnya.


Suatu hari, Pak Raje menemui si Penyumpit. "Untuk melunasi utang ayahmu, kau harus menjaga sawah milikku dari gangguan babi hutan. Jika ada babi hutan yang merusak sawahku, kau harus membayar ganti rugi," ucap Pak Raje.


"Baiklah, aku akan menjaga sawahmu," sahut si Penyumpit. Malamnya si Penyumpit memulai tugas. Tengah malam, segerombolan babi hutan datang ke sawah Pak Raje. Huuup! Anak sumpit mengenai salah satu babi hutan.


Penasaran, si Penyumpit mengikuti jejak darah yang tercecer. Jejak itu berhenti di sebuah rumah kecil di hutan. Dari jendela, terlihat beberapa perempuan cantik. Salah satu dari mereka terluka di perutnya. Si Penyumpit melihat anak sumpitnya menancap di perut si perempuan cantik. Perempuan-perempuan itu adalah siluman babi hutan. Mereka menjadi babi untuk mencari makan di malam hari. Si Penyumpit merasa bersalah. Ia lalu mencabut anak sumpitnya. Diramu pula dedaunan untuk mengobati lukanya. Luka di perut si perempuan siluman sembuh.


Meskipun si Penyumpit telah menyakitinya, perempuan siluman babi itu tetap berterima kasih. Ia pun memberikan hadiah berupa empat bungkusan berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering.


Ketika dibuka di rumah, ternyata isinya perhiasan emas dan berlian! Si Penyumpit menjual semua perhiasan itu. Lalu, ia melunasi utang ayahnya.


Pak Raje memaksa si Penyumpit untuk menceritakan dari mana ia mendapatkan sejumlah uang. Akhirnya si Penyumpit bercerita tentang pengalamannya. Pak Raje meniru pengalaman si Penyumpit. Ia berharap para siluman babi akan memberinya uang.

__ADS_1


Malamnya Pak Raje siap dengan alat sumpitnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya babi-babi hutan itu datang. Ia melakukan persis seperti yang dilakukan si Penyumpit. Ia mengikuti jejak ceceran darah. Ia berpura-pura hendak menolong korbannya.


Pak Raje tak paham tentang obat. Maka, ketika Pak Raje mencabut anak sumpitnya, perempuan siluman kesakitan. Darah segar mengucur dan tak mau berhenti. Perempuan-perempuan siluman babi itu marah. Mereka berubah menjadi babi dan menyerang Pak Raje. Ia kembali ke rumahnya dengan tubuh penuh luka. Putrinya sangat terkejut melihat keadaan ayahnya. Ia lalu segera meminta tolong kepada si Penyumpit.


"Maafkan sikapku selama ini," kata Pak Raje kepada si Penyumpit. Kau memang pemuda yang baik. Sedikit pun kau tidak mendendam padaku. Untuk membalas budi, aku akan menikahkanmu dengan putriku. Apakah kau bersedia?"


Putri Pak Raje tersipu. Si Penyumpit memandanginya. Sebenarnya sudah lama si Penyumpit menyukai gadis yang baik hati itu. Tetapi, ia tak pernah berani mengatakannya.


Pesan Moral : Kecurangan tak akan membuahkan kebaikan. Percaya pada kemampuan sendiri dan terus berusaha, itulah yang akan membuahkan kemenangan.


Si Kulup dan Legenda Pulau Kapal


Dahulu kala, tinggallah si Kulup dan dan keluarganya yang miskin. Mereka hidup bahagia meskipun menjalani hidup serba sederhana. Suatu hari, ayah si Kulup menemukan sebuah tongkat di antara rumpun bambu. Tongkat itu berhiaskan intan permata dan batu merah delima.


Setibanya di rumah, ia merundingkan tongkat itu dengan istrinya dan si Kulup. Akhirnya mereka sepakat tongkat itu harus dijual. Si Kulup bertugas menjualnya ke negeri seberang. Setelah beberapa hari di negeri seberang, tongkat itu pun dibeli oleh seorang saudagar. Si Kulup tidak segera pulang. Ia memilih tinggal di perantauan menjadi orang yang kaya raya.

__ADS_1


Kehidupan Kulup berubah total. Ia berteman dengan para bangsawan dan saudagar kaya. Ia pun menikah dengan salah seorang anak saudagar terkaya di negeri itu. Bertahun-tahun, ia tak juga kembali ke kampung halamannya.


Suatu hari, mertuanya menyuruh Kulup dan istrinya untuk berdagang ke negeri lain. Kulup pun membeli sebuah kapal besar dan mewah. Iaj uga mempersiapkan anak buah kapal ang tangguh. Tidak lupa, ia membawa hewan untuk bekal makanan selama berlayar.


Ketika tiba di muara Sungai Cecuruk, Kulup teringat akan kampung halamannya. Kapal itu berlabuh di sungai itu. Berita kedatangan si Kulup didengar oleh kedua orang tuanya. Sang ibu pun sibuk menyiapkan makanan kesukaan anaknya. Mereka segera menemui anaknya yang telah bertahun-tahun dirindukan.


Kulup tertegun melihat siapa yang datang. Ia malu mengakui bahwa orang tua yang miskin itu adalah ayah dan ibunya. "Siapa kalian? Cepatlah pergi dari kapalku!" teriaknya.


"Kami adalah ibu dan ayahmu, Nak. Apakah kau sudah tidak mengenali kami lagi? Ibu juga sudah membawakan makanan kesukaanmu," kata ibu si Kulup dengan sedih.


"Makanan apa ini? Aku tidak suka makanan kampung!" teriak si Kulup lagi. "Orang tuaku adalah saudagar kaya. Bukan gembel seperti kalian!"


Mendengar kata-kata kasar dari mulut anaknya, hancurlah hati kedua orang tua itu. Mereka merasa terhina. Harapan untuk melepas rindu hanya tinggal harapan. Anak yang sangat dicintainya telah berubah menjadi anak durhaka. Sang ibu tak kuasa menahan sedih. Ia pun berucap, "Jika saudagar kaya itu benar anakku, biarlah kapal besar itu karam bersamanya!"


Tidak berapa lama, tiba-tiba muncul badai besar dan gelombang laut yang sangat tinggi. Badai itu menelan kapal mewah si Kulup beserta segala isinya. Beberapa hari kemudian, di tempat karamnya kapal milik si Kulup, muncul sebuah pulau yang menyerupai sebuah kapal. Konon, pada waktu-waktu tertentu, di pulau tersebut terdengar suara-suara binatang bawaan si Kulup. Pulau itu dinamakan Pulau Kapal.

__ADS_1


Pesan Moral: Perbuatan durhaka kepada orang tua akan membawa bencana.


__ADS_2