
Jaka bekerja disebuah perusahaan distributor barang, ia menjabat sebagai kepala gudang. Diusia yang terbilang muda, Jaka sungguh beruntung mendapatkan jabatan itu, fasilitas diberikan oleh atasan untuknya mulai dari kendaraan roda dua, gaji yang lumayan, tentunya tempat tinggal.
Atasan Jaka sangat percaya pada Jaka, sehingga atasan meminta Jaka untuk pindah ke cabang perusahaan, tepatnya di kota X.
Jaka sedang sibuk mengecek barang di gudang, ia pun di panggil atasan untuk datang keruangan. Jaka meninggalkan pekerjaannya sejenak, lalu ia menuju keruangan atasan yang berada di lantai 2.
Sesampai didepan ruangan Jaka mengetuk pintu. Tok...tok....
"Masuk." Seru atasan dari dalam ruangan.
Jaka membuka pintu langsung bergegas masuk, tak lupa ia menutup kembali pintunya, kemudian ia berdiri dihadapan atasan.
"Duduk saja Jaka." Atasan menyuruhnya duduk.
"Terimakasih pak." Jaka duduk.
__ADS_1
"Saya memanggil kamu kesini, untuk meminta agar kamu hari ini juga berangkat ke kota X, disana sangat memerlukan bantuan, untuk pengecekan barang. Bagaimana apakah mau bersedia jika saya tempatkan disana ?" Atasan tanpa basa-basi.
"Maaf pak, jika saya boleh bertanya. Apakah disana tidak ada yang bisa melakukan pengecekan barang ?" Tanya Jaka.
"Ada, tapi dia tidak jujur. Saya merugi dibuatnya, saya memerintahkan untuk memecatnya. Jadi saya ingin kamu yang menggantikan, kamu tenang saja, fasilitas yang ada disana sama seperti fasilitas yang kamu terima disini."
"Lalu bagaimana pak pengecekan barang yang disini jika saya pergi kesana ?"
"Kamu tidak perlu khawatir, saya sudah menemukan seseorang yang pas. Sekarang intinya, kamu bersedia jika saya pindahkan kesana ?" Tanya atasan memastikan.
"Terima kasih Jaka. Ini tiket pesawat kamu, jadwal keberangkatannya pukul 1 siang ini. Kamu boleh pulang sekarang untuk bersiap-siap, waktu kamu masih ada 3 jam lagi." Atasan memberikan sebuah tiket pesawat.
"Iya pak, kalau begitu saya permisi pulang. Selamat pagi pak." Jaka beranjak dari kursi, sembari mengambil tiket diatas meja, kemudian ia meninggalkan ruangan.
Tanpa mau berlama-lama, Jaka pun pulang. Setiba dirumah, Jaka mulai mengemas pakaiannya dan juga barang-barang pribadi lainnya. Tidak banyak barang bawaan Jaka, karena memang ia tinggal di mess karyawan.
__ADS_1
Selesai berkemas, ia istirahat sambil meminum secangkir kopi, dan Jaka tak lupa untuk menghubungi kedua orangtuanya yang ada desa, sekedar mengabarkan kalau dia akan pindah kerja ke kota X.
Pembicaraan Jaka dan kedua orangtuanya via telpon berlangsung singkat saja, usai memberi kabar kepada kedua orangtuanya, Jaka menghabiskan secangkir kopi yang tinggal setengah.
Diliriknya jam di dinding, waktu menunjukkan sudah pukul 11.30 siang.
"30 menit lagi aku berangkat, agh..padahal aku udah nyaman banget disini, tapi aku gak mungkin nolak perintah dari pak bos. Moga aja aku betah di tempat baru nanti." Jaka sebenarnya berat hati untuk meninggalkan tempat tinggalnya saat ini, ia sudah merasa sangat nyaman tinggal disini.
Sembari menunggu waktu, Jaka bermain game di ponselnya. Dirasanya sudah pukul 12.00 pas Jaka menenteng tas bawaannya. Kunci pintu rumah ia titipkan ke tetangga sebelah, sementara sepeda motor ia masukkan juga kedalam beserta kuncinya tergantung di motor. Ya, sore nanti akan ada yang menepati rumah ini.
Jaka berdiri di tepi jalan, menunggu taksi online yang sudah ia pesan via aplikasi, sekitar 15 menit taksi pun datang. Jaka naik ke taksi.
"Jalan pak." Ucap Jaka sudah duduk dan memakai safety belt.
"Baik pak." Taksi melaju pelan.
__ADS_1