
Hingga sore hari Jaka belum tersadar dari pingsannya. Dokter klinik heran dengan kondisi Jaka, ia telah memeriksa keseluruhan namun tidak ada tanda penyakit serius yang di derita oleh Jaka.
Dokter menghubungi Satpam, untuk datang ke kliniknya. Tak berselang lama satpam datang bersama dengan pak Ferdi.
Pak Ferdi yang penasaran langsung bertanya pada dokter mengenai kondisi Jaka.
"Dok, karyawan saya ini sakit apa ya ? pingsan tidak kunjung sadarkan diri ? apa sebaiknya dirujuk saja kerumah sakit dok ? agar bisa lebih mengetahui lebih dalam tentang penyakit yang di derita karyawan saya saat ini." Pak Ferdi usul untuk membawa Jaka kerumah sakit sebab alat-alat medis diklinik terbatas.
"Saya sudah memeriksa kondisi pasien pak, memang tidak ada saya temukan penyakit serius yang diderita oleh pasien, saya juga heran kenapa pasien belum sadarkan diri hingga sampai saat ini. Saya sudah melakukan tindakan, dengan memasukkan obat lewat selang infus namun tidak ada perkembangan." Dokter menjelaskan.
"Jadi menurut dokter karyawan saya harus bagaimana ? saya juga bingung melihat kondisi karyawan saya seperti ini."
"Begini saja pak, pasien ini saya observasi dulu disini sampai besok pagi, jika tidak ada perkembangan dari tindakan saya, maka besok saya akan langsung membawa pasien kerumah sakit."
"Baiklah dok, jika memang harus rawat inap dulu disini, kalau begitu saya permisi pulang ya dok. Saya percaya pada dokter pasti lakukan yang terbaik untuk kesembuhan karyawan saya, soalnya dia baru saja bekerja sudah seperti ini. Saya permisi dok." Pak Ferdi iba dengan kondisi Jaka.
__ADS_1
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak." Ucap dokter.
Pak Ferdi meninggalkan klinik tanpa ada berbicara pada satpam, namun satpam memaklumi mungkin bos nya ini bingung melihat kondisi Jaka. Sekarang tinggallah satpam dengan dokter. Satpam juga dilanda bingung jikalau sampai ia harus menemani Jaka di klinik ini.
"Maaf dok, pasiennya kan dirawat inap nah harus ada yang nemenin gak dok ?"
"Tidak usah pak, biar saya dan perawat saya saja, ini tanggung jawab saya. Bapak silahkan pulang kalau memang ingin pulang."
"Oh gitu ya dok, saya kirain harus ditemenin. Makasih kalau gitu dok."
Disela perbincangan dokter dan satpam. Ibu kantin memanggil satpam dari luar. Satpam menyadari kalau ibu kantin berdiri diluar klinik memanggil dirinya, karena pintu klinik itu adalah kaca. "Bu, saya permisi keluar sebentar."
"Silahkan pak."
Satpam bergegas keluar dan menemui ibu kantin, setiba diluar satpam langsung bertanya. "Ada apa Bu panggil-panggil saya ?"
__ADS_1
"Gimana pak udah sadar ?" Bu kantin balik nanya.
"Belum Bu, dokternya aja bingung, pak Jaka sakit apa, soalnya diperiksa gak ada sakit yang serius."
"Pak, menurut saya mas Jaka itu gak sakit medis tapi kesambet. Buktinya kata dokter gak ada sakitnya kan ? nah saya makin yakin jadinya kalau mas Jaka itu pasti kesambet, bapak inget waktu yang sebelum mas ini nempatin rumah itu, pernah bilang kalau rumahnya itu ada hantunya. Bisa aja bener kan pak dugaan saya." Terang Bu kantin, begitu yakin.
"Ach ibu ini jangan ngomong yang aneh-aneh, masa udah dewasa bisa kesambet hantu, yang ada setau saya kalau anak kecil baru bisa kesambet, Bu." Satpam belum percaya.
"Ish bapak ini dibilangin kok masih gak percaya. Kita lihat aja nanti pasti mas itu gak sadar-sadar, kalau gak cepetan dibawa ke orang pinter ( dukun )."
"Bawa ke dukun maksudnya? duh ibu, mas Jaka itu sakit jadi perlu ditangani dokter bukan dukun atau orang pinter, masih percaya dukun aja ibu ini, itu syirik Bu namanya, berdosa, ibu mau nanggung dosanya, kalau saya sih gak mau, dosa saya aja banyak." Satpam menolak mentah-mentah saran Bu kantin.
"Yaudah kalau gak percaya sama ucapan saya, buktikan aja nanti pasti ucapan saya bener. Yang penting usaha pak, usaha, kok jadi dihubungkan sama syirik lah, dosalah, bapak ini gak nyambung ihh. Kalau gitu saya permisi, capek jelasin sama orang yang gak paham." Bu kantin acuh dan berjalan meninggalkan satpam.
Melihat tingkah Bu kantin, satpam hanya menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas pelan.
__ADS_1