
Jaka mulai mengecek semua barang yang akan keluar. Kemudian berlanjut ke stok barang yang ada. Pengantaran dan stok yang ada, sesuai. Selesai memastikan semuanya, Jaka ingin beristirahat untuk sekedar meminum segelas es teh manis dingin, namun ia belum tau letak kantin yang ada disini. Jaka terlihat celingukan, kemudian ada seorang karyawan wanita menghampiri dan bertanya.
"Maaf pak, saya perhatikan sepertinya bapak sedang mencari sesuatu?"
"Iya, saya sedang mencari kantin. Apa disini ada kantinnya ?"
"Ada pak, bapak jalan arah ke belakang aja nah nanti disitu ada kantin."
"Makasih."
"Sama-sama pak."
Si karyawan wanita ini memandangi Jaka yang sudah berjalan kearah belakang, seperti yang ia beri tahu, ia seakan terpesona dengan paras wajah cukup tampan Jaka.
Masih muda, lumayan ganteng, kepala gudang lagi. Pengen jadi pacarnya deh. Benaknya berandai-andai.
Khayalannya segera ia tepis cepat-cepat, menyadarkan diri. "Issshh astaga ada-ada aja isi pikiranku. Lanjut kerja deh."
__ADS_1
Meninggalkan si karyawan wanita yang terpesona, sementara Jaka telah sampai di kantin. Ia pun memesan segelas es teh manis. "Bu, es teh manisnya satu ya."
"Iya, silahkan duduk mas. Tunggu sebentar biar saya buatkan."
Jaka duduk menunggu sembari memainkan ponsel. Tak lama es teh manis pesanannya datang. "Ini mas es teh nya." Si ibu meletakkan di atas meja.
"Makasih Bu."
"Mas ini karyawan baru ya ?" Tanya si ibu karena baru pertama kali melihat Jaka.
"Iya, saya karyawan baru."
"Bener bu, tapi saya memang tidak memakai seragam seperti mereka. Pakaian saya ya seperti ini."
"Emang mas kerja bagian apa disini ?" Si ibu kantin makin kepo.
"Saya kepala gudang Bu."
__ADS_1
"Ohhh masih muda ya, beruntung bener mas nya. Saya kira tadi karyawan biasa."
Jaka hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan si ibu kantin.
"Mas saya boleh tanya sesuatu?" Suara si ibu setengah berbisik.
"Boleh Bu, tanya apa ya ?" Jaka balik bertanya heran.
"Setau saya kalau kepala gudang pasti nempati rumah yang diberikan dari perusahaan kan mas ?"
"Iya ( angguk Jaka pelan),kenapa emangnya Bu ?" Jaka makin heran.
"Ini mas, saya pernah dengar kalau kepala gudang yang sebelumnya itu gak betah tinggal disitu, dia malah ngontrak di deket sini. Ada yang bilang kalau rumah itu ada hantunya lho mas."
"Hantu ? ya ampun Bu, zaman sekarang masih aja percaya sama gituan. Saya tinggal disitu aman-aman aja kok Bu, gak ada yang aneh-aneh. Malah saya bersyukur bisa tinggal dirumah itu." Jaka tidak mempercayai ucapan si ibu kantin.
"Bagus kalau gitu mas, mungkin emang dasar dia nya penakut kali ya mas. Yaudah mas maaf ya, saya jadi banyak omong ini ganggu mas minum aja, cerita yang bukan-bukan. Lanjut minumnya mas, saya kedalem dulu." Si ibu jadi kikuk.
__ADS_1
"Gak apa-apa Bu, saya santai kok." Jaka gak mau ambil pusing dengan cerita yang disampaikan oleh si ibu kantin mengenai adanya hantu dirumah yang ia tinggalin sekarang.
Jaka yang tadinya ingin bersantai sejenak sambil sedikit demi sedikit meminum es teh manis dingin, ia urungkan. Ia pun segera menghabiskan minumannya tanpa sisa hanya tersisa es batu digelas. Ia memanggil si ibu kantin untuk membayar. Si ibu kantin datang dan menyebutkan harga segela es teh manisnya, lalu Jaka membayarnya dengan uang pas, seusai membayar Jaka pun meninggalkan kantin.