Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 11


__ADS_3

Pukul 22.00 tepat Jaka belum bisa tidur sebab ia memikirkan wanita yang malam itu ia jumpai sewaktu membuka jendela kamar.


"Malam ini ada gak ya cewek itu duduk di bawah pohon lagi, mendadak pengen ketemu aku. Apa aku buka jendela aja ya ? kali aja tuh cewek ada."


Jaka beranjak dari ranjang, lalu membuka jendela kamar. Namun wanita itu tidak ada di sana.


"Gak ada, mungkin dia-nya tidur, masa iya tiap malam duduk sendirian mulu diluar, yang ada masuk angin. Tutup lagi aja jendelanya, anggap aja aku belum beruntung." Jaka akan menutup jendela kamarnya.


Baru setengah tertutup, dari samping jendela terdengar suara wanita yang ia sudah tunggu kehadirannya.


"Abang, nungguin saya ya."


Spontan Jaka membuka jendela kamarnya lagi, dan benar saja si wanita yang ia tunggu telah ada dihadapannya sekarang.


"Eh iya, tau aja." Jaka salting.


"Sini donk bang duduk temenin saya." Si wanita mengajak Jaka untuk keluar rumah.


"Duh, bukannya saya gak mau tapi masalahnya ini udah malem, saya takut kepergok warga, berduaan lagi, apalagi saya orang baru disini. Gimana kalau besok sore aja saya berkunjung kerumah mbaknya ? itupun kalau mbaknya ngizinin saya untuk berkunjung."


"Saya mau ditemeninnya malam ini, abisnya saya bosan duduk sendirian." Ucap wanita sedikit memaksa.

__ADS_1


"Saya mau aja mbak, tapi saya belum siap kalau digrebek warga." Jaka bingung.


"Tidak akan ada yang melihat bang, jangan takut."


Jaka bingung harus keluar menemui si wanita ini atau tidak, tapi hatinya tidak bisa dibohongi, ia sangat ingin keluar rumah dan segera menemui si wanita.


Setelah perbebatan dalam dirinya, akhirnya Jaka bersedia keluar rumah.


"Baiklah, saya akan keluar sekarang. Tunggu sebentar, saya mau ambil jaket dulu, takut kedinginannya."


Si wanita mengangguk tersenyum. "Saya duduk di bawah pohon itu." Tunjuk si wanita.


"Iya saya tau, mbaknya duduk duluan aja disitu bentar lagi saya kesitu."


Jaka sudah sangat dekat dengan si wanita yang duduk membelakangi. Jaka berusaha tenang, ia mengatur nafasnya agar ia tidak terlihat canggung.


"Halo.." Sapa Jaka.


"Sini duduk bang."


Jaka duduk bersebelahan dengan si wanita, irama jantungnya berdetak tak beraturan, entah kenapa Jaka bisa-bisanya merasa begitu gugup, padahal ia tidak pernah se gugup ini jikalau bertemu dengan wanita diluar sana, kali ini suasananya berbeda.

__ADS_1


"Abang tenang, jangan gugup." Si wanita dapat membaca sikap gugup Jaka.


"Iya nih mbak, saya antara takut di grebek warga, tapi saya pengen ketemu langsung begini sama mbak."


"Jangan panggil mbak donk bang, panggil nama aja biar lebih akrab."


"Saya belum tau nama mbaknya."


"Tuh kan mbak lagi, nama saya Kuntiyana, Abang bisa panggil Kunti atau Ana."


"Kunti~yana ?" Tanya Jaka terbata.


"Iya Abang, kenapa ? nama saya aneh ya, pasti Abang kira saya hantu kan ?" Tanya balik.


"Ach gak kok, namanya juga nama, ya bebas, gak ada yang salah. Oh ya nama saya Jaka. Salam kenal Ana, saya panggil Ana aja ya lebih pas aja."


"Salam kenal Abang Jaka."


"Panggil Jaka aja, kan biar akrab, lagian saya masih muda."


"Salam kenal Jaka." Kuntiyana mengulang salam perkenalan.

__ADS_1


"Sama-sama Ana."


Mereka berdua sehabis saling berkenalan, tiada banyak bicara diantara mereka. Kuntiyana hanya bersenandung sambil menggoyangkan kedua kakinya. Jujur saat Kuntiyana bersenandung begitu, Jaka merasakan tengkuknya merinding namun ia tidak menaruh curiga, ia hanya mengira jika angin malam lah yang membuat tengkuknya terasa merinding.


__ADS_2