
Seharian sudah Jaka disibukkan dengan pekerjaannya, tepat pukul 17.30 ia bersiap untuk pulang. Ia berjalan ke pos satpam untuk meminta kunci motor. Dilihatnya satpam sedang berdiri di depan pos.
"Pak, saya ingin mengambil kunci motor. Kata pak Ferdi, kunci motor ada sama bapak."
"Iya pak, sebentar saya ambilkan." Satpam masuk ke pos untuk mengambil kunci motor yang ia gantung sebelah tv. "Ini kunci motornya pak." Satpam memberikan kunci motornya.
"Kalau saya boleh tau kondisi motornya gimana ya pak ?"
"Kondisinya bagus pak, tidak ada kendala. Mesin sehat. Bapak bisa cek terlebih dahulu sebelum bapak kendarai, agar bapak lebih yakin dengan kondisi motornya." Saran satpam.
"Bapak bisa temeni saya untuk mengecek kondisi motornya?"
__ADS_1
"Bisa pak."
Jaka dan satpam menuju ke gudang bersama guna mengecek kondisi mesin motor. Satpam menekan starter motor dan mesin motor menyala.
"Sudah menyala pak, kalau bapak masih belum yakin silahkan bapak bawa putar-putar sekitar sini dulu."
"Tidak perlu pak, saya yakin kondisi motornya masih bagus. Terimakasih banyak ya pak, kalau begitu saya pamit pulang duluan."
Balas Jaka tersenyum, sambil melajukan motornya perlahan meninggalkan area gudang.
Belum terlalu jauh meninggalkan tempat kerja, Jaka sudah terjebak macet di persimpangan. Perutnya sudah terasa lapar, namun ia tidak berniat untuk menghentikan motornya ke sebuah warung makan, ia malah ingin secepatnya tiba dirumah, sebab ia yakin kalau Bu Ijah pasti mengantarkan makanan untuknya lagi.
__ADS_1
Jaka sudah terbebas dari jalanan macet, kali ini suasana jalanan sedikit lengang. Tanpa terasa ia sudah akan sampai, ia berbelok masuk ke gang rumahnya, tepat adzan Maghrib berkumandang ia sudah sampai di depan rumah. Jaka langsung memasukkan motornya kedalam rumah karena ia tidak berniat untuk pergi keluar lagi.
Selang tak berlama, ada yang mengetuk pintu depan. "Siapa ya ? masih Maghrib gini ada yang ketuk pintu, palingan Bu Ijah kali ya. Pasti bawa makanan, rezeki nomplok lagi nih. Sering-sering aja anter makanan gini, mayan kan bisa hemat pengeluaran." Dugaan Jaka pasti Bu Ijah.
Jaka membuka pintu, begitu dibuka tidak ada seorangpun di depan rumahnya. Pandangannya menyusuri sekitar, tetap tidak ia jumpai siapapun. "Perasaan tadi ada yang ngetuk pintu ? tapi kok gak ada orang, pasti ada orang iseng ini." Dugaannya meleset, bukan Bu Ijah yang datang mengetuk pintu.
Jaka ingin menutup pintunya namun kedua matanya melihat kearah bawah, dan ada bungkusan plastik hitam tergeletak, sama persis seperti pagi tadi.
"Bungkusan ini lagi ? siapa yang antar bungkusan ini ya ? apa isinya makanan juga ? coba buka aja dah, biar tau isinya apaan." Raut wajah Jaka bingung dengan adanya bungkusan plastik hitam ini untuk kedua kalinya, tapi dia belum tau sama sekali siapa yang telah mengantarkan bungkusan ini ke rumahnya.
Jaka membuka bungkusan ini, dan benar saja jikalau isinya sama persis seperti pagi tadi yaitu nasi putih hangat+ ayam goreng.
__ADS_1
"Tuhkan bener, sama persis kayak yang tadi pagi menunya. Tapi kira-kira siapa ya yang baik hati nganterin ni bungkusan makanan ? masih anget pula. Apa aku kerumah Bu Ijah aja ya ? ach..udahlah besok aja tanyanya, mending sekarang aku masuk kedalam terus buruan abis ni makanan, mubazirkan kalau gak di makan, tau aja jam-jam orang lagi laper. Rezeki emang gak akan lari, pasti dateng sendiri kalau udah rezeki." Keraguan Jaka segera ia buang, ia ganti dengan perasaan senang karena mendapatkan makanan gratis lagi.