
Di dalam mimpi ini Kuntiyana menghidangkan ayam dan nasi putih, dengan memakai daun pisang bukan piring, Kuntiyana tersenyum kerah Jaka dan menyuruh Jaka untuk memakannya.
Jaka hanya mengangguk mengiyakan, pandangannya kosong menatap wajah Kuntiyana yang putih pucat, rambut panjang tergerai. Jaka seperti orang yang telah terhipnotis, padahal awal sebelum memasuki rumah ini Jaka masih sadar namun ia tidak dapat berbicara, mimpi ini memang mimpi Jaka tetapi mimpi ini sudah dalam penguasaan Kuntiyana sepenuhnya jadilah Jaka tidak bisa melakukan apapun di dalam mimpi.
Jaka menuruti perkataan Kuntiyana, dia memakan hidangan ini, hidangan yang sama persis ada di teras rumah Jaka yaitu ayam+nasi putih dibungkus daun pisang.
Jaka memakan dengan lahap, layaknya orang yang kelaparan, tiada sisa sebutir nasi pun tersisa. Kuntiyana tersenyum lebar. Ia pun mengusap wajah Jaka lembut, sembari berbisik ke telinga Jaka.
"Kuntiyana sayang Jaka. Jaka sayang Kuntiyana ?"
__ADS_1
Jawab Jaka dengan anggukan.
Kuntiyana kemudian berkata lagi. "Jaka, kalau sayang Kuntiyana, Jaka disini jangan pulang, temenin Kuntiyana ya."
"Jaka sayang Kuntiyana, Jaka akan tinggal bersama Kuntiyana." Balas Jaka tak sadar dengan ucapannya, ia benar-benar terhipnotis.
Jadilah Jaka menetap dialam mimpi bersama Kuntiyana, sebab Jaka dibawah pengaruh kekuatan gaib Kuntiyana, mengucapkan ikrar bersedia untuk tinggal, itu sudah membuktikan Jaka telah menjadi milik Kuntiyana seutuhnya tanpa bisa kembali lagi kealam dunia nyata
Sementara di tempat yang berbeda yaitu di kediaman Bu Ijah, Bu Ijah entah kenapa perasaannya tidak enak, ia kepikiran dengan keadaan Jaka setelah pulang kerumah itu.
__ADS_1
"Nak Jaka baru saja pulang, tapi kenapa pikiran saya ke nak Jaka terus ya, ada rasa khawatir, apa sebaiknya saya kesana saja, guna memastikan keadaan nak Jaka ? tapi kalau saya kesana sendiri, saya takut kalau Kunti itu akan muncul, bisa saja Kunti itu menyerang saya." Bu Ijah cemas dengan keadaan Jaka namun ia merasa takut. Padahal sehari-harinya dia lah yang membersikan rumah ini seorang diri sebelum Jaka tinggal disini alias masih kosong setelah ditinggal oleh pekerja sebelumnya. Tidak ada rasa takut ia rasakan beda setelah Jaka tinggal dan Jaka mengalami kondisi seperti ini, sehingga Bu Ijah pun yang awalnya biasa saja menjadi takut.
Bu Ijah masih dalam kebimbangan, memberanikan diri untuk pergi kerumah Jaka seorang diri, tak lupa sebelum melangkah Bu Ijah membaca doa perlindungan diri terdiri dari, Al-fatihah, Al-Ikhlas, Al-falaq dan juga An-Nas. Usai membaca masing-masing 1kali, Bu Ijah pun melangkah menuju kerumah Jaka, dengan penuh keyakinan, tentunya hatinya selalu meminta perlindungan dari Allah SWT.
Benar saja begitu sampai di depan rumah Jaka, suasana rumah Jaka terkesan redup tak mengenakan, Bu Ijah semakin yakin kalau Jaka pasti sedang tidak baik-baik saja.
Bu Ijah mengintip dari jendela, di dalam rumah Jaka seperti ada kabut menyelimuti.
"Aneh, baru saja nak Jaka di ruqyah oleh pak ustadz dan Kunti itu sudah keluar dari tubuh nak Jaka, kenapa sepertinya gangguan Kunti itu belum menjauh dari nak Jaka ? Saya harus segera masuk, tetapi tidak mungkin jika saya sendiri, saya harus pergi kerumah pak ustadz sekarang, semoga saja pak ustadz ada dirumah." Bu Ijah akan memanggil pak ustadz lagi.
__ADS_1